Ketika Ratusan Pelajar SMP-SMA Mengubah Kota Solo Menjadi Neraka Empat Hari Bagi Belanda, Tepat di Ambang Perundingan Damai‼️

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – Pada bulan Agustus 1949, seluruh dunia menanti hasil Konferensi Meja Bundra (KMB) di Den Haag. Belanda giat melobi, mengklaim bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah hancur dan Republik hanya tinggal nama.

Namun, di Kota Solo, Jawa Tengah yang saat itu diduduki penuh oleh Belanda, ratusan pemuda berseragam sekolah yang kini memegang senjata telah merencanakan operasi rahasia yang paling berani, yang kelak dikenal sebagai Serangan Umum Empat Hari di Surakarta (7-10 Agustus 1949). Mereka adalah Tentara Pelajar (TP), dan misi mereka bukan untuk merebut, melainkan untuk membuktikan satu hal: Republik itu hidup, dan Solo adalah kota yang tak akan pernah menyerah.

Alur Detil Neraka Empat Hari Surakarta
Serangan ini dipimpin oleh komandan karismatik Letnan Kolonel Slamet Riyadi dan melibatkan seluruh elemen kekuatan, termasuk TNI reguler, laskar rakyat, dan terutama, Tentara Pelajar yang berada di bawah komando Mayor Achmadi Hadisoemarto (Detasemen II Brigade XVII/Sub-Wehrkreise 106 Ardjuna).

  1. Titik Nol: Pengepungan dari Empat Penjuru (7 Agustus 1949, Pukul 06.00 WIB)
    Start Serangan: Tepat pukul 06.00 pagi, serangan dilancarkan serentak dari empat penjuru kota. Pasukan Gerilya (TNI dan TP) yang telah menyusup ke dalam kota bersama gerilyawan dalam kota (Pager Desa) menyerbu pos-pos Belanda.

Pembagian Tugas TP: Tentara Pelajar (TP), yang dijuluki “Anak-anak Solo”, memegang peran kunci.

TP sebagai Penyerang: Bertindak sebagai pelopor dalam penyerangan di berbagai sektor, dibantu oleh pasukan TNI.

Zeni Pelajar (TGP): Bertugas membuat ranjau sederhana (seperti bom tarik), dan rintangan di jalan-jalan utama untuk menghalangi pergerakan tank dan kendaraan lapis baja Belanda.

Kekacauan Awal: Serangan mendadak dan masif ini sukses mengejutkan dan membingungkan pasukan Belanda. Dalam satu hari penuh, pertempuran sengit berkobar di empat penjuru, memaksa Belanda hanya bisa bertahan dan mundur ke markas-markas mereka (seperti Benteng Vastenburg).

  1. Api Balasan dan Kebangkitan Rakyat (8 – 9 Agustus 1949)
    Reaksi Brutal Belanda: Merasa terhina karena diserang oleh “anak-anak kemarin sore”, Belanda melancarkan serangan balasan yang membabi buta. Mereka mengerahkan tank-tank dan bahkan armada pesawat tempur untuk menghujani Solo dengan bom.

Rakyat Bersatu: Alih-alih gentar, serangan udara Belanda justru menyulut amarah rakyat Solo. Seluruh masyarakat, termasuk perempuan dan tenaga kesehatan, turut serta berjuang. Mereka membantu:

Membuat Rintangan: Menggali parit dan melobangi jalanan agar tidak bisa dilalui tank Belanda.

Logistik: Menyediakan makanan dan informasi bagi para pejuang.

Peran Kunci TP: Di tengah hujan peluru dan bom, anggota TP bergotong royong menjalankan tugas berisiko tinggi: mengibarkan Bendera Merah Putih di tiang listrik, tiang telepon, atau puncak-puncak pohon di setiap wilayah yang berhasil dikuasai, sebagai simbol eksistensi Republik.

  1. Korban Sipil dan Gencatan Senjata (9 – 10 Agustus 1949)
    Tragedi Kemanusiaan: Serangan balasan Belanda menyebabkan banyak korban sipil. Terjadi pembantaian brutal oleh pasukan khusus Belanda di beberapa lokasi sensitif, seperti Pasar Kembang dan Markas PMI (Palang Merah Indonesia), yang menewaskan petugas PMI, pengungsi, bahkan wanita dan bayi.

Kemenangan Moral: Meskipun menderita kerugian besar di pihak sipil, secara militer, Tentara Pelajar dan TNI berhasil mendesak Belanda dan membuat mereka terkepung di markas-markasnya. Solo menjadi “zona berdarah” yang tak bisa dikendalikan Belanda.

Perintah Berhenti: Pada 10 Agustus 1949, demi menghormati instruksi gencatan senjata (Cease-fire) yang diperintahkan oleh Presiden Soekarno (sebagai bagian dari persiapan KMB), pertempuran 4 hari 4 malam yang menyatukan seluruh elemen Solo ini dihentikan.

Dampak Historis
Serangan Umum Empat Hari di Surakarta membuktikan kepada dunia, terutama kepada delegasi Belanda yang berada di Den Haag, bahwa TNI dan perlawanan rakyat, termasuk yang dipimpin oleh Tentara Pelajar, masih utuh dan sangat kuat. Peristiwa heroik ini menjadi salah satu penentu psikologis dalam perundingan KMB yang akhirnya memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

Sumber
Jurnal Ilmiah (Neliti). The Role of Student Soldiers in War Four Days in Solo in 1949. (Mengkonfirmasi tanggal 7-10 Agustus 1949, peran TGP, taktik bumi hangus sebelum pendudukan Belanda, dan peran serangan untuk mendapatkan posisi saat cease fire).

Good News From Indonesia (GNFI). Semangat Tentara Pelajar dalam Serangan Umum Empat Hari di Solo… (Menjelaskan koordinasi di bawah Detasemen II Brigade XVII/Sub-Wehrkreise 106 Ardjuna pimpinan Mayor Achmadi dan tujuan politik serangan untuk KMB).

Netralnews. Jejak Perjuangan Tentara Pelajar dalam Serangan Umum di Surakarta. (Mengutip wawancara dengan mantan Tentara Pelajar, Ngadimin Citro Wiyono, mengenai peran TP mengumpulkan mayat, melobangi jalan, dan semangat perlawanan).

Liputan6.com / Merdeka.com / Sindonews. Kisah Pertempuran 4 Hari di Solo… (Mengkonfirmasi serangan dipimpin Letkol Slamet Riyadi dari empat penjuru, penggunaan pesawat tempur Belanda, dan berakhir dengan gencatan senjata).

Bagikan