Teheran – Washington . Jelajahpenanews. COM – Perang di atas kertas, tapi yang kena getahnya semua orang.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan sindiran telak ke Washington.
Saat konflik memanas dan harga minyak dunia menembus $100 per barel, ia menyebut strategi AS sebagai “10/10… kalau tujuannya bikin harga makin mahal.”
NIATNYA TEKAN IRAN, HASILNYA TEKAN EKONOMI GLOBAL
AS ingin menggunakan tekanan militer untuk melemahkan Iran.
Tapi kenyataannya:
Ketidakstabilan di jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz langsung mengguncang pasar energi dunia.
Efeknya?
Harga minyak meroket. Dan ini bukan cuma angka di layar trader.
YANG BAYAR SIAPA? RAKYAT BIASA
Ini bagian yang jarang dibicarakan para “perencana perang”:
- Pom Bensin → Isi full tank jadi 2x lipat
- Supermarket → Biaya angkut naik, harga bahan pokok ikut naik
- Bandara → Harga tiket penerbangan melambung
- Tagihan Listrik → Pembangkit mahal, konsumen yang nanggung
Rudal ditembakkan ribuan kilometer dari rumah kita.
Tapi kita yang bayar di kasir.
“STRATEGI SEMPURNA”… UNTUK KEKACAUAN
Ghalibaf mengejek:
“Mereka ingin menghukum Iran. Namun, mereka malah menghukum diri sendiri dengan kenaikan harga minyak hingga tiga digit.”
Pemerintah bisa bicara soal “pencegahan” dan “kemenangan strategis”.
Tapi konsekuensi ekonominya tidak bisa dipenjara di dalam satu negara saja.
Ketika minyak $100, yang terluka bukan cuma musuh. Tapi juga para pembayar pajak yang membiayai perang itu sendiri.
KESIMPULANNYA:
Perang itu mahal. Dan kali ini, tagihannya dikirim ke seluruh dunia.
HargaMinyak #Minyak100Dollar #Iran #AmerikaSerikat #AS #Geopolitik #Konflik #EkonomiGlobal #Inflasi #SelatHormuz #Energi #BBMNaik #MohammadBagherGhalibaf #BeritaInternasional #Perang #DampakEkonomi
Menurut kamu, sampai kapan rakyat biasa harus jadi “korban” dari perang negara besar? Tulis pendapatmu di bawah 👇








