Mengapa Bangsa Religius Tidak Otomatis Menjadi Bangsa Maju Budiawan, Cangkrukan

Red JPN

Surabaya. Jelajahpenanews. Com – Ada sebuah paradoks yang tidak nyaman untuk diucapkan di ruang publik Indonesia. Negara-negara paling religius di dunia — diukur dari seberapa besar agama menentukan kehidupan sehari-hari warganya — bukan negara-negara yang mendominasi indeks kemakmuran global. Sebaliknya, negara-negara yang konsisten berada di puncak laporan kebahagiaan dan daya saing dunia justru adalah negara-negara yang mayoritas warganya menyatakan agama tidak terlalu penting dalam hidup mereka.

Gallup Poll mencatat: hanya 17 persen warga Finlandia menyatakan agama penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Denmark: 19 persen. Swedia: 17 persen. Ketiga negara ini secara konsisten masuk dalam daftar 10 besar World Happiness Report. Korea Selatan, dengan budaya Konfusian yang sangat sekuler dalam tata kelola negara, menjadi kekuatan industri dan teknologi dalam tempo 40 tahun. Jepang membangun ekosistem manufaktur dan riset kelas dunia tanpa satu pun identitas agama formal dalam konstitusi negaranya. Tiongkok — negara yang secara resmi atheis — menjadi pabrik dunia dan kini bersaing di garis depan kecerdasan buatan.

Di sisi lain, negara-negara yang paling keras mendeklarasikan identitas religius dalam kehidupan bernegara — yang melantunkan frasa keimanan di konstitusi, di pidato presiden, di kurikulum sekolah — justru berjuang di bawah rata-rata dalam indeks inovasi, produktivitas, dan kualitas institusi publik.

Apakah ini berarti agama adalah penyebab kemunduran? Tidak. Tuduhan itu terlalu kasar, dan tidak akurat secara historis. Masalahnya bukan pada agamanya. Masalahnya pada cara manusia memperlakukan agama — dan apa yang mereka lakukan, atau tidak lakukan, atas nama agama itu.

KETIKA AGAMA BERHENTI MENJADI ENERGI PERADABAN
Setiap sistem kepercayaan bisa berfungsi sebagai dua hal yang berlawanan: sebagai mesin transformasi, atau sebagai mekanisme pelarian. Yang pertama mendorong manusia untuk bekerja, berpikir, dan membangun. Yang kedua menyediakan penjelasan yang nyaman untuk kegagalan yang tidak perlu dijelaskan.

Di banyak masyarakat berkembang — termasuk Indonesia — agama sering bergeser fungsi. Ia tidak lagi terutama menjadi energi yang mendorong tindakan. Ia menjadi penyangga psikologis untuk berdamai dengan kekalahan yang sebenarnya bisa dihindari.

Lihat mekanismenya: ketika sistem kesehatan gagal, disebut ujian. Ketika korupsi merajalela, disebut cobaan. Ketika infrastruktur rusak, disebut takdir. Qadarullah menjadi kalimat penutup — bukan setelah usaha maksimal, tetapi sebagai substitusi usaha itu sendiri. Tawakal dilepaskan dari hubungan sebab-akibat yang menjadi syaratnya.

Ini bukan teologi. Ini adalah psikologi kekalahan yang memakai jubah teologi.

Fenomena ini tidak eksklusif milik satu agama. Ia muncul di mana pun komunitas menghadapi kesenjangan besar antara harapan dan kapasitas — dan memilih narasi metafisik sebagai pelarian dari pertanyaan yang lebih keras: mengapa sistem kita gagal membangun manusia yang kompeten?

PERADABAN BUKAN LAHIR DARI SIMBOL, MELAINKAN DARI DISIPLIN BERPIKIR
Kata pertama yang turun dalam Islam adalah Iqra — baca. Bukan berdoa. Bukan berserah. Membaca. Imperatif epistemik.

Pada abad ke-8 hingga ke-13, Baghdad menjadi pusat intelektual dunia bukan karena simbol keislamannya, tetapi karena praktik intelektualnya. Baitul Hikmah menerjemahkan Aristoteles, Euclid, Galen. Ilmuwan Muslim mengembangkan aljabar, optik, astronomi, kedokteran. Mereka tidak sekadar menghapal — mereka mengkritik, membandingkan, dan memperluas pengetahuan yang mereka temukan.

Peradaban itu besar bukan karena lebih banyak mendirikan masjid dari bangsa lain. Ia besar karena keberaniannya bertanya kepada sumber mana pun yang relevan — Yunani, Persia, India — tanpa merasa imannya terancam oleh pengetahuan dari luar.

Kemundurannya pun bukan karena menjadi kurang religius. Kemundurannya datang ketika tradisi berpikir kritis mulai dipersempit. Ketika pertanyaan tertentu dianggap berbahaya. Ketika otoritas agama mulai mengatur batas-batas pengetahuan yang boleh dijelajahi.

Ini penting dipisahkan: agama sebagai simbol identitas vs. agama sebagai mesin intelektual. Yang pertama bisa diwariskan tanpa usaha. Yang kedua membutuhkan budaya — budaya bertanya, membantah, dan memverifikasi.

NEGARA MODERN BEKERJA DENGAN INSTITUSI, BUKAN KESALEHAN PERSONAL
Pesawat tidak terbang karena pilotnya saleh. Ia terbang karena hukum fisika dipatuhi secara disiplin — dalam desain, dalam manufaktur, dalam protokol penerbangan, dalam sistem pemeriksaan yang tidak memberi ruang bagi kelalaian.

Rumah sakit tidak berjalan dengan doa dokternya saja. Ia berjalan dengan sistem rekam medis, protokol sterilisasi, akreditasi kompetensi, akuntabilitas hukum. Kesalehan personal dokternya adalah urusannya sendiri. Keselamatan pasien adalah urusan sistem.

