RATU DENGAN JULUKAN “WANITA BESI” PIMPIN PASUKAN SIKUT‼️

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – Perang Tawan Karang Melahirkan Pahlawan Perempuan, Mengukir Kemenangan Gemilang Bali di Abad ke-19

Klungkung, 24 Mei 1849 –Sejarah Bali dipenuhi kisah-kisah keberanian yang berujung pada pengorbanan suci puputan. Namun, pada pertengahan abad ke-19, Klungkung melahirkan sebuah kisah perlawanan yang dipimpin oleh seorang perempuan perkasa, I Dewa Agung Istri Kanya. Perannya dalam Perang Kusamba yang meletus pada 24 Mei 1849 tidak hanya heroik, tetapi juga berhasil mengukir kemenangan tak terduga melawan kekuatan kolonial Belanda.

Perang ini berakar dari penolakan keras Kerajaan Klungkung terhadap intervensi Belanda atas hukum adat Tawan Karang, yang mengatur hak kerajaan atas kapal karam di wilayahnya. Tekanan Belanda yang semakin intensif akhirnya memicu letusan pertempuran.

Benteng Goa Lawah dan Serangan Balik Senyap
Menghadapi invasi Belanda, Raja Perempuan Klungkung, I Dewa Agung Istri Kanya—yang bergelar Kanya (melajang) karena pilihan hidupnya dan dijuluki “Wanita Besi” oleh Belanda sendiri karena ketegasannya—memimpin langsung perlawanan. Beliau menempatkan lebih dari 2000 pasukan sikep (prajurit rakyat) sebagai benteng terdepan di Pura Goa Lawah.

Meskipun kalah dalam persenjataan dan terdesak mundur ke Kusamba, Ratu Istri Kanya menyiapkan serangan balik yang cerdik.

Pada malam tanggal 24 Mei 1849, para sikep Klungkung yang dipimpin oleh panglima tangguh melancarkan serangan kejutan yang sunyi ke markas pasukan Belanda. Dalam kegelapan yang pekat, serangan mendadak itu menimbulkan kekacauan luar biasa di pihak kolonial.

Jenderal Belanda Terjungkal dan Wafat
Puncak drama terjadi ketika pemimpin ekspedisi militer Belanda, Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, seorang jenderal veteran yang telah memenangkan perang di tujuh daerah, berdiri di depan puri untuk mengendalikan pasukannya yang kalang kabut.

Melihat kondisi ini, laskar Klungkung memanfaatkan keadaan. Sebuah tembakan peluru cahaya yang dilepaskan oleh tentara Belanda untuk menerangi area justru menjadi penanda posisi Jenderal Michiels. Para laskar pemating Klungkung dengan cepat mendekati target.

Jenderal Michiels pun terjungkal. Ia terluka parah dan harus dievakuasi mundur ke Padangbai. Dua hari setelahnya, kabar duka bagi Belanda menyebar: Jenderal Michiels meninggal dunia akibat luka-lukanya. Kematian seorang Jenderal tertinggi di medan perang adalah peristiwa langka dan memalukan bagi otoritas kolonial.

Kemenangan Harga Diri
Perang Kusamba memang menelan korban jiwa yang besar di pihak Klungkung—sekitar 800 laskar gugur—tetapi keberhasilan membunuh pemimpin tertinggi militer Belanda menjadikannya sebuah kemenangan moral dan harga diri yang gemilang bagi rakyat Bali.

I Dewa Agung Istri Kanya, selain sebagai Dewi Perang yang gagah berani di medan laga, juga dikenang sebagai Rakawi (Penyair) yang mencintai sastra, mengukuhkan dirinya sebagai simbol ketangguhan perempuan Bali yang berjuang melalui senjata dan budaya. Meskipun Kerajaan Klungkung baru takluk puluhan tahun kemudian dalam Puputan Klungkung 1908, Perang Kusamba adalah momen di mana Bali menunjukkan bahwa martabatnya tidak dapat dibeli dengan ancaman kolonial.

Sumber Referensi Utama
Dewa Agung Istri Kanya (Wikipedia Indonesia): Menggambarkan perannya sebagai pemimpin Perang Kusamba (1849) dan julukan “Wanita Besi” dari Belanda.

Sejarah Klungkung/Bali Abad ke-19: Mencatat kronologi Perang Kusamba, isu Tawan Karang, dan fakta gugurnya Mayor Jenderal A.V. Michiels.

Buku dan Jurnal Sejarah Klungkung: Menguatkan peran I Dewa Agung Istri Kanya sebagai raja, pejuang, dan sastrawan (rakawi).

Bagikan