Sofjan Wanandi: Jejak Pengusaha Ulung, Aktivis, dan Negarawan di Balik Layar

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Nama Sofjan Wanandi tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang dinamika ekonomi dan politik Indonesia. Dari seorang aktivis mahasiswa yang lantang menyuarakan reformasi hingga menjadi tokoh sentral di dunia bisnis nasional, pria kelahiran Sawahlunto, 3 Maret 1941, ini telah menorehkan jejak yang mendalam bagi kemajuan bangsa.

Masa Muda: Dari Penjaga Toko hingga Aktivis Mahasiswa
Terlahir dengan nama Liem Bian Khoen, masa kecil Sofjan diwarnai dengan disiplin dunia usaha. Sejak duduk di bangku SMP di Padang, ia telah membantu ayahnya menjaga toko kelontong dan binatu. Namun, jiwa kepemimpinan dan idealismenya mulai terbentuk ketika ia melanjutkan SMA di Kanisius, Jakarta, dan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

Di bangku mahasiswa, Sofjan terjun ke dunia aktivisme. Ia dikenal sebagai Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan memegang peran vital dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Jaya saat pecahnya insiden G-30-S/PKI. Keberaniannya menentang paham komunis bahkan sempat membawanya ke balik jeruji besi pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Transisi ke Dunia Politik dan Pemerintahan
Memasuki era Orde Baru, Sofjan menjadi bagian dari kelompok cendekiawan yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, termasuk Ali Murtopo dan Soedjono Humardani. Dedikasinya pada negara membuatnya rela meninggalkan bangku kuliah meski sudah berada di tingkat akhir. Ia pun tercatat sebagai salah satu anggota DPR-RI termuda pada masa itu bersama tokoh-tokoh besar seperti Cosmas Batubara dan Fahmi Idris.

Pengabdiannya di pemerintahan berlanjut hingga era reformasi. Pada tahun 1999, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) di bawah kabinet Presiden Abdurrahman Wahid.

Membangun Imperium Bisnis: Grup Gemala
Setelah melalang buana di dunia politik, Sofjan kembali ke dunia yang membesarkan namanya: kewirausahaan. Pada 1974, ia mulai merintis bisnis di bawah Grup Gemala (kini Santini Group). Dengan modal tekad dan aset seadanya, ia berhasil membangun perusahaan yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari otomotif, farmasi, hingga asuransi.

Di bawah kepemimpinannya, Grup Gemala tumbuh menjadi raksasa bisnis yang menyerap puluhan ribu tenaga kerja dan berekspansi hingga ke Australia dan Kanada. Keberhasilan ini menjadikannya salah satu ikon pengusaha sukses Indonesia.

Dedikasi di Apindo dan Hubungan Industrial
Puncak kiprah organisasinya terjadi saat ia menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) selama dua periode (2008–2014). Sofjan dikenal sebagai sosok yang revolusioner dalam hubungan industrial. Ia mempelopori kesepakatan bipartit antara pekerja dan pengusaha, dengan mengedepankan paradigma bahwa buruh adalah mitra strategis, bukan musuh.

Pada tahun 2014, Sofjan memilih mengundurkan diri dari kursi Ketua Umum Apindo untuk mengemban tugas negara sebagai Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla. Meski kini operasional bisnisnya telah diserahkan kepada generasi penerusnya—Lestarto, Lukito, dan Witarsa—pengaruh dan pemikiran Sofjan tetap menjadi rujukan penting bagi para pengusaha di Indonesia.

Warisan Pemikiran
Sofjan Wanandi adalah sosok yang langka; ia mampu menyeimbangkan peran sebagai pengusaha sukses sekaligus aktor politik yang matang. Baginya, investasi dan pertumbuhan ekonomi haruslah berjalan beriringan dengan keadilan sosial dan harmoni antara pengusaha dan pekerja.

Bagikan