LASKAR LOGISTIK YANG MENEMBUS HUJAN TIMAH PANAS DEMI MERDEKA

Reporter : Gombloh

SURABAYA . jelajahpenanews.com — Di kota yang pada November 1945 menjelma palagan hidup-mati, kepahlawanan tak hanya lahir dari moncong senjata. Ia juga tumbuh dari kepulan asap dapur umum, dari wajan dan periuk yang tak pernah dingin. Di sanalah berdiri Darijah Soerodikoesoemo, yang oleh rakyat pejuang dijuluki Bu Dar “Mortir.”

Julukan itu bukan karena ia menembakkan senjata berat, melainkan karena keteguhannya bekerja di bawah hujan mortir musuh, tanpa surut, demi memastikan perut para pejuang tetap terisi. Bu Dar membuktikan: logistik adalah denyut nadi perlawanan.

DAPUR UMUM DI TENGAH NERAKA KOTA.
Ketika pasukan Inggris dan NICA menggempur Surabaya dari darat, laut, dan udara, kota ini bergetar oleh ledakan artileri. Tanpa makanan dan air, semangat Arek-Arek Suroboyo akan runtuh. Bu Dar hadir di titik paling rawan itu, memimpin “pertempuran” yang sunyi namun menentukan.

Dengan ciri khas susur sugih (rokok klembak menyan) terselip di bibir, ia mengorganisasi ibu-ibu dan remaja putri, mengumpulkan bahan seadanya, memasak, lalu menyalurkan nasi bungkus dan air bersih ke pos-pos pertahanan. Malam hari, mereka bergerak merunduk, bahkan merangkak, menghindari tembakan penembak jitu. Setiap langkah adalah taruhan nyawa.

Garis Pertahanan Perut Pejuang.
Bu Dar adalah pionir pembentukan dapur-dapur umum darurat, garis pertahanan perut pejuang. Di saat gelap dan mencekam, rombongan logistik ini menembus zona merah, membawa bekal agar senjata tetap diangkat dan tekad tak runtuh.

Pengorbanan Tanpa Tawar.
Catatan sejarah mencatat pengorbanan yang tak terbantahkan. Saat sebagian pejuang mundur ke Jombang pada 1945, Bu Dar melepaskan kalung dan gelang emasnya (sekitar 100 gram) untuk ditukar bahan pangan. Tindakan ini bukan simbolik, melainkan keputusan strategis yang menjaga pergerakan pasukan tetap bernapas.

Menyamar Demi Republik.
Perjuangannya berlanjut. Bu Dar diminta mengurusi dapur umum COPP VI (Corps Pertahanan) di bawah pimpinan Latif Hadiningrat. Tugasnya kian berbahaya: menyuplai kebutuhan TNI yang bergerilya, bahkan menyamar sebagai pedagang untuk menembus kota yang dikuasai musuh. Wajan dan periuknya berubah menjadi senyap senjata republik.

Bu Dar “Mortir” menegaskan satu kebenaran abadi: Merdeka atau Mati bukan hanya seruan di garis depan. Ia juga dihidupi oleh mereka yang berjuang dengan logistik menjadikan dapur umum benteng vital kedua setelah senjata.

Bagikan