KESEIMBANGAN INTERNAL DAN EKSTRENAL KAMPUS: HOST TVRI DAN PANELIS DEBAT PUBLIK CALON GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

Reporter : Gombloh

Surabaya. jelajahpenanews.com – Selain memiliki kedalaman akademik, Prof. Muhammad juga dikenal memiliki kemampuan komunikasi publik yang kuat dan dekat dengan masyarakat. Hal itu terlihat ketika beliau dipercaya menjadi host Dialog Publik Bidang Sosial-Keagamaan di TVRI Palangka Raya selama hampir dua tahun, yakni 2012–2014. Melalui forum tersebut, beliau tidak hanya tampil sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pendidik publik yang menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, dialogis, dan menyejukkan. Kemampuan menjelaskan isu-isu sosial-keagamaan secara sederhana namun bernas menjadikan beliau dekat dengan berbagai lapisan masyarakat.
Di luar aktivitas akademik dan media publik, beliau juga aktif dalam organisasi kepemudaan sebagai pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah. Keterlibatan ini menunjukkan perhatian beliau terhadap pembinaan generasi muda, penguatan kepemimpinan sosial, serta pentingnya membangun ruang kolaborasi antara intelektual kampus dan dinamika masyarakat sipil.
Sebagai intelektual Muslim moderat, Prof. Muhammad memadukan tradisi akademik dengan kepemimpinan moral dan semangat kebangsaan. Beliau memandang bahwa perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menjadi pusat pengajaran, tetapi harus mampu tampil sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, penguatan karakter, pengembangan peradaban, dan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa. Karena itu, pengalaman panjang lintas bidang yang beliau miliki menjadi modal penting dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang unggul, inklusif, adaptif, dan berdaya saing global, tanpa kehilangan akar nilai-nilai keindonesiaan dan spiritualitas Islam.
Dalam konteks tantangan pendidikan tinggi dewasa ini, mulai dari disrupsi teknologi, kompetisi global, krisis moral, hingga perubahan sosial-ekonomi yang cepat, sosok pemimpin akademik dituntut tidak hanya memiliki kecakapan administratif, tetapi juga visi intelektual dan keteladanan moral. Prof. Muhammad hadir dengan kombinasi pengalaman akademik, kepemimpinan kelembagaan, komunikasi publik, dan pengabdian sosial yang membentuk karakter kepemimpinan yang tenang, matang, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Bagi beliau, kepemimpinan akademik bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah peradaban. Sebab perguruan tinggi pada hakikatnya adalah ruang untuk menumbuhkan ilmu, merawat integritas, memperkuat harapan generasi muda, serta membangun masa depan bangsa yang lebih berkeadaban. Dalam kerangka itulah, perjalanan panjang Prof. Muhammad menjadi refleksi tentang bagaimana ilmu pengetahuan, pengabdian, dan kepemimpinan dapat berjalan beriringan demi kemajuan pendidikan tinggi Islam Indonesia.
Tidak hanya di tingkat provinsi, Prof. Muhammad juga dipercaya terlibat dalam dinamika politik lokal sebagai Tim Seleksi Calon Anggota KPU Provinsi Kalimantan Tengah 2008-2012, panelis dan penguji gagasan dalam debat publik calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Barito Selatan, khususnya pada momentum Pilkada 2012 yang mempertemukan berbagai figur strategis daerah. Kiprah Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., semakin meluas sebagai tokoh publik yang aktif mengambil bagian dalam proses demokrasi dan pembangunan daerah. Ia dijuluki sebagai The Rising Stars, bintang yang sedang bersinar. Integritas intelektual, keluasan wawasan, dan kapasitas komunikasinya membuat beliau dipercaya menjadi panelis dalam Debat Terbuka Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah 2012. Momentum tersebut menjadi bukti bahwa beliau dipandang memiliki otoritas akademik dan independensi moral dalam mengawal ruang demokrasi yang sehat, substantif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
Dalam forum-forum tersebut, beliau dikenal mampu menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kritis, bernas, dan berorientasi pada visi pembangunan jangka panjang, terutama terkait isu ekonomi kerakyatan, tata kelola pemerintahan, pendidikan, ketahanan pangan, dan pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai kearifan lokal Kalimantan.
Pengalaman tersebut semakin memperlihatkan bahwa Prof. Muhammad bukan sekadar akademisi yang hidup di ruang teoretis, tetapi intelektual publik yang mampu menjembatani dunia kampus, birokrasi, media, dan masyarakat sipil. Kehadirannya dalam berbagai forum strategis daerah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang matang, kemampuan membaca persoalan sosial secara komprehensif, serta komitmen kuat terhadap pembangunan demokrasi yang beretika dan berkeadaban.
Selain dikenal sebagai akademisi dan intelektual publik, Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., juga memiliki rekam jejak kepemimpinan kelembagaan yang panjang dan kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Tengah. Sejak awal pengabdiannya di dunia akademik, beliau telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan, visi kelembagaan, dan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia serta penguatan institusi pendidikan Islam.
Pada periode 2001–2005, beliau dipercaya menjabat sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Dalam posisi tersebut, beliau berperan aktif dalam penguatan sistem akademik, peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta penataan budaya akademik yang lebih progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kepemimpinannya pada masa itu turut memberikan fondasi penting bagi penguatan mutu pendidikan tinggi Islam di lingkungan kampus Muhammadiyah di Kalimantan Tengah.
