Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Agen Amerika yang bertanggung jawab atas operasi tersebut langsung ditangkap. Di Washington, kepanikan langsung muncul.
Untuk meredam kasus tersebut, seorang utusan tingkat tinggi segera dikirim ke Singapura secara darurat.
Dengan kerahasiaan maksimal, ia menawarkan 3,3 juta dolar kepada Lee Kuan Yew untuk membeli diamnya.
Lee Kuan Yew menolak dengan tegas.
Dengan dingin, ia menyampaikan tawaran balasan yang terdengar seperti peringatan keras :
Singapura tidak membutuhkan suap, melainkan bantuan ekonomi sebesar 33 juta dolar.
Lima tahun kemudian, ia memutuskan untuk membuka kasus tersebut ke publik. Departemen Luar Negeri Amerika segera membantah.
Di sinilah penghinaan menjadi dua kali lipat.
Pertama, karena mereka percaya bahwa para pemimpin Singapura bisa dibeli.
Kedua, karena dengan membantah fakta, mereka menganggap Lee Kuan Yew sebagai pembohong.
Maka, ia memanggil pers dan menyampaikan ultimatum tanpa tedeng aling-aling :
jika Amerika Serikat tetap bertahan dalam penyangkalan, dokumen dan rekaman akan dibuat publik.
Beberapa jam kemudian, Washington mundur.
Departemen Luar Negeri mengakui sepenuhnya kebenaran versi ceritanya.
Cerita ini mengingatkan pada sebuah kebenaran yang terlalu sering dilupakan :
kedaulatan sebuah negara tidak diukur dari ukurannya, melainkan dari karakter orang-orang yang memimpinnya.
Ketika sebuah negara menghormati dirinya sendiri, bahkan kekaisaran pun akhirnya mundur.








