Iran. Jelajahpenanews. Com – Rusia, Hormuz, Rudal dan Krisis Stok Senjata Mulai Bertemu ,Bagi Amerika Serikat, perang dengan Iran semakin sulit dipandang sebagai konflik regional biasa.
Setelah berbulan-bulan bertempur, Washington kini menghadapi persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana mempertahankan tekanan terhadap Iran tanpa menguras kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman lain seperti Rusia dan China?
Salah satu alarm terbesar datang dari persediaan amunisi.
Reuters melaporkan pada 4 Agustus bahwa Amerika Serikat telah menggunakan hampir seluruh persediaan sejumlah rudal presisi jarak jauh, termasuk ATACMS dan PrSM, selama perang Iran. Laporan tersebut juga menyebut penggunaan Tomahawk dalam jumlah besar. Pentagon dan pemerintahan Trump membantah sebagian gambaran mengenai kondisi stok yang sangat kritis, tetapi mengakui kebutuhan mempercepat produksi dan pengadaan.
CSIS kemudian menilai penyusutan stok amunisi merupakan persoalan strategis yang lebih luas. Menurut lembaga tersebut, pembangunan kembali persediaan rudal Amerika bukan pekerjaan cepat; beberapa sistem membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk diproduksi kembali dalam jumlah besar.
Masalahnya semakin rumit karena Amerika bukan hanya menghadapi Iran.
Jika konflik besar pecah di kawasan Indo-Pasifik, Washington akan membutuhkan persediaan rudal dan sistem pertahanan udara dalam jumlah sangat besar untuk menghadapi China. Pada saat yang sama, ancaman Rusia terhadap NATO juga membutuhkan kapasitas pertahanan udara dan rudal yang besar.
Dengan kata lain, setiap rudal yang ditembakkan di Timur Tengah memiliki konsekuensi terhadap kalkulasi militer Amerika di tempat lain.
Tekanan tersebut juga bersifat finansial. Pentagon memperkirakan perang Iran telah menelan sekitar US$37,5 miliar hingga Juli, sementara pemerintahan Trump meminta tambahan pendanaan dalam jumlah besar.
Lalu datang masalah kedua: Selat Hormuz.
Pada 30 Agustus, AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak. Washington mengatakan tindakan tersebut bertujuan mencegah Iran melakukan operasi yang mengancam pelayaran, sementara Tehran kemudian mengklaim melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan AS di Yordania.
Eskalasi ini langsung mengguncang pasar energi. Reuters melaporkan harga minyak Brent kembali menembus lebih dari US$90 per barel setelah bentrokan terbaru.
Dan di sinilah China serta Rusia masuk ke dalam kalkulasi yang lebih besar.
Al Jazeera melaporkan bahwa hubungan ekonomi dan strategis Iran dengan China dan Rusia dapat menyulitkan upaya Washington mengisolasi Tehran. Rusia juga dilaporkan memiliki hubungan perdagangan dan militer yang semakin erat dengan Iran.
China bahkan memperoleh pengaruh lebih besar dalam pasar energi ketika perang mengurangi efektivitas OPEC+ dan mengubah arus perdagangan minyak global. Reuters menilai konflik Iran telah menggeser keseimbangan kekuatan di pasar energi dan meningkatkan peran China sebagai pusat permintaan strategis.
Jadi persoalannya bukan apakah Amerika mampu mengalahkan Iran dalam satu pertempuran.
Secara militer, Amerika masih memiliki keunggulan besar.
Persoalannya adalah apakah Washington mampu mempertahankan perang panjang sambil tetap memiliki cukup senjata, uang, perhatian strategis, dan kekuatan politik untuk menghadapi Rusia dan China.
Itulah jebakan terbesar konflik Iran.
Iran mungkin tidak harus mengalahkan Amerika.
Cukup membuat Amerika terus mengeluarkan biaya—militer, ekonomi, diplomatik, dan politik—hingga Washington dipaksa memilih prioritas.
Dan jika itu terjadi, medan perang Iran dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar:
ujian terhadap kemampuan Amerika mempertahankan statusnya sebagai kekuatan militer global.








