JENDERAL ANTI-PKI, PEMBUKA JALAN ORDE BARU‼️

Reporter : Gombloh

JAKARTA . jelajahpenanews.com — Nama Letnan Jenderal (Purn.) Achmad Kemal Idris (10 Februari 1923 – 28 Juli 2010) tercatat kokoh dalam babak paling menentukan sejarah Republik Indonesia. Ia bukan sekadar saksi, melainkan aktor utama dalam transisi kekuasaan dari Orde Lama menuju Orde Baru, sebuah fase genting ketika nasib bangsa berada di ujung pertaruhan.
Bersama dua jenderal idealis lainnya, Mayjen H.R. Dharsono dan Brigjen Sarwo Edhie Wibowo, Kemal Idris menjelma trisula militer yang menancap kuat di jantung sejarah. Ketiganya dikenal sebagai perwira anti-PKI yang militan, berdiri tegak menghadapi ancaman ideologi yang dinilai mengoyak persatuan bangsa dan mengguncang sendi-sendi negara.

Lahir di Singaraja, Bali, dari pasangan perantau Minangkabau, Muhammad Idris dan Siti Maimunah. Kemal Idris tumbuh dalam tradisi disiplin dan semangat merantau. Pendidikan ELS dan HBS membentuk watak intelektualnya, namun jalan hidupnya menemukan panggilan sejati ketika ia memasuki dunia militer melalui sekolah Jepang Seinen Kunrenso. Di sanalah, baris-berbaris, komando, dan kepemimpinan baja menempa seorang perwira yang kelak dikenal luas dengan panggilan akrab, “Kem.”

LIKU KARIER MILITER DAN SIKAP TEGAS ANTI-PKI
Karier militer Kemal Idris adalah kisah tentang keteguhan dalam badai politik. Sebagai perwira PETA di Bali, ia kemudian bergabung dengan Divisi Siliwangi, satuan legendaris yang menjadi kawah candradimuka para perwira pejuang. Pengalaman paling membekas baginya adalah keterlibatan langsung dalam penumpasan Pemberontakan PKI/Muso di Madiun, sebuah tragedi nasional yang membuka matanya terhadap bahaya ideologi komunis.

“Sejak itu Kemal Idris tidak menyukai PKI karena menyaksikan langsung korban-korban keganasan PKI terhadap orang-orang yang mereka tangkap,” demikian dicatat dalam biografinya.

Pasca-Revolusi, ia dipercaya memimpin Brigade di Jakarta dan Resimen Tujuh, dengan tugas berat menumpas sisa-sisa pemberontakan DI/TII. Namun, sikapnya yang lurus dan keras kerap berseberangan dengan kekuasaan. Peristiwa 17 Oktober 1952 menjadi titik pahit: sebagai Komandan Resimen ke-7 Divisi Siliwangi, Kemal Idris mengerahkan artileri, panser, tank, dan meriam dengan moncong mengarah ke Istana Negara—sebuah langkah yang ia yakini sebagai pengamanan negara, namun berujung pada pembekuan kariernya.

Ia pun “diparkir” oleh Presiden Soekarno dalam waktu lama. Bahkan sepulang memimpin Kontingen Garuda III di Kongo (1962), Kemal Idris sempat kembali tanpa jabatan jelas. Namun sejarah membuktikan, perwira sejati tidak tumbang oleh waktu.

TRISULA PENEGAK TRANSISI
Titik balik datang pada Januari 1964, ketika ia ditugaskan sebagai Panglima Kopur Kostrad di bawah Mayor Jenderal Soeharto, lalu diangkat menjadi Kepala Staf Kostrad pada November 1965. Puncaknya, pada 1967, Kemal Idris resmi menjabat Panglima Kostrad.
Dalam kurun 1965–1967, saat Orde Lama masih berupaya mempertahankan cengkeramannya, ABRI berada dalam kondisi tidak solid. Di tengah situasi rawan itulah, peran trisula jenderal anti-PKI menjadi penentu.
Kemal Idris, Dharsono, dan Sarwo Edhie bekerja senyap namun tegas, mengamankan proses perubahan, menopang gerakan mahasiswa, dan memperkuat posisi Jenderal Soeharto. Di Jakarta, Kemal Idris dikenal sebagai arsitek momentum, sosok yang menciptakan tekanan politik dan keamanan hingga akhirnya mempercepat lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), dokumen bersejarah yang menandai peralihan kekuasaan nasional.

Jabatan militer terakhir yang diembannya adalah Panglima Komando Antar Wilayah Indonesia Bagian Timur (1969), cikal bakal Pangkowilhan, dengan pangkat Letnan Jenderal.

DARI MEDAN KUASA KE PENGABDIAN SIPIL
Pensiun dari militer pada 1972 tidak menghentikan pengabdiannya. Kemal Idris dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Yugoslavia merangkap Yunani, membawa nama bangsa di panggung internasional. Sepulangnya, ia menekuni dunia usaha, termasuk pengelolaan penanggulangan sampah di Jakarta, sebuah pilihan yang membuat publik menjulukinya “Jenderal Sampah.” Sebuah julukan unik bagi perwira tinggi yang tak gengsi turun ke persoalan rakyat.

Letjen (Purn.) Achmad Kemal Idris wafat pada 28 Juli 2010. Ia meninggalkan jejak sebagai perwira keras kepala, anti-kompromi terhadap ideologi yang mengancam negara, dan setia pada keyakinannya tentang arah Republik.
Sejarah boleh berdebat, zaman boleh berganti. Namun satu hal tak terbantahkan: Kemal Idris adalah bagian dari tangan-tangan besi yang membentuk arah Indonesia di persimpangan paling berbahaya dalam perjalanan bangsanya.

Bagikan