‎Siti Manggopoh: Sang Singa Betina dari Agam yang Meluluhkan Benteng Belanda Sambil Menggendong Anak

Reporter : karjoko


‎Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tak hanya milik kaum pria. Dari ranah Minangkabau, tepatnya di Manggopoh, Lubuk Basung, lahir seorang pahlawan perempuan luar biasa yang nyalinya membuat serdadu Belanda gemetar. Ia adalah Siti Manggopoh, sosok ibu yang rela membagi kasih sayang antara buah hatinya dan kemerdekaan rakyatnya.


‎Perlawanannya dalam Perang Belasting (1908) menjadi catatan emas bagaimana seorang perempuan mampu meruntuhkan dominasi penjajah dengan kecerdasan dan keberanian yang tiada tara.


‎Melawan Penindasan: Perang Belasting 1908

‎Semua bermula ketika Belanda menerapkan kebijakan pajak uang (belasting) yang mencekik. Bagi Siti, kebijakan ini bukan sekadar soal uang, melainkan penghinaan terhadap adat Minangkabau yang menjunjung tinggi tanah sebagai kepunyaan komunal atau kaum.


‎Tak sudi melihat rakyatnya dizalimi, Siti mengatur siasat. Pada 16 Juni 1908, sejarah mencatat peristiwa berdarah bagi Belanda. Dengan strategi yang cerdas, Siti dan pasukannya berhasil menewaskan 53 serdadu penjaga benteng Belanda. Hebatnya, Siti memanfaatkan naluri keperempuanannya untuk memata-matai kekuatan musuh tanpa pernah terjebak dalam rayuan mereka.


‎Konflik Batin: Antara Dekap Bayi dan Panggilan Pertiwi

‎Salah satu kisah yang paling mengharukan dan “bikin merinding” adalah konflik batin yang dialami Siti sebelum menyerbu benteng. Di satu sisi, ada Dalima, anaknya yang masih kecil dan tengah menyusu erat. Di sisi lain, ada jeritan rakyat yang ingin merdeka dari kezaliman.


‎Dengan air mata dan doa, Siti memenangkan panggilan jiwanya. Ia memilih memanggul senjata demi masa depan yang lebih baik bagi rakyatnya, termasuk bagi masa depan anaknya sendiri.


‎Perjuangan di Hutan hingga Dinginnya Jeruji Besi

‎Usai melakukan penyerangan heroik, Siti tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ibu. Ia membawa Dalima kecil melarikan diri dan bertahan hidup di hutan belantara selama 17 hari.


‎Kesetiaannya pada perjuangan berujung pada penangkapan. Siti dipenjara berpindah-pindah, mulai dari Lubuk Basung, Pariaman, hingga Padang. Tragisnya, Dalima tetap berada di pelukannya di dalam sel tahanan. Meski akhirnya Siti dibebaskan—diduga karena kondisi anaknya yang masih kecil—ia harus menerima kenyataan pahit suaminya dibuang ke Manado oleh penjajah.


‎[Image Illustration: Siti Manggopoh with a determined look, holding a weapon while carrying her child in a traditional sling]


‎Warisan Sang Singa Betina

‎Siti Manggopoh wafat pada 22 Agustus 1965, namun namanya abadi di Kompleks Makam Pejuang Manggopoh. Beliau adalah bukti bahwa kemandirian perempuan Minangkabau sudah ada jauh sebelum istilah emansipasi populer. Ia adalah perpaduan sempurna antara ketegasan seorang pejuang dan kelembutan seorang ibu.


‎”Tanah ini adalah milik kaum, bukan milik penjajah. Biarlah raga ini di penjara, asal jiwa rakyat tetap merdeka.”


Bagikan