3 Faktor Penentu Kenaikan Gaji Karyawan, Pakar: Jangan Hanya Berdasarkan Masa Kerja

Red JPN

Provinsi Banten. Jelajahpenanews . COM – Penentuan kenaikan gaji karyawan sebaiknya tidak lagi hanya mengacu pada masa kerja atau pertimbangan subjektif. Praktisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menilai, keputusan penyesuaian upah idealnya didasarkan pada sistem evaluasi yang objektif, terukur, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui materi bertajuk “3 Kriteria Wajib Kamu untuk Naikin Gaji Karyawanmu” dalam sesi Leadership Workshop yang diselenggarakan SANDS BOSUM Business Education Indonesia, dijelaskan bahwa terdapat tiga indikator utama yang perlu menjadi dasar dalam memberikan usulan kenaikan gaji kepada karyawan.

Ketiga indikator tersebut meliputi prestasi kerja (skill), kemampuan interpersonal (soft skill), dan sikap kerja (attitude), yang masing-masing memiliki bobot penilaian berbeda.

Skill dan Prestasi Kerja Menjadi Fondasi

Aspek pertama adalah skill atau prestasi kerja dengan bobot sekitar 30 persen. Penilaian mencakup kemampuan teknis, hasil kerja, produktivitas, hingga tingkat pencapaian target yang telah ditetapkan perusahaan.

Karyawan yang secara konsisten menunjukkan performa tinggi dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan organisasi dinilai layak memperoleh apresiasi melalui penyesuaian kompensasi.

Soft Skill Turut Menentukan

Selain kemampuan teknis, soft skill juga menjadi faktor penting dengan bobot 30 persen.

Penilaian pada aspek ini meliputi kemampuan komunikasi, kerja sama tim, inisiatif, kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving), hingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan di lingkungan kerja.

Dalam dunia kerja modern, kompetensi interpersonal dinilai memiliki pengaruh besar terhadap efektivitas kerja dan keberhasilan kolaborasi antarpegawai.

Attitude Memiliki Bobot Terbesar

Sementara itu, attitude atau sikap kerja memperoleh bobot penilaian terbesar, yakni 40 persen.

Penilaian mencakup integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, komitmen terhadap pekerjaan, serta kepatuhan terhadap peraturan dan budaya perusahaan.

Sikap profesional dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Kondisi Keuangan Perusahaan Tetap Menjadi Pertimbangan

Meski demikian, keputusan akhir terkait kenaikan gaji tidak hanya bergantung pada hasil penilaian individu.

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan kondisi bisnis, kemampuan finansial, serta keberlanjutan operasional agar kebijakan kompensasi tetap sehat dan tidak mengganggu stabilitas perusahaan.

Dengan demikian, sistem penggajian dapat berjalan secara adil bagi karyawan sekaligus realistis bagi perusahaan.

Penilaian Berbasis KPI Dinilai Lebih Objektif

Dalam materi tersebut juga disampaikan bahwa setiap usulan kenaikan gaji idealnya didukung oleh Key Performance Indicator (KPI) atau indikator kinerja yang jelas.

Pendekatan berbasis KPI dinilai mampu menghasilkan keputusan yang lebih objektif, transparan, adil, serta mudah dipertanggungjawabkan karena didukung data dan hasil evaluasi yang terukur.

Mendorong Budaya Kerja Berprestasi

Penerapan sistem evaluasi yang objektif diharapkan mampu menciptakan budaya kerja yang lebih kompetitif sekaligus sehat. Karyawan memiliki motivasi untuk meningkatkan kualitas kerja, sementara perusahaan memperoleh sumber daya manusia yang produktif dan berintegritas.

Di tengah dinamika dunia usaha yang semakin kompetitif, kebijakan pengelolaan SDM berbasis kinerja dinilai menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus menjaga kepuasan dan loyalitas karyawan.(voicewords.pers.co.id // pers.co.id)

Redaksi Voice Words

Bagikan