PEMUDA 19 TAHUN GUGUR SAAT LEDAKKAN GUDANG SENJATA SEKUTU DAN NICA

Reporter : Gombloh

Surabaya . jelajahpenanews.com – Mohammad Toha adalah nama yang menyatu abadi dengan Bandung Lautan Api, sebuah peristiwa maha dahsyat yang bukan sekadar tragedi, melainkan strategi perlawanan paling berani dalam sejarah Revolusi Indonesia. Ia bukan jenderal, bukan pula pejabat tinggi militer. Ia hanyalah seorang pemuda Republik, berusia sekitar 19 tahun, yang memilih berdiri di garis paling depan ketika nasib tanah air dipertaruhkan.

Pada Maret 1946, Bandung berada dalam kepungan maut. Pasukan Sekutu dan NICA berupaya menjadikan kota ini sebagai pangkalan militer untuk menancapkan kembali cengkeraman kolonial di Jawa Barat.
Ultimatum pengosongan kota adalah ancaman telanjang terhadap kedaulatan Republik yang baru seumur jagung. Di titik inilah para pejuang mengambil keputusan yang mengguncang sejarah: Bandung tidak boleh jatuh utuh ke tangan musuh. Lebih baik dibumihanguskan, daripada dijadikan alat penjajahan kembali.

Malam 23 hingga 24 Maret 1946 menjadi saksi tekad itu. Ribuan rumah dan bangunan strategis di Bandung Selatan dibakar oleh tangan anak bangsa sendiri. Api menjilat langit, menyala tanpa henti, terlihat dari perbukitan sekeliling kota. Bandung berubah menjadi samudra api, dan dari sanalah lahir nama Bandung Lautan Api sebagai simbol perlawanan.

Namun, di tengah kobaran yang menggetarkan langit dan bumi, terselip satu aksi yang menentukan arah pertempuran. Di Dayeuhkolot, berdiri gudang amunisi raksasa milik Sekutu dan NICA sebagai jantung logistik musuh. Jika gudang itu tetap utuh, senjata-senjata di dalamnya akan menjadi alat pembantaian bagi para pejuang Republik. Maka, Mohammad Toha bersama Mohammad Ramdan menerima tugas yang nyaris mustahil: menyusup dan menghancurkannya.

Ini bukan operasi biasa. Ini adalah misi yang nyaris pasti berujung maut. Namun, bagi Toha, kemerdekaan lebih bernilai daripada nyawa. Dengan keberanian yang melampaui rasa takut, ia berhasil masuk ke area gudang dan memasang bahan peledak. Tak lama kemudian, ledakan dahsyat mengguncang Dayeuhkolot. Gudang amunisi musnah. Kekuatan tempur musuh di Bandung Selatan pun lumpuh seketika.

Mohammad Toha gugur dalam ledakan itu. Dalam catatan akademik, ia tercatat sebagai pejuang yang tewas dalam operasi sabotase militer. Namun dalam ingatan bangsa, ia adalah simbol keberanian tanpa kompromi, seorang pemuda yang dengan sadar menuntaskan misi hingga titik terakhir, tanpa memberi sedikit pun ruang bagi musuh untuk bangkit atau membahayakan kawan seperjuangan.

Ledakan Dayeuhkolot memang bukan sebab utama lahirnya istilah Bandung Lautan Api. Sebutan itu muncul dari pembakaran massal Bandung Selatan. Namun aksi Mohammad Toha menjelma sebagai roh perlawanan dan keberanian yang membakar semangat revolusi. Tak heran jika bekas lokasi ledakan itu lama dikenal sebagai Balong Toha, penanda ingatan rakyat terhadap pengorbanan seorang anak bangsa.

Bandung Lautan Api bukan sekadar kisah kota yang dibakar, melainkan cerita tentang harga kemerdekaan. Dan dalam kisah itu, Mohammad Toha berdiri tegak sebagai bukti bahwa seorang pemuda biasa, dengan satu keputusan tanpa jalan kembali, mampu mengguncang musuh dan mengukir kehormatan bagi Republik Indonesia.

Bagikan