Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Selama tiga dekade terakhir, nama Prof. Yusril Ihza Mahendra hampir tidak pernah absen dari panggung politik nasional. Publik mengenalnya sebagai advokat andal, pakar Hukum Tata Negara, dan politikus ulung yang kerap menjadi rujukan dalam berbagai sengketa hukum besar di Indonesia. Namun, di balik kemeja formal dan argumen hukumnya yang tajam di pengadilan, terdapat sisi kehidupan Yusril yang jarang terekspos dan justru menjadi kunci dari ketangguhannya sebagai negarawan.
Penulis Pidato di Balik Layar
Jauh sebelum ia menjabat sebagai menteri, Yusril adalah sosok yang berada di “dapur” kebijakan negara. Ia memiliki kemampuan menulis yang luar biasa. Tercatat, ia adalah tangan dingin di balik lebih dari 200 naskah pidato Presiden Soeharto dan lebih dari 300 naskah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kemampuannya meramu kata-kata ini bukan kebetulan. Yusril tumbuh dalam tradisi kecendikiawanan Melayu yang menjunjung tinggi literasi, filsafat, dan sastra. Baginya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan bagaimana ideologi bangsa diterjemahkan ke dalam bahasa yang menyentuh nurani rakyat.
Sang Guru Besar yang Menulis Lintas Zaman
Banyak yang mengenal Yusril sebagai politikus, namun identitas aslinya yang paling kuat adalah seorang akademisi. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara di Universitas Indonesia pada tahun 1998 di usia yang sangat muda.
Bukan hanya hukum, ia adalah seorang filsuf. Yusril menempuh pendidikan filsafat hingga jenjang S3 dan memperdalam ilmunya hingga ke University of the Punjab, Pakistan. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuatnya tetap menulis buku, jurnal, dan kolom opini secara konsisten, bahkan saat ia sedang sibuk-sibuknya menjabat di pemerintahan.
Akar Tradisi dan Budaya
Sisi lain yang jarang diketahui adalah akar latar belakang keluarganya yang merupakan perpaduan budaya yang kaya. Ia lahir di Belitung dari ayah keturunan bangsawan Johor dan ibu keturunan Persia-Minangkabau.
Warisan intelektual dari kakek dan ayahnya yang merupakan ulama disegani di Belitung membentuk karakter Yusril yang moderat namun memegang teguh prinsip. Tradisi “merantau” khas Minangkabau yang mengalir dari darah ibunya serta kedisiplinan pendidikan Melayu membentuk Yusril menjadi pribadi yang adaptif namun tetap memegang akar tradisi.
Keluarga sebagai “Firma Hukum”
Dedikasi Yusril pada bidang hukum tidak berhenti di ruang sidang. Ia mewariskan kecintaan tersebut kepada keluarganya. Bersama adik-adiknya, ia mendirikan Ihza & Ihza Law Firm. Menariknya, firma ini kini menjadi wadah bagi generasi penerusnya, termasuk anak-anaknya, untuk meniti karier di bidang yang sama. Bagi Yusril, hukum adalah warisan intelektual yang terus ia bangun agar tetap relevan di masa depan.
Negarawan Lintas Era
Mungkin tidak banyak politikus yang mampu bertahan dan dipercaya oleh berbagai pemerintahan dengan ideologi yang berbeda-beda. Yusril adalah pengecualian. Ia telah menjadi menteri di kabinet lintas presiden, mulai dari era reformasi hingga pemerintahan saat ini sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan.
Staminanya dalam mengabdi kepada negara, dedikasinya dalam menjaga konstitusi, dan konsistensinya sebagai pemikir adalah sisi “bukan sekadar politikus” yang membuat Prof. Yusril tetap menjadi sosok sentral dalam sejarah perjalanan demokrasi Indonesia.
Yusril Ihza Mahendra membuktikan bahwa integritas seorang intelektual jauh lebih abadi daripada posisi politik itu sendiri. Di balik setiap keputusan hukum yang ia buat, ada ribuan jam bacaan, renungan filosofis, dan pengalaman hidup yang membentuknya menjadi sosok yang kita kenal hari ini.
Sumber: Wikipedia








