GUGURNYA SANG GARUDA BALI‼️”Pertempuran Puputan Margarana. I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Ciung Wanara Berjuang Hingga Tetes Darah Penghabisan”

Reporter : Gombloh

TABANAN, Bali . jelajahpenanews.com – Suara tembakan dan dentuman mortir menjadi saksi bisu hari paling heroik namun juga paling memilukan dalam sejarah perjuangan Bali. Pada Rabu pagi, 20 November 1946, di Desa Marga, Tabanan, Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, pemimpin Resimen Ciung Wanara, bersama seluruh pasukannya, dengan gagah berani memilih takdir “Puputan” melawan ribuan serdadu Belanda (KNIL) yang bersenjata lengkap.

Peristiwa ini, yang kini dikenal sebagai Puputan Margarana, adalah puncak dari penolakan keras Ngurah Rai terhadap upaya Belanda yang ingin menguasai kembali Bali di bawah payung Negara Indonesia Timur (NIT).

DRAMA PENGEPUNGAN DAN SURAT “TEKEN MATI”
Ketegangan mencapai puncaknya setelah pasukan Ngurah Rai berhasil merebut persenjataan di Tangsi Polisi Tabanan pada 18 November. Kemenangan kecil itu justru memantik amarah besar Komando Belanda. Dua hari kemudian, mereka mengerahkan Brigade Y (“Gajah Merah”) dengan kekuatan penuh, mengepung pasukan Ciung Wanara di wilayah Marga.

Melihat posisi pasukannya yang terjepit dan dikelilingi oleh musuh yang didukung pesawat terbang dan artileri berat, Ngurah Rai mengambil keputusan yang mencerminkan martabat seorang ksatria. Sebuah pesan lisan heroik ia kirimkan kepada Belanda:

“Kami tidak akan mundur. Kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Biarlah kami hancur, tetapi kami tidak akan menyerah kepada penjajah!”

Pesan ini, yang populer sebagai “Teken Mati” (bertindak sampai mati), adalah deklarasi perang spiritual dan fisik yang paling agung. Ngurah Rai tahu, secara militer mereka akan kalah, namun ia memilih kemuliaan harga diri bangsa di atas kehidupan pribadi.

PERTEMPURAN ABADI DI LADANG JAGUNG
Pukul 08.00 pagi, pertempuran pecah. Pasukan Ciung Wanara, hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang, dan senapan rampasan seadanya, berhadapan dengan hujan peluru. Mereka melawan dengan taktik gerilya, menyerang dan menghilang di antara semak belukar.

Namun, keunggulan senjata dan jumlah pasukan Belanda tak terbendung. Ketika situasi semakin putus asa, Letkol I Gusti Ngurah Rai memberikan perintah terakhir yang menggema di hati para pejuang: “Puputan!”

Dengan pekikan perang yang membakar, para pejuang Bali berdiri tegak. Mereka maju menyerbu barisan musuh, mengorbankan diri tanpa gentar, sebuah pemandangan yang membuat tentara Belanda terperangah. Mereka memilih mati sebagai pahlawan bangsa ketimbang hidup sebagai budak kolonial.

Hingga tengah hari, seluruh anggota Resimen Ciung Wanara, termasuk sang komandan gagah berani, I Gusti Ngurah Rai, gugur sebagai kusuma bangsa di ladang Marga. Lebih dari 400 pejuang Bali gugur hari itu.

Meskipun tragis, kekalahan militer ini menghasilkan kemenangan spiritual yang abadi. Pengorbanan I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Bali tidak pernah menerima penjajahan.

Hari ini, darah para pahlawan Margarana telah menyuburkan tanah kemerdekaan. Kisah pengorbanan ini akan selalu diceritakan, mengukuhkan I Gusti Ngurah Rai sebagai Pahlawan Nasional dan simbol keberanian sejati Pulau Dewata.

Sumber Laporan:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud), Direktorat SMP.

Arsip Nasional RI dan Dokumen Sejarah Perjuangan Bali.

Laporan Jurnalistik Militer Belanda (KNIL) mengenai Pertempuran Marga, 20 November 1946.

Wawancara dengan Veteran Pejuang Bali (referensi umum).

Bagikan