KISAH PALING MEMILUKAN DALAM SEJARAH ISLAM: DETIK-DETIK KHALIFAH TERAKHIR DIUSIR DARI ISTANANYA SENDIRI PADA FAJAR YANG BEKU

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – 3 Maret 1924. Sebelum matahari terbit di atas Istanbul, sebuah pintu istana tertutup untuk selamanya.
Di dalam Istana Dolmabahçe yang megah di tepi Selat Bosphorus, Abdul Mejid II Khalifah terakhir dunia Islam sedang berada di perpustakaannya ketika ketukan pintu itu datang. Yang masuk bukan tamu biasa. Haydar Bey, Gubernur Istanbul, datang bersama Sadeddin Bey, Kepala Polisi kota itu. Pesan yang mereka bawa singkat dan tidak bisa ditolak: kekhalifahan telah dihapuskan, dan seluruh keluarga Utsmaniyah harus meninggalkan tanah Turki sebelum fajar esok hari.
“Saya bukan pengkhianat. Dalam keadaan apa pun saya tidak akan pergi,” jawab Abdul Mejid ketika pertama kali mendengar perintah itu.
Tapi ia tidak punya pilihan.
Hari itu, Majelis Nasional Agung Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Atatürk telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 431 yang sekaligus menghapus kekhalifahan dan memerintahkan pengusiran seluruh anggota dinasti Utsmaniyah dari Turki. Kewarganegaraan mereka dicabut. Harta benda mereka disita. Mereka dilarang kembali ke tanah air, bahkan dilarang dimakamkan di sana.
Ini bukan sekadar keputusan politik. Ini adalah perampasan total atas sebuah warisan yang telah berdiri selama lebih dari enam abad.
Suasana di dalam istana malam itu sangat memilukan. Para pelayan menangis. Anggota keluarga bergerak dalam kebingungan dan kesedihan. Mereka harus mengemas dalam satu malam apa yang tersisa dari kehidupan mereka. Pada pukul 05.00 dini hari tanggal 4 Maret, Abdul Mejid II meninggalkan Istana Dolmabahçe diam-diam bersama tiga istrinya Şehsuvar, Hayrünisa, dan Mehisti putranya Ömer Faruk, dan putrinya Dürrüşehvar. Mereka memilih pergi secara senyap. Mereka tidak ingin rakyat bangkit dan membuat kerusuhan demi mereka.
Rombongan itu melaju dengan beberapa mobil menuju Çatalca, sebuah kota kecil di pinggiran barat Istanbul, tempat mereka sempat ditampung sejenak oleh kepala perusahaan kereta api Rumeli. Di sana, mereka menunggu.

Bagikan