Ini adalah logika dasar negara modern: ia tidak bisa bergantung pada kualitas moral individu yang kebetulan menduduki jabatan. Ia harus membangun struktur yang bekerja bahkan ketika individu di dalamnya tidak ideal. Itulah fungsi kompetensi, meritokrasi, sistem hukum, dan administrasi publik yang profesional.

Korea Selatan memilih jalur itu. Finlandia memilih jalur itu. Bahkan Tiongkok — terlepas dari sistem politiknya yang tidak demokratis — membangun kapasitas teknokratis yang serius: rekrutmen berbasis ujian ketat, investasi masif dalam riset dan pendidikan teknik, perencanaan jangka panjang yang tidak tunduk pada siklus elektoral.

Institusi yang kuat tidak lahir dari keyakinan. Ia lahir dari desain yang disiplin, insentif yang tepat, dan akuntabilitas yang riil.

Indonesia memiliki semua elemen retorika tentang bangsa yang beriman. Yang kurang bukan deklarasinya. Yang kurang adalah keseriusan membangun mesin institusionalnya.

MENGAPA MASYARAKAT RELIGIUS SERING KALAH DALAM KOMPETISI MODERN
Ada pola yang berulang di komunitas-komunitas yang menempatkan otoritas agama di atas otoritas pengetahuan. Pola itu adalah: ketika otoritas tidak boleh dikritik, kualitas pengetahuan berhenti tumbuh.

Di ruang pesantren, organisasi keagamaan, hingga birokrasi yang dipengaruhi kultur hierarki agamawi — pertanyaan yang menantang figur otoritas sering diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai kontribusi. Budaya “jangan melawan ustaz” — dalam berbagai variasinya — menciptakan lingkungan di mana kesalahan tidak dikoreksi, di mana konsensus palsu menggantikan kebenaran yang diuji.

Ini bukan soal agamanya. Ini soal feodalisme intelektual yang bersembunyi di balik otoritas agama. Hasilnya sama di mana-mana: rendahnya scientific rigor, rendahnya toleransi terhadap ambiguitas, rendahnya kemampuan menghasilkan pengetahuan baru.

Kompetisi modern tidak bisa dimenangkan dengan cara ini. Inovasi adalah produk dari keberanian untuk menyatakan bahwa pendapat yang lama salah. Tanpa budaya itu, sebuah komunitas hanya bisa mengkonsumsi pengetahuan yang dibuat orang lain — tidak pernah memproduksinya.

DUNIA MODERN MENGHUKUM BANGSA YANG TIDAK EFISIEN
Pasar global tidak menilai seberapa religius sebuah bangsa. Ia menilai seberapa kompetitif bangsa itu bekerja.

Rantai pasok global memilih vendor berdasarkan kualitas, ketepatan waktu, dan harga. Tidak ada kolom “tingkat keimanan” dalam formulir tender internasional. Produsen semikonduktor membutuhkan insinyur yang kompeten, bukan insinyur yang paling rajin beribadah. Ekosistem kecerdasan buatan dibangun di atas akumulasi data, infrastruktur komputasi, dan talenta riset — bukan di atas identitas moral kolektif.

Bangsa-bangsa yang menginvestasikan sumber dayanya pada kualitas pendidikan teknis, riset dasar, dan infrastruktur produksi — mereka yang mendapat kontrak, menarik investasi, dan membangun keunggulan jangka panjang. Bangsa-bangsa yang menghabiskan energi politiknya untuk mempertontonkan identitas religius dalam ruang publik — mereka umumnya sibuk dengan performa simbolik sementara kapasitas riilnya stagnan.

Geopolitik abad ke-21 akan ditentukan oleh AI, energi, manufaktur, dan data. Tidak satu pun variabel itu dimenangkan dengan retorika moral.

MUNGKIN MASALAHNYA BUKAN KEKURANGAN IMAN
Bangsa ini mungkin tidak kekurangan iman. Yang kekurangan adalah kapasitas.

Kapasitas untuk membangun sistem yang bekerja tanpa bergantung pada niat baik pejabatnya. Kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan baru, bukan sekadar mengkonsumsi pengetahuan impor. Kapasitas untuk membangun institusi yang bertahan melampaui satu generasi pemimpin. Kapasitas untuk mentoleransi kritik sebagai instrumen perbaikan, bukan sebagai ancaman terhadap otoritas.

Terlalu banyak energi kolektif dihabiskan untuk mempertontonkan identitas moral — di media sosial, di ruang publik, di panggung politik. Terlalu sedikit yang diinvestasikan untuk membangun kualitas manusianya: kemampuan berpikir kritis, disiplin kerja, tradisi ilmiah, dan mentalitas yang mampu menerima umpan balik keras tanpa runtuh.

Ini bukan tentang memilih antara religius dan sekuler. Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: setelah ritual selesai, apa yang kita bangun?

Sejarah tidak pernah memberi hadiah kepada bangsa yang merasa paling benar. Sejarah hanya bergerak kepada bangsa yang mampu belajar, bekerja, dan membangun institusi yang bertahan lama.


Catatan sumber:
Data Gallup Poll tentang tingkat religiusitas dan korelasinya dengan World Happiness Report dikutip dari analisis Denny JA via Medcom.id (2021). Data negara-negara Nordik (Finlandia, Denmark, Swedia) merujuk pada World Happiness Report 2020. Pembahasan tentang Baitul Hikmah dan peradaban Islam klasik berdasarkan literatur sejarah ilmu pengetahuan Islam.

Bangsa yang terlalu sibuk mempertontonkan identitas moralnya sering lupa membangun kapasitas yang sebenarnya ditagih oleh sejarah.

Bagikan