Negara Hampir Bangkrut, Raja Ini Rela Serahkan Hartanya Rp40 Miliar Demi Gaji Pegawai Bung Karno!

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews . Com Bayangkan sebuah negara yang baru saja merdeka, tidak punya kas sepeser pun, diblokade ekonominya oleh penjajah, dan seluruh pejabatnya tidak bisa digaji. Itulah kondisi darurat yang dialami bayi raksasa bernama Republik Indonesia di awal tahun 1946.

Ketika modal pemerintah benar-benar NOL dan bayang-bayang kebangkrutan ada di depan mata, muncul seorang juru selamat dari tanah Jawa. Beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Penguasa Kesultanan Yogyakarta yang dengan sukarela menyerahkan harta pribadinya demi menyambung napas Republik ini.

Inilah kisah heroik sang Raja berhati emas yang menanggalkan ego feodalnya demi berkibarnya bendera Merah Putih.

  1. Detik-Detik Kas Negara Kosong Melompong
    Setelah proklamasi kemerdekaan, kondisi Jakarta menjadi sangat tidak aman karena teror tentara Sekutu dan NICA (Belanda). Atas undangan Sultan Hamengkubuwono IX, pada Januari 1946, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sepakat memindahkan ibu kota RI secara diam-diam ke Yogyakarta.

Namun, kepindahan itu membawa konsekuensi berat. Pemerintahan baru ini tidak memiliki dana operasional. Blokade laut yang dilakukan Belanda membuat Indonesia tidak bisa melakukan perdagangan internasional. Pegawai instansi pemerintah, tentara, hingga menteri-menteri Bung Karno terancam tidak bisa makan karena kas negara kosong melompong.

  1. Cek Kosong Senilai 6 Juta Gulden
    Melihat kondisi Bung Karno yang pusing tujuh keliling memikirkan nasib negara yang hampir bangkrut, Sultan Hamengkubuwono IX tidak tinggal diam. Tanpa ragu, ia membuka brankas kekayaan Keraton Yogyakarta.

Sultan kemudian menghibahkan uang sebesar 6.000.000 Gulden (jika dikonversi ke nilai mata uang medio abad ke-20 dan disetarakan saat ini, nilainya mencapai lebih dari Rp40 Miliar!) kepada pemerintah RI.

Uang raksasa tersebut digunakan Bung Karno untuk hal-hal yang sangat krusial:

Membiayai seluruh roda pemerintahan RI di Yogyakarta.

Membayar gaji para pegawai negara dan tentara yang menjaga kedaulatan.

Membiayai dana delegasi diplomasi Indonesia agar bisa terbang ke luar negeri demi mencari pengakuan kedaulatan internasional.

  1. “Semua Itu Sumbangan Tulus, Tidak Perlu Dikembalikan”
    Tindakan Sultan ini adalah perjudian besar. Jika saat itu Republik Indonesia gagal mempertahankan kemerdekaan dan runtuh, maka Sultan akan kehilangan seluruh harta kekuasaannya dan dicap sebagai pemberontak oleh Belanda. Namun, bagi Sultan, kedaulatan bangsa berada di atas segalanya.

Bertahun-tahun setelah Indonesia berdaulat penuh dan kondisi ekonomi membaik, Bung Karno sempat menemui Sultan dan bermaksud untuk melunasi utang atau mengembalikan uang 6 juta Gulden tersebut.

Jawaban Sultan sungguh menggetarkan hati. Beliau menolak uang itu dikembalikan dan mengatakan bahwa semua harta yang diserahkan di masa darurat tersebut adalah sumbangan tulus dari Keraton Yogyakarta untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

  1. Pelopor Serangan Umum dan Bapak Pramuka
    Pengorbanan Sultan tidak berhenti pada harta materi. Ketika Yogyakarta jatuh pada Agresi Militer Belanda II, dari dalam Keraton, Sultan menjadi otak di balik Serangan Umum 1 Maret 1949. Beliau yang memberikan ide dan izin kepada Letkol Soeharto untuk menyerbu jantung pertahanan Belanda di siang bolong demi membuktikan kepada dunia bahwa TNI masih hidup.

Di masa tua, sang Raja humanis ini terus mengabdi menjadi Wakil Presiden RI kedua (1973–1978) dan mendirikan gerakan kepanduan nasional hingga dinobatkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX wafat pada 2 Oktober 1988, meninggalkan warisan keteladanan yang tak ternilai harganya. Beliau adalah bukti nyata dari sebuah pameo: “Raja yang sesungguhnya bukan dia yang menuntut dilayani oleh rakyatnya, melainkan dia yang rela menghabiskan seluruh hartanya demi menyelamatkan bangsanya.

Sumber: Wikipedia

HamengkubuwonoIX #SultanJogja #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #BungKarno #KeratonYogyakarta #PahlawanNasional #MerahPutih #InfoSejarah #TokohBangsa #NKRIHargaMati

Bagikan