Kisah Veteran RPKAD Asal Wonogiri di Medan Operasi Seroja: Bertaruh Nyawa Demi Merah Putih

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Di usia senjanya yang telah menginjak 77 tahun, Sirun masih berdiri tegak mengikuti upacara Hari Pahlawan di Alun-Alun Giri Krida Bakti, Wonogiri. Meski langkahnya kini dibantu tongkat, semangat dan sorot matanya masih memancarkan jiwa seorang prajurit.

Sirun bukan sosok biasa. Ia adalah veteran Tentara Nasional Indonesia yang pernah menjadi anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD, yang kini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Sejak bergabung menjadi tentara pada usia 21 tahun, Sirun telah mengabdikan hidupnya di berbagai daerah operasi militer Indonesia. Ia pernah ditugaskan ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, hingga Timor Timur. Namun dari semua penugasan itu, Timor Timur menjadi pengalaman paling berat sekaligus paling membekas dalam hidupnya.

Pada tahun 1975, Sirun pertama kali dikirim ke Timor Timur. Saat itu situasi masih sangat rahasia. Bersama pasukan lain, mereka tidak mengenakan seragam militer, melainkan berpakaian seperti warga sipil demi kepentingan operasi intelijen dan pengintaian.

Selama berbulan-bulan mereka bergerak diam-diam mengumpulkan informasi di wilayah yang penuh ketegangan. Hingga akhirnya pada akhir tahun 1975, Indonesia melancarkan Operasi Seroja, operasi militer besar yang menandai dimulainya perang terbuka di Timor Timur.

Setelah sempat kembali ke barak selama satu bulan, Sirun kembali diberangkatkan ke Timor Timur pada tahun 1976. Kali ini situasi jauh lebih berbahaya. Dentuman senjata dan pertempuran bersenjata menjadi bagian dari keseharian para prajurit.

Sirun dan pasukannya hidup bergerilya dari kampung ke kampung, menyusuri hutan, pegunungan, dan medan berat yang penuh ancaman. Logistik yang terbatas membuat mereka sering bertahan dalam kondisi serba sulit.

Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi saat menjelang Magrib. Ketika itu, satu kompi pasukan kehabisan bahan makanan. Mereka kemudian mencari persediaan makanan di sebuah perkampungan di lereng gunung.

Namun situasi berubah menjadi mimpi buruk.

Saat mengambil makanan, tiba-tiba pasukan musuh melancarkan serangan mendadak. Hujan peluru menghantam posisi mereka di tengah kondisi yang mulai gelap.

“Kami terjebak jebakan musuh,” kenang Sirun.

Tanpa banyak pilihan, para prajurit segera menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sungai yang berada dekat perkampungan. Dalam gelap malam, mereka menyusuri aliran sungai hingga akhirnya tiba di pantai.

Di tengah kekacauan itu, beberapa anggota pasukan tertinggal dan dinyatakan gugur di medan operasi.

Meski Operasi Seroja resmi berakhir pada Juli 1976, pengabdian Sirun di Timor Timur belum selesai. Ia kembali ditugaskan ke wilayah tersebut pada tahun 1977 sebelum akhirnya melanjutkan penugasan di Makassar hingga pensiun pada 1994.

Berkat pengabdiannya di medan operasi, Sirun memperoleh kenaikan pangkat menjadi Sersan Mayor dan dianugerahi status veteran setelah purna tugas.

Kini, veteran RPKAD itu menjalani masa tua di kawasan Pasar Krisak, Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Meski usia terus bertambah, kenangan tentang perjuangan dan pengorbanan di Timor Timur tetap menjadi bagian paling berharga dalam hidupnya sebagai seorang prajurit.

Sirun

VeteranTNI

RPKAD

Kopassus

OperasiSeroja

TimorTimur

SejarahMiliterIndonesia

Bagikan