TEHERAN . Jelajahpenanews. COM — Pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi secara terbuka membongkar data biaya operasional jalur perdagangan dunia untuk membela kebijakan pengenaan tarif baru mereka di Selat Hormuz. Teheran menyatakan bahwa sejumlah jalur maritim strategis seperti Terusan Suez di Mesir mengenakan biaya transit hingga mencapai 1 juta dolar AS atau sekitar Rp16,2 miliar untuk satu kapal kontainer raksasa. Iran menilai kecaman negara-negara Barat terhadap rencana penarikan biaya navigasi mereka merupakan bentuk standar ganda yang tidak adil bagi kedaulatan wilayahnya.
Berdasarkan data keuangan maritim internasional, otoritas Mesir memang memberlakukan tarif reguler berkisar antara 200.000 hingga 700.000 dolar AS yang kini resmi melonjak melebihi 100 persen pasca-pemberlakuan tarif surcharge baru per pertengahan Juli ini. Iran juga mencontohkan Terusan Panama yang memungut biaya hingga 500.000 dolar AS, serta Selat Bosporus di Turki yang menerapkan pajak navigasi tinggi. Pembelaan ini dikeluarkan setelah Presiden Amerika Serikat merilis ancaman militer keras seiring berakhirnya masa memorandum bebas biaya di Selat Hormuz.
Pihak Teheran menegaskan bahwa selama puluhan tahun mereka telah memfasilitasi kelancaran ekspor pasokan energi global secara gratis di Selat Hormuz meskipun ekonomi domestik mereka dicekik oleh sanksi internasional Barat. Melalui aturan baru yang tengah dirancang bersama Oman, Iran menyatakan penarikan biaya tersebut sepenuhnya sah di bawah koridor hukum internasional untuk mendanai pemeliharaan jasa navigasi, keamanan perimeter, dan pembersihan jalur laut. Komunitas logistik dunia mengkhawatirkan kebijakan penarikan pajak komersial di wilayah Teluk ini akan semakin meroketkan harga minyak mentah dan inflasi global.
Sumber berita : Fortune dan SeaNews








