Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Bukan karena mereka “pintar bisnis”.
Jawabannya, karena ada satu sistem licik yang mereka bangun bertahun-tahun lalu,
bernama Petrodollar System.
- Awal Mula Semuanya (1974)
Pada tahun ini, Dolar AS sedang goyah berat. Karena sudah tidak lagi didukung emas murni (sejak Nixon cabut Bretton Woods), nilai dolar mulai goyang.
Datang Henry Kissinger ke Arab Saudi dengan sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak.
Deal-nya sederhana tapi dahsyat,
“Kami (AS) akan melindungi kerajaan kalian dengan kekuatan militer penuh. Tapi syaratnya satu, kalian (dan seluruh OPEC) hanya boleh menjual minyak menggunakan mata uang Dolar AS.”
Kesepakatan itu pun terjadi. Lahirlah yang disebut Petrodollar.
- Permintaan Buatan untuk Dolar
Bayangkan ini,
Hampir setiap negara di dunia butuh minyak untuk pabrik, transportasi, listrik, bahkan logistik makanan sehari-hari.
Karena minyak hanya boleh dibeli dengan Dolar, maka seluruh dunia terpaksa mencari Dolar setiap saat.
Ini namanya permintaan buatan (synthetic demand).
Amerika tinggal mencetak dolar sebanyak yang mereka mau.
Sementara negara lain, termasuk Indonesia, harus bekerja keras, menjual barang, mengekspor sumber daya alam, bahkan meminjam uang hanya untuk mendapatkan dolar itu.
- Uang Muter Balik ke Amerika (Petrodollar Recycling)
Triliunan dolar yang masuk ke kantong negara-negara pengekspor minyak (terutama Arab Saudi) tidak dibiarkan mengendap begitu saja.
Uang itu diputar balik ke Amerika. Mereka beli US Treasury (surat utang pemerintah AS).
Artinya:
Setiap kali dunia membeli minyak, secara tidak langsung mereka sedang meminjamkan uang ke Amerika untuk menutup defisit anggaran dan membiayai militer mereka yang super mahal.
Jadi, semakin banyak minyak yang dibeli dunia, semakin besar pula “pinjaman gratis” yang diterima Amerika.
- Dolar Dijadikan Senjata Mematikan
Ini bagian yang paling gelap.
Karena hampir semua transaksi dolar di dunia harus melewati sistem keuangan Amerika (termasuk SWIFT), AS punya kekuasaan luar biasa: tombol mati.
Mereka bisa menekan satu tombol untuk memblokir akses suatu negara ke sistem dolar.
Akibatnya?
Negara tersebut langsung lumpuh. Tidak bisa bayar impor, tidak bisa terima ekspor, perusahaan-perusahaan kolaps, rakyat kelaparan tanpa AS perlu menembakkan satu peluru pun.
Ini disebut Weaponization of the Dollar atau Weaponized Interdependence.
Kesimpulan sederhana:
Amerika tidak perlu takut utang membengkak karena seluruh dunia yang membayar utang mereka.
Mereka mencetak dolar, dunia yang bekerja keras untuk mendapatkannya, lalu uang itu kembali lagi ke Amerika dalam bentuk pinjaman.
Itulah mengapa Amerika bisa berutang ratusan ribu triliun rupiah dan tetap berdiri tegak.
Sistem yang sangat licik.
Sistem yang sangat kejam.
Dan sistem yang sampai sekarang masih berjalan.
Facebook Arab News United States Air Force Azmi Habibi








