Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita tanyakan ketika mengagumi gedung-gedung megah di Amsterdam atau rel kereta api yang membentang rapi di Belanda: dari mana uang untuk membangun semua itu berasal?
Jawabannya ada di sini. Di tanah ini. Dari keringat dan nyawa nenek moyang kita.
Awal abad ke-19, Belanda berada di ambang kehancuran. Kas negara mereka kosong. Terkuras habis membiayai Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung dari 1825 hingga 1830, ditambah biaya meredam Perang Kemerdekaan Belgia yang berakhir dengan lepasnya wilayah itu dari kekuasaan Belanda pada tahun itu juga. Utang menumpuk. Ancaman kebangkrutan ada di depan mata.
Mereka butuh keajaiban. Dan keajaiban itu datang dari penderitaan orang lain.
Pada tahun 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mengajukan sebuah ide kepada Raja Willem I. Idenya sederhana dalam konsep, namun brutal dalam pelaksanaan. Namanya Cultuurstelsel, yang oleh sejarah Indonesia dicatat sebagai Tanam Paksa.
Aturannya tertulis rapi di atas kertas. Setiap desa wajib menyisihkan seperlima atau 20 persen dari lahan pertaniannya untuk ditanami komoditas ekspor yang ditentukan Belanda: tebu, kopi, nila, dan teh. Hasil panennya diserahkan kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah ditetapkan pihak Belanda sendiri. Bagi yang tidak punya tanah, kewajiban diganti dengan kerja paksa di perkebunan negara selama puluhan hari dalam setahun.
Di atas kertas terlihat teratur. Di lapangan, ini adalah neraka.
Penyimpangan terjadi di mana-mana. Lahan yang dipakai jauh melebihi 20 persen. Waktu kerja melebihi batas yang ditentukan. Petani tidak lagi punya waktu untuk menanam padi demi makan keluarga sendiri. Sawah-sawah terbengkalai. Produksi beras anjlok. Harga pangan melambung. Dan ketika musim kering datang, tidak ada cadangan pangan yang tersisa.
Yang datang berikutnya adalah bencana.
Pada tahun 1843, bencana kelaparan ekstrem meledak di Cirebon, Jawa Barat, dan Demak, Jawa Tengah. Enam tahun kemudian, pada 1849, giliran Grobogan dan Purwodadi yang luluh lantak oleh kelaparan massal. Ratusan ribu jiwa melayang. Banyak yang mati di jalan, bahkan saat masih bekerja di kebun milik Belanda. Jumlah penduduk di beberapa daerah turun drastis akibat gabungan antara kematian dan pelarian besar-besaran ke desa lain yang ternyata juga tidak lebih baik nasibnya.
Sementara Jawa berduka, Belanda berpesta.
Antara tahun 1831 hingga 1877 saja, keuntungan bersih atau Batig Slot yang mengalir dari Nusantara ke kas Kerajaan Belanda mencapai 823 juta gulden. Angka yang tak terbayangkan di zamannya. Utang negara lunas. Surplus melimpah. Dan uang itu dipakai membangun infrastruktur megah di Belanda: jaringan kereta api nasional, gedung-gedung mewah di pusat kota Amsterdam, dan berbagai proyek besar lainnya yang masih berdiri kokoh hingga hari ini.
Atas “jasanya” dalam merancang sistem ini, Van den Bosch dianugerahi gelar Graaf oleh Raja Belanda pada 25 Desember 1839. Sebuah kehormatan tertinggi, untuk sebuah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa.
Namun tidak semua orang diam.
Eduard Douwes Dekker, seorang mantan residen Belanda yang pernah bertugas di Lebak, Serang, Jawa Barat, menyaksikan sendiri kekejaman itu dari dekat. Ia tidak tahan diam. Pada tahun 1860, dengan nama pena Multatuli, ia menerbitkan novel Max Havelaar, sebuah karya yang mengguncang Belanda dan Eropa. Kisah fiktif yang dijalin dari pengalaman nyata itu membuka mata publik tentang apa yang sesungguhnya terjadi di tanah jajahan mereka. Kecaman dari dalam negeri Belanda sendiri mulai mengalir deras, dari kaum agama hingga kaum liberal.
Tanam Paksa pun dihapus secara bertahap. Dimulai dari tanaman lada pada 1860, nila dan teh pada 1865, tebu pada 1884, hingga yang terakhir kopi baru dinyatakan berakhir pada tahun 1916. Empat puluh tahun lebih sistem itu berjalan.
Kerugian yang dialami bangsa ini tidak pernah terganti dan tidak pernah akan terganti.
Setiap kali kita melihat foto stasiun kereta di Amsterdam atau bangunan kolonial megah di Den Haag, ada satu hal yang tidak pernah diceritakan di plakat-plakat sejarahnya: fondasi kemewahan itu dibangun di atas air mata dan nyawa manusia-manusia Nusantara yang bahkan tidak pernah melihat Eropa, namun menghidupinya selama puluhan tahun.








