SURABAYA, jelajahpenanews . Com – 14 September 2026 – Aktivis sekaligus kontributor, Eko Gagak, menyoroti menguatnya mentalitas ‘golek penak e dewe’ (mencari enaknya sendiri) di berbagai lini profesi. Fenomena sosial tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi runtuhnya kepercayaan publik dan tatanan hidup bermasyarakat di Indonesia.
Menurut Eko Gagak, pergeseran motif kerja yang berorientasi semata-mata pada keuntungan pribadi atau kelompok telah mengorbankan prinsip dasar kode etik. Sifat egois, oportunis, dan penyalahgunaan wewenang ditengarai telah menjalar ke berbagai sektor, mulai dari pembuat kebijakan hingga pelayanan publik.
Dalam analisisnya, Eko Gagak memetakan potret mentalitas pragmatis tersebut ke dalam beberapa sektor utama, di antaranya:
Media Massa: Maraknya praktik wartawan dan media yang mengejar traffic melalui berita sensasional, pemerasan berkedok investigasi demi “uang damai”, hingga tergadaikannya independensi demi pemilik modal.
LSM dan Politik: Munculnya oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi kemasyarakatan (ormas) abal-abal yang memanfaatkan isu aksi demi proposal dana, serta politisi yang berpindah partai demi karier personal dan hanya mendekati rakyat menjelang pemilu.
Hukum dan Pelayanan Publik: Oknum penegak hukum yang menjadikan pasal sebagai komoditas transaksional, pendidik yang menuntut tunjangan tanpa dedikasi sepadan, hingga tenaga kesehatan yang mendahulukan pasien berduit ketimbang pasien darurat jaminan sosial.
Ekonomi dan Tenaga Kerja: Pedagang yang memanipulasi timbangan atau menimbun barang, serta pekerja yang bekerja asal-asalan namun menuntut kenaikan gaji tinggi.
Eko Gagak memaparkan bahwa fenomena ini dipicu oleh desakan ekonomi, menguatnya individualisme ekstrem, serta prinsip transaksional yang menggerus ketulusan. Jika dibiarkan, pudarnya nilai kebersamaan dan gotong royong akan berdampak buruk pada masyarakat tingkat bawah. Dampak nyata yang terlihat meliputi meluasnya sikap acuh tak acuh antarwarga hingga menajamnya kesenjangan sosial.
“Fenomena golek penak e dewe adalah pengingat bahwa krisis moralitas bukanlah soal siapa dan apa jabatan kita, melainkan hilangnya kejujuran saat dihadapkan pada kenyamanan pribadi. Ketika idealisme kalah oleh pragmatisme materi, hancurnya kepercayaan publik adalah harga mahal yang harus dibayar bersama,” tegas Eko Gagak.
Kritik terhadap realitas sosial ini kerap dituangkan Eko Gagak melalui karya-karya opininya. Dalam tulisan-tulisannya, ia menggunakan formula empat karakter utama, yaitu tolol, tego, gombal, dan dobbol.
Kombinasi “tolol” dan “dobbol” digunakannya untuk menelanjangi oknum yang membodohi publik. Sementara karakter “tego” dan “gombal” menjadi instrumen untuk membongkar janji manis sekaligus menyoroti mentalitas ketidakpedulian. Gaya penulisan Eko Gagak yang menggunakan dialek khas sehari-hari membuat pesan moral yang berat dapat disampaikan secara langsung tanpa kesan menggurui. Melalui esai kritisnya, Eko Gagak berharap tulisan tanpa pamrih tersebut dapat menjadi pengingat moral bagi publik agar tidak mengorbankan kepentingan umum demi kenyamanan sesaat. (Red)








