Indonesia. Jelajahpenanews. Com – Indonesia kehilangan salah satu kompas moral terbaiknya saat Ahmad Syafi’i Maarif, atau yang akrab disapa Buya Syafii, berpulang pada 27 Mei 2022. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini bukan sekadar ulama; ia adalah begawan bangsa yang menghabiskan hidupnya untuk merajut tenun kebangsaan di atas landasan Islam yang moderat dan inklusif.
Masa Kecil di Tanah Minang: Antara Sawah dan Surau
Lahir pada 31 Mei 1935 di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Sumatra Barat, perjalanan hidup Buya Syafii dimulai dari kesederhanaan. Sebagai anak bungsu dari keluarga besar, ia merasakan pahitnya kehilangan ibu di usia balita. Masa kecilnya dihabiskan dengan bersekolah di siang hari dan mengaji di surau pada malam hari—sebuah tradisi klasik anak laki-laki Minangkabau yang membentuk karakter religiusnya sejak dini.
Meski sempat terkendala biaya pasca-revolusi kemerdekaan, semangat belajarnya tidak padam. Pada usia 18 tahun, dengan tekad baja, ia memutuskan merantau ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, sebuah langkah yang nantinya mengubah jalan hidupnya selamanya.
Pengembaraan Intelektual: Dari Yogyakarta hingga Chicago
Perjalanan akademik Buya adalah bukti nyata bahwa ilmu tidak mengenal batas geografis. Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Muallimin Yogyakarta dan meraih gelar sarjana dari IKIP Yogyakarta (kini UNY), ia terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami sejarah di Ohio University.
Puncaknya, ia meraih gelar doktor dari University of Chicago. Di sanalah ia berguru pada tokoh pembaharu Islam, Fazlur Rahman. Interaksi intelektual dengan tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Amien Rais di Chicago membentuk pandangan dunianya: sebuah penafsiran Islam yang progresif, moderat, dan menolak politisasi agama yang sempit.
Menakhodai Muhammadiyah dan Menjaga Pancasila
Menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998–2005), Buya Syafii membawa organisasi ini melintasi masa transisi demokrasi Indonesia yang krusial. Ia dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya moralitas dalam politik dan menolak keras segala bentuk radikalisme.
Bagi Buya, Islam dan keindonesiaan adalah dua hal yang saling menguatkan, bukan saling meniadakan. Dedikasinya terhadap ideologi negara membuatnya dipercaya sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di mana ia terus menyumbangkan pemikiran jernih untuk persatuan bangsa.
Sosok Kontroversial yang Dicintai
Sepanjang hidupnya, Buya Syafii tidak jarang memicu perdebatan. Pandangannya yang liberal-moderat dan pembelaannya terhadap keberagaman sering kali menempatkannya di posisi yang berlawanan dengan arus utama. Namun, bagi Buya, integritas dan kebenaran lebih utama daripada popularitas.
Ia tetap hidup sederhana di Yogyakarta, kerap terlihat bersepeda atau menggunakan angkutan umum, meskipun ia adalah tokoh nasional yang disegani. Kesederhanaan inilah yang membuatnya mendapat julukan “Si Anak Kampung” yang tetap membumi meski telah menggapai bintang.
Warisan Literasi dan Kemanusiaan
Buya meninggalkan warisan intelektual yang melimpah melalui buku-buku seperti Dinamika Islam dan Islam dan Masalah Kenegaraan. Atas jasanya, ia dianugerahi penghargaan internasional Ramon Magsaysay pada tahun 2008.
Kini, meski raga Buya telah tiada dan dimakamkan di Taman Makam Husnul Khotimah, Kulon Progo, pemikirannya tetap hidup. Ia meninggalkan pesan kuat bagi generasi muda: bahwa menjadi Muslim yang taat berarti menjadi warga negara yang mencintai keberagaman dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
Sumber: Wikipedia








