Surabaya . jelajahpenanews.com – Di hamparan tanah Goa, Sulawesi Selatan, lahirlah seorang anak kampung bernama Ramang—kelak dikenal sebagai denyut nadi sepak bola Indonesia pada era 1950-an. Dari permainan raga yang melatih kelenturan dan insting akrobatiknya, ia menjelma menjadi penyerang dengan gaya yang tak lazim pada zamannya: lincah, eksplosif, dan artistik.
Bersama PSM Makassar, Ramang mengukir reputasi sebagai “Si Kancil”—julukan yang menggambarkan tubuh mungilnya namun pergerakan cerdiknya yang sulit dibendung. Ia bukan hanya mencetak gol; ia menghadirkan pertunjukan. Tendangan salto dan sepakan kerasnya menjadi legenda yang diceritakan lintas generasi.
Di panggung internasional, namanya bersinar bersama Tim Nasional Indonesia. Tahun 1954 menjadi saksi ketajamannya saat tur Asia, di mana sebagian besar gol Garuda lahir dari kakinya. Namun momen paling monumental terukir pada Olimpiade Melbourne 1956. Ketika Indonesia menahan imbang Uni Soviet—raksasa sepak bola dunia—Ramang tampil tanpa gentar. Di bawah mistar lawan berdiri Lev Yashin, kiper legendaris yang kelak dijuluki “Laba-laba Hitam”. Tendangan-tendangan Ramang memaksa sang maestro bekerja keras, dan dunia pun mulai menoleh kepada Indonesia.
Ketajamannya mengundang tawaran dari luar negeri, termasuk klub-klub Asia dengan iming-iming bayaran besar. Namun Ramang memilih setia pada Merah Putih—sebuah keputusan yang menjadikannya bukan hanya legenda lapangan, tetapi juga simbol nasionalisme.
Karier bermainnya berakhir pada 1968, namun dedikasinya tak pernah padam. Ia melanjutkan pengabdian sebagai pelatih dan pembina, menanamkan filosofi bahwa sepak bola adalah keberanian, kreativitas, dan harga diri bangsa. Pada 2025, negara menganugerahkan Bintang Jasa Nararya sebagai penghormatan atas kontribusinya—sebuah pengakuan resmi atas warisan yang telah lama hidup di hati rakyat.
Ramang bukan sekadar nama dalam sejarah; ia adalah mitos yang berdenyut dalam ingatan kolektif. Di setiap cerita tentang keberanian Garuda di masa silam, di sanalah gema langkah “Si Kancil” masih terdengar—ringan, cepat, dan abadi.








