Cosmas Batubara Sang Menteri Rumah Susun.

Reporter : karjoko


‎Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Kisah hidup Cosmas Batubara adalah potret perjalanan panjang seorang anak desa yang menjelma menjadi tokoh penting dalam panggung politik dan pembangunan Indonesia. Dari tepian Danau Toba hingga lorong kekuasaan, langkahnya sarat dinamika penuh idealisme, konflik, hingga warisan monumental yang masih berdiri kokoh di tengah kota-kota besar.


‎Menantang Kekuasaan di Era Bergolak


‎Pada Januari 1966, di tengah panasnya situasi politik nasional, Cosmas muda bersama aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) melangkah ke Istana Merdeka. Mereka memenuhi undangan Presiden Sukarno, sosok karismatik yang saat itu tengah menghadapi gelombang demonstrasi mahasiswa.


‎Pertemuan itu bukanlah dialog biasa. Nada tinggi dan emosi mewarnai percakapan. Sukarno menuding mahasiswa telah dipengaruhi Nekolim (neo-kolonialisme), sementara Cosmas dan rekan-rekannya bersikeras bahwa mereka memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Tritura tiga tuntutan yang mengguncang fondasi kekuasaan saat itu.


‎Ketegangan semakin memuncak ketika isu penghinaan terhadap Ibu Negara Hartini mencuat. Namun, Cosmas dan para mahasiswa membantah keras tuduhan tersebut. Bagi mereka, perjuangan ini bukan sekadar gerakan, melainkan panggilan sejarah.


‎Dari Desa Sederhana ke Panggung Nasional


‎Lahir pada 19 September 1938 di Simalungun, Sumatera Utara, kehidupan awal Cosmas jauh dari kemewahan. Setelah sang ayah wafat, ia membantu keluarga dengan berjualan dan bekerja di ladang. Namun, keterbatasan ekonomi tak memadamkan semangatnya untuk belajar.


‎Perjalanan pendidikannya membawanya ke Jakarta, di mana ia tak hanya mengajar, tetapi juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Di sinilah bakat kepemimpinannya terasah, hingga ia dipercaya menjadi Ketua Umum pada 1963–1967.


‎Aktivis 66 dan Tumbangnya Orde Lama


‎Tahun 1966 menjadi titik balik. Bersama para Aktivis 66, Cosmas berada di garis depan demonstrasi yang menuntut pembubaran PKI dan mendesak perubahan kepemimpinan nasional. Tragedi tewasnya Arief Rachman Hakim semakin menyulut kemarahan publik.


‎Gelombang tekanan itu akhirnya berujung pada runtuhnya kekuasaan Sukarno dan lahirnya era baru di bawah Soeharto. Cosmas pun bertransformasi dari aktivis jalanan menjadi bagian dari sistem politik.


‎Dari Parlemen ke Kabinet: Strategi dan Kontroversi


‎Langkah Cosmas berlanjut ke parlemen melalui DPR-GR, meski sempat menuai kritik dari aktivis seperti Soe Hok Gie. Ia kemudian bergabung dengan Golongan Karya (Golkar), mesin politik utama Orde Baru.


‎Dalam Pemilu 1971, Cosmas dikenal aktif turun ke daerah, bahkan menggunakan pendekatan yang kini dianggap kontroversial—memberikan bantuan langsung kepada masyarakat demi meraih dukungan. Strategi “gerilya politik” ini turut mengantarkan Golkar pada kemenangan besar.


‎Warisan Monumental: Rumah Susun untuk Rakyat


‎Puncak karier Cosmas terjadi saat ia menjabat Menteri Perumahan Rakyat. Di tengah masalah urbanisasi dan kemacetan Jakarta, ia melahirkan gagasan visioner: pembangunan rumah susun sebagai solusi hunian di tengah kota.


‎Melalui kebijakan dan undang-undang yang ia pelopori, konsep hunian vertikal mulai menggantikan kawasan kumuh. Program ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan perubahan cara pandang terhadap tata kota modern Indonesia.


‎Tak berhenti di situ, Cosmas juga pernah menjabat Menteri Tenaga Kerja dan bahkan dipercaya sebagai Presiden International Labour Organization (ILO) pada 1991 sebuah pengakuan internasional atas kiprahnya.


‎Akhir Perjalanan, Awal Warisan


‎Pada 8 Agustus 2019, Cosmas Batubara menghembuskan napas terakhir di Jakarta. Ia meninggalkan lebih dari sekadar jabatan dan prestise ia meninggalkan jejak pemikiran, kebijakan, dan karya nyata yang masih dirasakan hingga kini.


‎Dari seorang anak desa yang mencangkul ladang, menjadi tokoh yang membangun hunian bagi jutaan orang kisah Cosmas adalah bukti bahwa sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang berani melangkah, bahkan ketika dunia menentang.

Bagikan