Surabaya . jelajahpenanews.com – Di tengah kekacauan awal kemerdekaan Indonesia, ketika negara masih rapuh dan ekonomi rakyat terpuruk, muncul sosok pejuang yang berpikir jauh melampaui pakem zamannya: Mayor Jenderal Moestopo. Ia bukan hanya dokter gigi, bukan sekadar jenderal, melainkan seorang pemikir revolusioner yang mampu membaca realitas sosial apa adanya bahkan sisi gelap masyarakat lalu mengubahnya menjadi kekuatan perjuangan.
Salah satu episode paling unik dalam sejarah revolusi Indonesia adalah keberadaan Pasukan Terate, satuan non-konvensional yang direkrut Moestopo dari kalangan yang selama ini dipandang sebelah mata: para kriminal, pencopet, perampok, hingga pelacur. Di masa ketika kemiskinan merajalela dan negara belum sanggup menjamin kesejahteraan rakyatnya, kejahatan menjadi konsekuensi sosial yang tak terhindarkan. Namun, bagi Moestopo, kondisi itu bukan sekadar masalah melainkan peluang strategis di medan perang.
Keahlian mencuri, menyelinap, dan menghilang tanpa jejak justru menjadi senjata ampuh Pasukan Terate saat diterjunkan melawan tentara Belanda, khususnya di wilayah Subang. Tanpa letusan senjata, mereka berhasil “menguras” persenjataan musuh mulai dari senapan hingga perlengkapan militer. Bahkan, kisah legendaris tentang serdadu Belanda yang kehilangan pakaian saat mandi di sungai menjadi anekdot jenaka sekaligus simbol betapa efektif dan memalukannya operasi gerilya ini bagi penjajah.
Aksi-aksi perampokan terencana di wilayah kekuasaan Belanda juga berfungsi sebagai pengalih perhatian. Saat Belanda sibuk memburu para “garong”, pasukan pejuang lain justru leluasa menanam ranjau, memutus jaringan komunikasi, dan melumpuhkan tangsi-tangsi militer. Sebuah strategi cerdik yang menunjukkan bahwa revolusi tidak selalu dimenangkan oleh pasukan rapi dan berseragam.
Namun, seperti api yang sulit dikendalikan, Pasukan Terate pun memiliki sisi gelapnya sendiri. Kebiasaan mencuri yang melekat tak mengenal batas. Bahkan Moestopo sendiri pernah kehilangan koper pakaian, sementara para pejuang lain mendapati sepatu dan celana mereka raib entah ke mana. Letkol Sukanda Bratamanggala, dalam memoarnya, mengenang peristiwa ini dengan tawa getir senjata yang akhirnya memakan tuannya sendiri.
Kemarahan Moestopo pun memuncak. Pasukan Terate dibubarkan, dan kisah mereka perlahan tersingkir dari narasi resmi sejarah revolusi. Namun ruh mereka tidak benar-benar hilang. Dalam bentuk-bentuk kecil seperti Laskar Maling, Pasukan Copet, dan kelompok-kelompok serupa, mereka tetap bergerak dan tercatat dalam dinamika perjuangan, termasuk dalam barisan Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka sebuah upaya besar menyatukan seluruh kekuatan rakyat demi kemerdekaan sepenuhnya.
Lebih dari sekadar kisah pasukan “aneh”, cerita ini memperlihatkan keunikan Moestopo sebagai tokoh revolusi. Ia memahami bahwa perjuangan bukan hanya soal senjata dan disiplin militer, tetapi juga tentang membaca manusia, zaman, dan realitas sosial. Di luar kiprahnya sebagai jenderal, Moestopo juga memberi sumbangan besar dalam dunia pendidikan dan kedokteran gigi identitas yang melekat kuat pada dirinya hingga akhir hayat.
Pejuang kelahiran Kediri ini akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, sebuah pengakuan atas kecerdasan, keberanian, dan kejeniusan berpikirnya. Kisah Moestopo dan barisan “maling”-nya adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia tidak selalu hitam-putih kadang, justru abu-abu itulah yang memenangkan revolusi.
Sumber : Kompasiana.com








