AS. Jelajahpenanews. COM – Dunia geopolitik pekan ini disuguhi tontonan kontradiktif dari Gedung Putih. Melalui akun medsosnya, Presiden AS Donald Trump dengan percaya diri berkoar bahwa Amerika Serikat telah “memenangkan perang” dan mengklaim militer Iran telah kalah total. Trump bahkan menyebut proses denuklirisasi Iran berjalan mulus.
Namun, benarkah demikian? Ataukah ini hanya kosmetik politik?
Kritik tajam dari para analis militer internasional justru mengungkap ironi besar. Begitu pangkalan militer CENTCOM AS di Kuwait dan Bahrain dihujani rudal balistik oleh IRGC Iran baru-baru ini, Washington tidak meluncurkan serangan balasan yang lebih masif. Sebaliknya, Trump justru sibuk mengutus delegasinya untuk menggelar perundingan darurat secara tidak langsung di Doha, Qatar.
Mengapa Trump langsung melunak ke meja perundingan?
- Tekanan Ekonomi: Blokade Iran di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia tidak stabil. Trump butuh narasi “damai” di Doha agar pasar saham dan harga BBM dunia kembali mendingin.
- Janji Politik “America First”: Wapres JD Vance sendiri secara tersirat mengakui bahwa publik AS sudah lelah dengan perang luar negeri yang tidak berujung.
Di sisi lain, Teheran secara terbuka mengejek langkah Trump ini. Mereka menganggap AS sedang melakukan diplomasi kepasrahan karena takut menghadapi biaya perang terbuka yang terlalu mahal di Teluk.
Apakah langkah Trump ini merupakan strategi jenius “gertak sambal” untuk menekan musuh, atau justru bukti bahwa AS saat ini tidak memiliki taring lagi di hadapan keteguhan militer Iran?
Bagaimana analisis Anda sebagai jurnalis dan pengamat? Mari bedah secara objektif di kolom komentar! 👇








