Cirebon, Jelajahpenanews.com – 31 Mei 2026
Masa depan pesantren tidak ditentukan oleh besarnya tantangan, melainkan oleh keberanian untuk berubah. Ketika pesantren mampu mengelola kualitas, memanfaatkan teknologi, dan membangun kepercayaan publik, pertumbuhan bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan.
Semangat itulah yang menjadi ruh Workshop Pengasuh Pesantren Batch-2 yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program untuk 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia yang dilaksanakan sepenuhnya oleh Imam Jazuli Foundation.
Workshop dibuka oleh Direktur Pesantren Kemenag RI, Dr. Basnang Said, Kakanwil Kemenag Jabar, Dr. H. Dudu Rohman, Kepala Kemenag Kab. Cirebon, H. Slamet M.Ag, Kepala Kemenag Banjar, H. Ahmad Fikri Firdaus, M.Ag, dan Kepala Kemenag Subang, H. Dr. Badruzzaman.
Kemenag mengapresiasi inisiatif dan komitmen KH. Imam Jazuli karena bersedia berbagi pengalaman dalam sebuah pembelajaran yang intensif dan menyampaikan terima kasih atas kepedulian yang belum bisa dilakukan oleh Kemenag kepada para pengasuh pesantren.
Ikut membuka workshop di hari itu juga Ketua PWNU Jawa Barat, KH. Juhadi Muhamad, SH, beserta 8 Ketua PCNU di wilayah Jawa Barat. Yaitu PCNU Pangandaran (KH. R. Hilal Farid), PCNU Banjar (KH. Rohidi F), PCNU Kab Tasikmalaya (KH. Atam Rustam), PCNU Kota Sukabumi (KH. Anas Syakirillah), PCNU Kab. Ciamis (KH. Arif Ismail C.), dan PCNU Kota Bandung (KH. Ahmad Haedari), dan PCNU Kota Tasikmalaya (KH. Dr. Dudu Rohman).
Para tokoh menyampaikan kekaguman atas kesediaan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, sebagai pesantren terbesar di Jawa Barat dengan santri lebih dari 5000, untuk berbagi kesuksesan dengan lain dan mendorong para peserta untuk menjadikan Pesantren Bina Insan Mulia sebagai referensi.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal. Menurut panitia, setelah menyeleksi lebih dari 250 data yang masuk, akhirnya terpilih hanya 126 pengasuh pesantren dari wilayah Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, kota Tasik Malaya, Garut, Bandung, Cimahi, Cianjur, dan Sukabumi.
“Ini karena syarat untuk mengikuti harus pengasuh, tidak bisa diwakilkan, dan harus memiliki santri minimal 100 orang,” kata panitia.
Dari lembar kuesioner yang diterima panitia, 85% peserta menyatakan workshop telah mengubah keyakinannya bahwa jalan untuk menembus PTN dalam negeri dan untuk mendapatkan beasiswa ke kampus-kampus luar negeri bagi lulusan pesantren semakin gamblang.
“Penjelasan KH Imam Jazuli sebagai konseptor dan eksekutor atas berbagai strategi untuk menembus PTN dalam negeri dan kampus luar negeri di workshop ini membuat kami makin paham dan makin banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh pesantren,” ungkap KH. Anas Nasrudin, dari Ciamis.
Selain memperkaya strategi, KH. Hasan Sadili dari Sukabumi menyampaikan, “Dari workshop ini saya mendapatkan peta jalan untuk melakukan transformasi di pesantren. Sebelum-sebelumnya, saya sudah beberapa kali mengikuti kegiatan semacam ini untuk pesantren, tetapi bahasannya lebih banyak ke motivasi dan penyadaran, belum ke aksi, apalagi diberi trip dan trik-trik rahasia seperti di workshop ini.”
“Bagi saya, workshop ini memberi gambaran mengenai dahsyatnya kekuatan medsos bagi yang bisa menggunakan. Kia Imam Jazuli menjelaskan dari pengalaman nyata dan cara-cara menggunakan kekuatan medsos untuk pertumbuhan pesantren. Yang lebih mengagumkan, peserta juga akan diberi pelatihan khusus mengenai digital marketing untuk branding pesantren,” jelas KH. Apip Ifan Permadi dari Tasikmalaya menyampaikan terima kasihnya.
Di sambutan pembukaan, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia menyampaikan bahwa di tengah perubahan yang dahsyat akibat disrupsi teknologi, pesantren harus digdaya, berjaya, dan lebih berguna bagi pembangunan Indonesia. Caranya harus meningkatkan kualitas pendidikan untuk menggenjot pertumbuhan.
Menurut Kiai Imam, ketika pesantren semakin dipercaya masyarakat, maka secara otomatis pesantren itu digdaya dan berjaya dalam menghadapi perubahan. Karena itu, fokus workshop ini adalah pertumbuhan dan peningkatan kualitas pendidikan pesantren.
“Saya akan berbagi pengalaman agar para pengasuh pesantren bisa menghantarkan lulusannya masuk PTN terdepan dalam negeri dan mendapatkan beasiswa ke kampus-kampus luar negeri. Targetnya, supaya ribuan santri berhasil menjadi orang yang shaleh sekaligus dapat menempati posisi-posisi strategis dalam pembangunan,” tegas Kiai Imam dengan semangat tinggi.
“Cukup sedikit saja jumlah santri yang menjadi da’i atau ustadz dalam pengertian hari ini,” tambahnya.
Karena itu, menurut beliau, para pengasuh pesantren perlu mendapat dorongan dan strategi melakukan perubahan kurikulum, manajemen SDM dan keuangan, branding, digital marketing, dan strategi praktis untuk menembus PTN dan beasiswa ke luar negeri di kampus-kampus terkemuka.
“Forum ini lebih bersifat berbagi pengalaman dari hasil yang telah nyata di Bina Insan Mulia, bukan menggurui para kiai, apalagi menyalahkan yang eksisting,” ungkap Kiai Imam di penutupan.
Di akhir workshop, panitia menghadirkan kejutan dari Imam Jazuli Foundatioan berupa doorprize. Pantia membagi 5 doorprize ziarah wali songo untuk 5 pasang suami-istri, jalan-jalan dalam negeri untuk 5 pasang suami-istri, menginap di hotel Aston untuk 5 pasang suami-istri, dan satu jalan-jalan ke luar negeri.