Tidak berhenti di ranah akademik formal, Prof. Muhammad juga dikenal sebagai salah satu perintis pengembangan gerakan ekonomi syariah di Kalimantan Tengah. Ia terlibat aktif dalam merintis berdirinya Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Kalimantan Tengah, sebuah inisiatif strategis yang bertujuan memperkuat literasi ekonomi syariah, membangun jejaring antara akademisi, praktisi, pemerintah, dan pelaku usaha, serta memperluas implementasi sistem ekonomi Islam di tengah masyarakat. Peran ini menunjukkan perhatian beliau yang besar terhadap pembangunan ekonomi umat dan transformasi sosial berbasis nilai-nilai syariah.
Di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palangka Raya, yang kemudian berkembang menjadi IAIN Palangka Raya, beliau juga menorehkan kontribusi penting dalam pengembangan disiplin ekonomi Islam. Pada periode 2006–2009, beliau dipercaya sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Islam. Dalam kepemimpinannya, program studi tersebut berkembang menjadi salah satu pusat kajian ekonomi syariah yang mulai diperhitungkan di kawasan Kalimantan. Ia aktif membangun kultur akademik yang kritis, mendorong penguatan riset ekonomi Islam, serta memperluas jejaring akademik dengan berbagai lembaga nasional.
Kepercayaan institusi terhadap kapasitas akademik dan manajerial beliau kemudian berlanjut ketika diangkat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) pada tahun 2009–2013. Dalam posisi ini, Prof. Muhammad memainkan peran strategis dalam mendorong penguatan tradisi riset, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan sosial. Ia mendorong agar kampus tidak hanya menjadi pusat transmisi ilmu, tetapi juga hadir sebagai kekuatan transformasi sosial yang mampu menjawab persoalan-persoalan masyarakat, mulai dari ekonomi umat, pendidikan, pemberdayaan desa, hingga penguatan moderasi beragama.
Perjalanan akademik Prof. Dr. Muhammad M. Said, M.Ag., merupakan kisah tentang ketekunan, keberanian bermimpi, dan daya tahan intelektual yang dibangun melalui kerja keras serta pengorbanan panjang. Ia diangkat sebagai dosen di STAIN Palangka Raya pada tahun 2000 setelah berhasil menyelesaikan studi Magister Agama bidang Ekonomi Islam di Universitas Muhammadiyah Malang setelah sebelumnya ia menamatkan pendidikan Sarjana Lengkap dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab.
Program magister tersebut ia tempuh dengan penuh kesungguhan hanya dalam waktu sekitar 16 bulan, sebuah capaian yang sejak awal memperlihatkan disiplin akademik dan orientasi intelektual yang kuat. Tidak lama setelah diangkat menjadi dosen, ia mulai merancang perjalanan akademik jangka panjangnya. Di tengah aktivitas mengajar dan pengabdian, kehidupannya juga memasuki fase penting ketika menikahi seorang dara Bugis, Dra. Nuryani, guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Kota Palangka Raya, pada 28 Februari 2002. Pernikahan itu menjadi titik awal perjalanan keluarga sekaligus penguat perjuangan akademiknya. Bersama istrinya, ia membangun mimpi besar bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar pencapaian personal, tetapi jalan pengabdian untuk umat, masyarakat, dan bangsa.
Dengan tekad yang sangat kuat, ia mulai mendesain studi doktoral yang ingin diselesaikan dalam waktu relatif cepat. Pada 1 September 2003, ia resmi memulai pendidikan doktor di Universitas Negeri Malang. Dalam perjalanan akademik yang penuh disiplin dan kerja intelektual intensif, ia berhasil menyelesaikan program doktor tersebut pada tahun 2006. Masa tempuh studinya hanya sekitar 26 bulan atau dua tahun dua bulan, menjadikannya salah satu pemecah rekor doktor ekonomi tercepat sepanjang sejarah Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang pada masa itu. Ia meraih gelar doktor pada usia 34 tahun, sebuah capaian yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai akademisi muda yang progresif dan produktif.
Namun, perjalanan intelektualnya tidak selalu berjalan lurus tanpa tantangan. Di tengah semangat membangun kapasitas global, ia pernah bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri. Dengan penuh optimisme, ia mencoba mendaftar ke berbagai perguruan tinggi di Australia, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil, ia tidak pernah kehilangan semangat. Kesempatan besar kembali datang ketika ia diterima pada program doktor di International Islamic University Malaysia. Akan tetapi, pada momentum penting itu, ia dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah antara idealisme akademik dan tanggung jawab keluarga. Dengan kondisi istrinya yang sedang mengandung, ia mengambil keputusan besar yang sangat manusiawi: bertahan menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Malang. Keputusan tersebut menjadi refleksi kedewasaan hidupnya bahwa cinta, keluarga, dan tanggung jawab moral tidak boleh dikorbankan demi ambisi pribadi semata.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor pada tahun 2006, ia kembali ditugaskan ke lembaga asalnya, STAIN Palangka Raya, pada tahun 2007 oleh Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Kepulangan itu bukan akhir dari mimpi-mimpi akademiknya, melainkan awal dari fase baru pengabdian intelektual. Saat itu ia mulai merancang target besar berikutnya, yakni menjadi guru besar pada usia muda. Inspirasi tersebut muncul dari salah seorang kolega seniornya yang berhasil meraih jabatan profesor pada usia 38 tahun. Ia pun membangun disiplin akademik yang sangat ketat: menulis, meneliti, mengajar, menghadiri forum ilmiah, dan membangun jejaring nasional maupun internasional.
Namun, perjalanan menuju jabatan Guru Besar ternyata mengalami dinamika yang tidak mudah. Pada periode tersebut, regulasi akademik nasional mengalami perubahan signifikan. Persyaratan menjadi profesor diperketat, termasuk kewajiban publikasi pada jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus. Perubahan itu membuat target pribadinya untuk meraih Guru Besar pada usia relatif muda harus tertunda tepat ketika usianya menginjak 41 tahun.

Bagikan