Mengenal Prof. Soebroto: Satu-satunya Orang Indonesia yang Pernah Mengguncang Dunia Sebagai Bos Besar OPEC

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Bicara soal organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia atau OPEC, pikiran kita pasti langsung tertuju pada deretan pangeran kaya raya dan para raja minyak dari Timur Tengah. Namun, tahukah Anda bahwa dalam catatan sejarah, ada satu momen penting di mana organisasi paling berpengaruh di dunia ini justru “dinakhodai” oleh seorang putra terbaik asli Indonesia?

Nama tokoh legendaris tersebut adalah Prof. Dr. Soebroto, M.A. Beliau bukan sekadar akademisi atau mantan menteri biasa, melainkan diplomat energi genius yang berhasil mengguncang panggung internasional dan diakui oleh negara-negara adidaya.

Ditolak Masuk PETA, Malah Jadi Lulusan Terbaik Akademi Militer
Perjalanan hidup pria kelahiran Kampung Sewu, Surakarta, 19 September 1923 ini penuh dengan kejutan. Di masa pendudukan Jepang, Soebroto muda sangat ingin membela tanah air dengan mendaftar ke tentara Pembela Tanah Air (PETA). Namun, takdir berkata lain—ia ditolak mentah-mentah oleh panitia hanya karena postur badannya dianggap terlalu kurus.

Siapa sangka, pemuda yang sempat ditolak itu justru membuktikan tajinya pasca-kemerdekaan. Ia diterima di Militer Academie (MA) Yogyakarta angkatan pertama (1945) bersama nama-nama besar seperti Ali Sadikin dan Wiyogo Atmodarminto. Saat lulus pada tahun 1948, Soebroto menyabet predikat sebagai Lulusan Terbaik II dengan pangkat Letnan Dua dan langsung terjun ke medan perang mempertahankan kedaulatan RI.

Guru Besar UI yang Menjadi Dosen Soeharto
Setelah perang usai, Soebroto beralih jalur ke dunia pendidikan. Ia merampungkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), lalu terbang ke Kanada untuk meraih gelar Master of Arts dari Universitas McGill lewat beasiswa penuh. Melalui tesisnya tentang perdagangan internasional, ia mulai menyadari betapa pentingnya bahan bakar fosil dan energi bagi masa depan ekonomi sebuah negara.

Kembali ke Indonesia, Soebroto meraih gelar doktor dari UI pada tahun 1958. Bersama rekan-rekannya seperti Widjojo Nitisastro dan Emil Salim, mereka kelak dikenal sebagai kelompok ekonom genius “Mafia Berkeley” yang menyusun cetak biru ekonomi nasional lewat Repelita.

Menariknya, selain mengajar di UI, Prof. Soebroto juga ditugaskan menjadi dosen di Seskoad Bandung. Di sana, salah satu perwira yang duduk mendengarkan kuliah ekonominya adalah seorang Letnan Jenderal bernama Soeharto—yang kelak menjadi Presiden kedua RI.

Puncak Karier: Mengendalikan OPEC di Tengah Krisis Dunia
Kepercayaan Soeharto kepada mantan dosennya ini dibuktikan dengan jabatan menteri yang diemban Soebroto selama belasan tahun. Mulai dari Menteri Transmigrasi hingga puncaknya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi selama dua periode (1978–1988), tepat saat Indonesia menikmati masa keemasan ekspor minyak (oil boom).

Reputasi internasionalnya benar-benar pecah ketika ia terpilih menjadi Sekretaris Jenderal OPEC yang berkedudukan di Wina, Austria, untuk periode 1988–1994.

Di panggung dunia, Prof. Soebroto dihormati sebagai “penengah ulung”. Dengan pembawaannya yang tenang, ramah, namun tegas khas Solo, ia sukses meredam ego para raja minyak Timur Tengah. Kemampuan diplomasinya diuji secara ekstrem saat dunia diguncang krisis energi akibat meletusnya Perang Teluk antara Irak dan Kuwait. Berkat kepemimpinannya, pasokan dan stabilitas harga minyak dunia berhasil diselamatkan dari kekacauan total.

Hati yang Tetap Tinggal di Indonesia
Meskipun hidup mapan di Eropa dan bergaul dengan para pemimpin dunia, Prof. Soebroto tidak pernah melupakan akar bangsanya. Di sela-sela kesibukannya di Wina, ia kerap memikirkan nasib anak-anak di tanah air yang masih terbelenggu kemiskinan dan kebodohan. Kepedulian ini membuatnya mendirikan Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI) untuk membantu akses pendidikan anak-anak kurang mampu.

Prof. Soebroto mengembuskan napas terakhirnya pada 20 Desember 2022 di usia 99 tahun. Hingga akhir hayatnya, Sang Begawan Energi ini tak pernah benar-benar berhenti berpikir dan menulis untuk ketahanan energi Indonesia.

Kisah hidupnya adalah bukti nyata: anak bangsa dari kampung kecil di Solo yang dulunya dianggap “terlalu kurus” untuk berperang, ternyata mampu tumbuh menjadi raksasa yang disegani oleh para penguasa minyak dunia.

Sumber: Wikipedia

ProfSoebroto #TokohDunia #OPEC #SejarahIndonesia #InspirasiBangsa #BegawanEnergi #OrdeBaru #MenteriEnergi #DiplomatIndonesia #TokohNasional #SejarahMiliter

Bagikan