Surabaya . jelajahpenanews.com – Didalam Kepercayaan Jawa bahwa Kematian adalah sebuah awal. Kematian adalah proses Jiwa kembali ke asal mula, atau yang disebut dengan “Mulih Mulo Mulanira”, kembali kepada Sumber Asal Mula, yaitu, tempat kembali dari semua kejadian, yang disebut “Sangkan Paraning Dumadi”. Jadi Kematian hanya terjadi pada Tubuh Kasar atau Raga. Tubuh Halus akan tetap Hidup Abadi meneruskan perjalanannya.
Dinamika Spiritual Jawa terjadi akibat dari Masyarakat Jawa yang terbuka menerima budaya apa saja termasuk agama-agama yang datang ke Tanah Jawa membawa serta budayanya dari sana, sehingga membuat bingung bagi mbah-mbah kita yang awam, akhirnya pasrah melu grubyuk yang mana yang banyak diikuti saja. Padahal Ajaran Budaya Jawa sendiri sebelum agama-agama asing masuk telah meliputi seluruh aspek kehidupan mulai dari kehidupan sebelum kelahiran, kemudian Kelahiran, hingga Kematian.
Nenek moyang kita dahulu belajar Sastra Cetha Tanpa Tulis. Mereka mengikuti saja terhadap proses Alam Semesta, dengan keyakinan bahwa Proses yang Baik akan berakhir dengan Baik (Kebahagian) dan Poses yang Buruk akan berakhir dengan Buruk(Penderitaan) karena manusia adalah bagian dari Alam Semesta. Faktanya memang begitu adanya. Tidak perlu mendeskripsikan Surga seperti apa atau Neraka seperti apa, berbuat baik saja selanjutnya Pasrah sumarah kepada Gusti. Wis, begitu.
Kita berbuat baik saja, Jika memiliki kelebihan uang, sebaiknya, bukan untuk membangun tempat ritual atau dihabiskan untuk mengunjungi tempat-tempat ritual yang jauh hanya demi keyakinan bahwa itu akan membawa ke Surga, maka, sebaiknya digunakan untuk memberi makan para Yatim Piatu, membeli Buku-buku pelajaran sekolah, membeli pakaian buat mereka para Yatim Piatu, syukur-syukur digunakan untuk membantu beasiswa mereka.
Perbuatan Budi Luhur itu akan berbuah yang dapat anda panen saat ini dan pada kelahiran berikutnya setelah kematian sekalipun anda tidak mengharapkan balasan. Sebab, memang sudah ketentuan hukum Alam Semesta, yang didalam Ajaran Jawa disebut “Wong Urip Ngundhuh Wohing Pakarti”.
Semoga semua Makluk berbahagia.








