Surabaya . jelajahpenanews.com – Dalam catatan sejarah politik Indonesia modern, jarang ada tokoh yang memiliki daya tahan sekuat Wiranto. Ia adalah sosok “pemain maraton” di panggung kekuasaan. Dari era baret hijau di barak militer hingga setelan jas di istana, Wiranto membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar saksi sejarah, melainkan aktor kunci yang tak tergantikan di tiga zaman berbeda.
Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Wiranto kembali mendapatkan mandat strategis sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Politik dan Keamanan. Sebuah posisi yang menegaskan bahwa pengalamannya masih sangat dibutuhkan oleh negara.
Zaman Orde Baru: Sang Ajudan dan Puncak Militer
Karier Wiranto mengalami akselerasi luar biasa saat ia terpilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto pada 1989. Kedekatan ini memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola negara dan manajemen konflik. Tak butuh waktu lama bagi lulusan AMN 1968 ini untuk mendaki puncak tertinggi militer.
Pada tahun 1998, di tengah guncangan krisis moneter dan tuntutan reformasi, Wiranto menjabat sebagai Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan. Di pundaknya, nasib stabilitas nasional dipertaruhkan.
Zaman Reformasi: Pengawal Transisi yang Kritis
Banyak pihak menilai keberhasilan Indonesia melewati transisi berdarah tahun 1998 tanpa perang saudara yang meluas adalah berkat peran moderat Wiranto. Sebagai Panglima, ia mengambil posisi yang menentukan: mengawal pengunduran diri Soeharto secara konstitusional dan menjamin keamanan Presiden berikutnya.
Memasuki era politik terbuka, Wiranto bertransformasi menjadi politikus andal. Ia mendirikan Partai Hanura pada 2006, mencalonkan diri dalam Pilpres, dan tetap menjadi magnet bagi setiap Presiden yang menjabat. Terbukti, dari era Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati (sebagai lawan politik hingga koalisi), hingga dua periode Presiden Joko Widodo, nama Wiranto selalu ada di lingkaran kabinet maupun dewan pertimbangan.
Zaman Prabowo: Sang Guru dan Penasihat Khusus
Kembalinya Wiranto ke posisi inti di era Presiden Prabowo Subianto bukanlah tanpa alasan. Sebagai mantan atasan Prabowo di militer sekaligus rekan politik senior, Wiranto memiliki kombinasi langka: insting intelijen yang tajam dan kematangan birokrasi.
Sebagai Penasihat Khusus bidang Politik dan Keamanan, Wiranto diharapkan menjadi “kompas” bagi pemerintahan baru dalam menavigasi tantangan geopolitik global dan stabilitas domestik yang kian kompleks.
Rahasia di Balik Ketangguhan Sang Jenderal
Apa yang membuat Wiranto tetap relevan?
Intelektualitas tanpa Batas: Wiranto bukan sekadar prajurit. Ia adalah seorang Doktor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia. Ia memahami bahwa kekuasaan butuh keilmuan, bukan hanya kekuatan.
Kemampuan Beradaptasi: Ia mampu bertransformasi dari seorang Panglima yang tegas menjadi politikus yang fleksibel namun tetap berpegang pada prinsip “Hati Nurani”.
Ketangguhan Fisik dan Mental: Peristiwa penusukan yang dialaminya pada 2019 menunjukkan mentalitasnya yang tak mudah tumbang. Ia kembali bekerja sesaat setelah pulih, membuktikan dedikasi yang tak padam oleh usia maupun ancaman.
Penutup
Dari Yogyakarta ke Jakarta, dari ajudan hingga penasihat, perjalanan Wiranto adalah pelajaran tentang loyalitas pada negara dan keahlian dalam membaca arah angin politik. Wiranto tetap berdiri tegak, menjadi jembatan sejarah antara masa lalu militer Indonesia yang kuat dan masa depan demokrasi yang dinamis. (Wikipedia)








