AS. JELAJAHPENANEWS. COM – Bocoran dokumen rahasia Pentagon yang baru aja di-spill oleh The Washington Post mengungkap fakta mengejutkan: para petinggi militer AS udah kasih peringatan keras ke Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Intinya, maksain operasi militer di level yang sekarang itu udah makin bahaya.
Ada lebih dari 50.000 pasukan AS yang udah berbulan-bulan standby dalam status siaga tinggi di Timur Tengah. Gesekan di internal Pentagon akhirnya pecah dan masuk ke proses formal. Para komandan dari U.S. European Command (EUCOM), Pacific Command (PACOM), Southern Command (SOUTHCOM), ditambah Kepala Operasi Angkatan Laut, kompak ngajuin “non-concur”. Artinya, mereka secara resmi mengajukan pernyataan menolak perintah perpanjangan tugas pasukan di Timur Tengah.
Seorang sumber dalam ngerangkum keluhan para jenderal soal operasi enam bulan di Iran ini dengan satu kalimat nyesek: “Terlalu berlebihan, dan terlalu lama dan melelahkan.”
Peringatan dari Angkatan Laut juga nggak main-main. Laksamana Daryl Caudle terang-terangan bilang ke Hegseth kalau Angkatan Laut udah nggak sanggup nahan beban untuk support konflik Iran bila tak ada kejelasan kapan kelarnya.
Saat ini, cuma seperempat dari total armada kapal perusak (destroyer) yang bener-bener siap digunakan. Kalau dipaksa terus, jadwal perawatan kapal bakal berantakan. Ujung-ujungnya, AS bakal keteteran kalau tiba-tiba pecah perang di kawasan lain.
EUCOM dan SOUTHCOM mengakui bahwa jika terus-terusan ngirim kapal dan pesawat intai ke CENTCOM (Timur Tengah), kemampuan pertahanan di markas sendiri (tanah air) malah jadi kendor. Laksamana Samuel Paparo, komandan pasukan AS di Pasifik, juga menolak keras pemindahan aset lebih lanjut. Parahnya lagi, satu-satunya kapal induk khusus Pasifik milik AS sampai harus ditarik ke Timur Tengah untuk mengganti kapal induk lain yang udah bertugas lebih dari 300 hari.
Rotasi prajurit juga molor gila-gilaan dan stok senjata makin tiris. Kondisi di lapangan sekarang:
- Masa tugas pasukan 82nd Airborne diperpanjang sampai setahun penuh.
- Beberapa unit Angkatan Udara diprediksi bakal tertahan di Timur Tengah sampai 2027.
- Stok rudal Patriot udah menipis, rudal pencegat THAAD habis terpakai, stok Tomahawk berkurang drastis, dan sekitar 25% armada drone Reaper milik Pentagon udah hancur.
- Biaya akomodasi (makanan.logistik) untuk 50.000 pasukan kira-kira $1,35–1,45 juta per hari, hanya untuk bahan makanan saja, belum yang lain. Ini membuat biaya perang makin membengkak.
Sebenarnya sebelum perang ini pecah, Jenderal Dan Caine kabarnya udah pernah nge-wanti-wanti Gedung Putih kalau AS kekurangan amunisi dan dukungan sekutu buat jalanin kampanye militer jangka panjang. Enam bulan kemudian, para petinggi militer AS benar-benar mengalami apa yang diperkirakan oleh Jenderal Caine.
Di tengah krisis internal ini, pasukan AS kemarin menyerang Pulau Larak Iran. Tadi malam, Iran membalas gempuran AS dengan menembakkan rudal balistik ke dua pangkalan AS di Yordania. Pasukan AS terpaksa menembakkan Patriot-nya di Yordania. Sebanyak 96 hingga 160 interceptor PAC-3 MSE, senilai $380–640 juta ditembakkan untuk melindungi dua pangkalan AS tersebut. Iran juga berjanji akan meningkatkan eskalasi. Analis khawatir bahwa perang akan pecah lagi dalam waktu dekat.
Kermudian, Sekretaris Angkatan Darat AS Daniel P. Driscoll tiba-tiba mengundurkan diri dari posisinya di Pentagon, setelah berbulan-bulan sering bertengkar dengan Pete Hegseth. Kepemimpinan Angkatan Darat kini kosong. Hegseth sudah memecat Kepala Staf Jenderal Randy George pada April lalu.
Pengamat militer mengatakan Iran mungkin nggak perlu ngalahin AS secara militer buat menangin dinamika ini. Iran cuma butuh bikin kapal, pesawat, sistem pertahanan, pasukan, dan amunisi AS stuck di sana cukup lama sampai akhirnya nimbulin kerugian besar buat Amerika di tempat lain. Dan sepertinya, batas toleransi untuk menanggung kerugian finansial itu udah makin dekat. Para jenderal AS mulai lelah.
(sc. The Washington Post, WSJ, Reuters, NBC, NYT, The Hill)








