Mengenang Sosok Achmad Tahir: Dari Medan Perang hingga Pengabdian di Kursi Menteri

Red JPN

Jakarta. Jelajahenanews. Com – Dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia, nama Achmad Tahir tercatat sebagai salah satu tokoh yang memiliki dedikasi luar biasa. Lahir pada 27 Juni 1924, beliau bukan sekadar seorang militer, melainkan pejuang kemerdekaan yang meniti karier pengabdiannya dari medan pertempuran hingga menempati posisi strategis di pemerintahan.

Napak Tilas Perjuangan
Jiwa nasionalisme Achmad Tahir sudah teruji sejak masa revolusi kemerdekaan. Di tengah gejolak perlawanan melawan penjajah, beliau dipercaya mengemban tanggung jawab besar sebagai Panglima Divisi IV/TKR. Keberanian dan kepemimpinannya di garis depan menjadi saksi bisu bagaimana beliau berjuang demi kedaulatan Indonesia.

Pengabdian di Era Orde Baru
Pasca-kemerdekaan, pengabdian Achmad Tahir berlanjut ke panggung birokrasi nasional. Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, beliau dipercaya sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi. Amanah ini ia jalankan selama dua periode berturut-turut, yakni pada Kabinet Pembangunan IV (1982–1987) dan Kabinet Pembangunan V (1987–1992).

Setelah purnabakti dari kabinet, Achmad Tahir tidak lantas melepaskan diri dari aktivitas sosial-kenegaraan. Beliau terus mengabdi sebagai Duta Besar Keliling Gerakan Non-Blok untuk wilayah Eropa, serta menjabat sebagai Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Dedikasi tiada henti ini menunjukkan bahwa baginya, pengabdian kepada negara adalah komitmen seumur hidup.

Warisan Adat dan Kehormatan
Di luar ranah militer dan politik, Achmad Tahir adalah sosok yang sangat menghormati akar budayanya. Sebagai Sesepuh Puak Melayu Sumatera Utara, beliau mendapatkan gelar kehormatan Tengku Pangeran dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABMI) di Kesultanan Deli.

Nama besar beliau juga diabadikan dalam institusi militer. Sebagai bentuk penghormatan atas segala jasa-jasanya, nama Achmad Tahir kini disematkan pada Gerbang Kesatrian di Batalyon Polisi Militer Angkatan Darat, yang dikenal sebagai Kesatrian Achmad Tahir.

Kisah di Balik Layar: Keluarga yang Menginspirasi
Di balik kegigihannya, Achmad Tahir memiliki pendamping setia, Rooslila. Pernikahan yang terjalin sejak tahun 1946 ini melahirkan pasangan yang sama-sama memiliki kepedulian tinggi terhadap bangsa. Rooslila sendiri dikenal sebagai sosok inspiratif—seorang penyiar Radio Jepang, wartawati Sumatra Shinbun, dan mantan anggota DPR RI (1982–1987).

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai enam orang anak yang meneruskan nilai-nilai keteladanan yang diwariskan kedua orang tuanya:

Gelora Surya Dharma
Hari Indra Utama
Yulia Saprita
Linda Agum Gumelar
Adi Putra Darmawan Tahir
Chaerul Permata Cita

Meneladani Sang Tokoh
Achmad Tahir wafat pada 17 Agustus 2002. Kepergiannya meninggalkan warisan sejarah yang mendalam bagi generasi penerus. Beliau adalah contoh nyata bagaimana seseorang dapat menyeimbangkan ketegasan seorang prajurit dengan kebijaksanaan seorang negarawan.

Mengenang Achmad Tahir bukan sekadar melihat masa lalu, tetapi meresapi semangat juang untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Semoga semangat pengabdian beliau tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi kita semua.

Sumber: Wikipedia

TokohIndonesia #SejarahBangsa #AchmadTahir #PejuangBangsa #MengenangPahlawan

Bagikan