TEHERAN . Jelajahpenanews. Com – Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi, menegaskan komitmen tanpa kompromi militer Teheran dalam menghadapi agresi bersenjata Amerika Serikat di kawasan Teluk. Melansir laporan resmi dari Kantor Berita Mehr News Agency, Jenderal Vahidi yang berbicara dalam pidato strategisnya yang ditujukan langsung kepada Pemimpin Agung Iran yang baru, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, menyatakan secara eksplisit bahwa Republik Islam Iran tidak akan pernah menggantungkan nasib dan masa depan tanah airnya pada janji-janji manis musuh yang dicapnya sebagai pembunuh anak-anak, di mana rekam jejak historis mereka telah dipenuhi oleh pengkhianatan, penipuan, serta permusuhan mendalam terhadap bangsa Iran.
Pernyataan ini dikeluarkan sebagai respons langsung atas babak baru gempuran udara bertubi-tubi yang diluncurkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap sejumlah instalasi elektronik, logistik militer, dan kilang minyak pesisir Iran sepanjang pekan ini. Menanggapi situasi konfrontasi yang kian memanas, Jenderal Vahidi menegaskan kembali sumpah setianya kepada Ayatollah Mojtaba Khamenei—yang naik takhta menggantikan mendiang ayahnya sejak Maret 2026 lalu—bahwa IRGC bersama seluruh elemen Angkatan Bersenjata Iran siap mengerahkan segala kekuatan, kebijaksanaan, dan taktik perang asimetris untuk memberikan “pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan” kepada Washington di medan tempur
Selain kesiapan garis depan militer, rilis resmi dari Tehran Times menyoroti penekanan khusus Panglima IRGC mengenai pentingnya menjaga persatuan nasional dan memperkuat benteng pertahanan domestik guna menangkal setiap upaya infiltrasi intelijen Barat ke dalam struktur pemerintahan maupun lapisan masyarakat sipil. Duet kepemimpinan garis keras antara Jenderal Vahidi dan Ayatollah Mojtaba Khamenei ini diprediksi oleh para pengamat geopolitik internasional akan semakin menutup rapat peluang rekonsiliasi diplomatik jangka pendek dengan blok Barat, sekaligus memastikan bahwa penutupan jalur energi internasional di Selat Hormuz akan terus dipertahankan sebagai instrumen tekanan balik ekonomi global.
Sumber Berita:
Mehr News Agency (MNA), Tehran TimesFars News Agency, Al Jazeera Middle East








