AS. Jelajahpenanews. Com – Malam 11 September 2001 belum benar-benar selesai ketika Amerika mulai memasuki dunia sama sekali berbeda. Seorang pejabat membuka komputer dan mengetik satu kalimat pendek, “Semuanya sudah berubah.” Kalimat itu sederhana. Dampaknya luar biasa.
Sehari sebelumnya, Amerika masih merasa sebagai negara adidaya sulit disentuh. Setelah menara runtuh, cara pandang itu berubah. Musuh tidak lagi harus sebuah negara dengan tank, pesawat tempur, atau tentara berseragam. Musuh bisa berupa jaringan yang bersembunyi jauh dari pusat kekuasaan.
CIA sebenarnya sudah mempunyai jaringan intelijen dan rencana memburu al-Qaeda. Pada akhir pemerintahan Bill Clinton, disusun apa yang disebut blue sky plan, rencana yang tidak dibatasi sumber daya maupun kewenangan. Setelah 11 September, rencana itu tidak lagi tinggal di atas kertas.
Pada Sabtu, 15 September, sebuah map tebal berisi rencana menyerang al-Qaeda di puluhan negara disampaikan kepada Presiden George W. Bush. Presiden memberikan kewenangan untuk menjalankannya.
CIA kemudian memperoleh sumber daya dan kewenangan jauh lebih besar. Divisi antiterorisme merekrut lebih dari 1.000 orang. Lima belas hari setelah serangan, tim CIA sudah berada di lapangan Afghanistan. Muncul foto agen CIA menunggang kuda di sana.
Amerika bergerak. Cepat. Sangat cepat. Negeri itu memasuki era baru: pembalasan, peperangan, dan patriotisme.
Pidato Bush di hadapan Kongres pada 20 September semakin mengobarkan semangat tersebut. Media pun ikut terseret. Ada tekanan agar pers lebih patriotik dan lebih mendukung pemerintah.
Di sinilah persoalan mulai menjadi rumit. Jurnalis harus tetap kritis dan objektif. Namun bagaimana tetap objektif ketika negeri sendiri baru saja diserang?
Pertanyaan itu akhirnya memiliki konsekuensi besar. Pemerintah kemudian meluncurkan apa yang disebut “perang melawan teror.”
Bulan Oktober, Patriot Act disahkan. Kewenangan lembaga keamanan untuk melakukan pengawasan di dalam Amerika diperluas. Di luar negeri, CIA memperoleh kewenangan luas menangkap dan menahan tersangka teroris, termasuk melalui jaringan penjara rahasia di berbagai negara.
Praktik tersebut kemudian mendapat kritik karena dinilai bertentangan dengan hukum internasional. Sejumlah tahanan mengalami perlakuan yang belakangan dikategorikan sebagai penyiksaan. Ini bukan bab terbaik dalam sejarah Amerika.
Pada 7 Oktober, Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Taliban di Afghanistan, ketika itu melindungi Osama bin Laden. Dua tahun kemudian, perang berikutnya datang. Irak. Alasannya, dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal.
Colin Powell menyampaikan klaim tersebut di PBB. Kemudian terbukti salah. Di titik inilah luka 11 September berubah menjadi persoalan jauh lebih besar.
Patriotisme fanatik, tekanan terhadap media, serta kebohongan digunakan untuk membenarkan perang memicu keraguan. Lalu lahirlah teori-teori konspirasi.
Ketika masyarakat tidak memperoleh pemahaman jelas mengenai fakta, ruang kosong itu akan diisi kecurigaan. Kepercayaan kepada institusi melemah. Padahal demokrasi membutuhkan kepercayaan antara masyarakat dan lembaga negara.
Amerika membutuhkan 10 tahun untuk menemukan dan membunuh Osama bin Laden. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun yang mengubah keseimbangan kekuatan global. Sebagian orang melihat dunia menjadi lebih aman. Sebagian lainnya melihat dunia justru semakin keras.
Amerika sebelumnya terbuka dan transparan menjadi jauh lebih ketat karena merasa dirinya sebagai sasaran empuk. Intervensi ke negara lain juga semakin mudah dilakukan. Pertanyaannya kemudian menggantung seperti asap di atas reruntuhan, apakah perang triliunan dolar melawan teror benar-benar berhasil?
Siapa yang menang? Lihat Suriah. Sahel. Sudan. Libya. Yaman. Wilayah-wilayah itu mengalami perpecahan, perang saudara, dan pemberontakan. Salah satu mantan pejabat mengatakan, dirinya meninggalkan pemerintahan karena merasa Amerika justru menciptakan lebih banyak teroris dari yang dibunuh atau ditangkap.
Lalu Taliban kembali. Ironinya menjadi semakin pahit. Musuh dahulu hendak dihancurkan kembali menjadi masalah bagi Amerika. Namun 11 September bukan hanya tentang pemerintah, CIA, Pentagon, perang, atau geopolitik. Ada warisan lain jauh lebih manusiawi.
New York berubah. Kota yang sering dianggap keras ternyata menunjukkan wajah berbeda ketika tragedi datang. Warganya saling membantu. Mereka menjadi lebih peduli, lebih ramah, lebih memperhatikan satu sama lain.
Tragedi menyatukan mereka. Persahabatan dibangun di World Trade Center menjadi semakin dalam justru setelah tempat itu tidak ada lagi. Lalu siapa sebenarnya pahlawan 11 September? Bukan hanya tentara. Bukan pemimpin negara. Bukan agen rahasia. Pahlawannya adalah warga biasa.
Penumpang pesawat yang berani melawan pembajak. Petugas pemadam kebakaran dan polisi yang naik ke gedung ketika orang lain berusaha keluar. Mereka tahu gedung itu mungkin runtuh. Mereka tetap masuk. Sebagian tidak pernah kembali.
Itulah warisan paling dalam dari 11 September. Bukan hanya gedung roboh. Bukan hanya perang dimulai. Bukan hanya kebijakan keamanan berubah. Ada manusia-manusia biasa yang, dalam situasi luar biasa, memilih melakukan hal yang mereka yakini benar.
Hampir 3.000 orang kehilangan nyawa pada hari itu. Puluhan tahun mungkin berlalu. Menara bisa dibangun kembali. Kota bisa berubah. Politik bisa berganti. Presiden datang dan pergi. Perang bisa dimulai lalu berakhir.
Namun kisah mereka tidak boleh ikut runtuh. Sebab ketika generasi baru mendengar kisah 11 September, seharusnya diwariskan bukan hanya rasa takut. Wariskan keberanian. Karena pada hari ketika dunia seperti kehilangan arah, masih ada manusia memilih menyelamatkan manusia lain.
Itulah penutup paling manusiawi dari 11 September 2001. Di tengah kehancuran, manusia masih bisa memilih menjadi pahlawan. Namun, makin ke sini, semakin banyak lahir teori konspirasi. Kadang ada benarnya, kadang ada juga merampotnye, kata budak Pontianak. Semoga kejadian serupa tak menimpa negeri mana pun. Peace. Tamat
Semoga suatu saat nanti bisa ngopi di Warkop NYC, di Hell’s Kitchen, Manhattan.
Part 1: https://www.facebook.com/share/p/1H2T4U1HDq/
Part 2: https://www.facebook.com/share/p/1JcuxVSEeM/
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani








