Ekspedisi Lembah X dan Jenderal Feisal Tanjung

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Pada tahun 1969, seorang penjelajah dan pembuat film dokumenter asal Prancis, Pierre Dominique Gaisseau, datang ke Irian Jaya kini Papua untuk meminta izin melakukan pengambilan gambar di sebuah lembah terpencil yang diyakini masih dihuni suku-suku yang belum tersentuh dunia luar.

Permintaan itu disampaikan kepada Panglima Kodam XVII/Cenderawasih saat itu, Sarwo Edhie Wibowo. Menyadari pentingnya misi tersebut, Sarwo Edhie kemudian membentuk sebuah operasi khusus bernama Operasi Bhakti Kodam XVII/Cenderawasih, yang lebih dikenal sebagai Ekspedisi Lembah X.

Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan biasa. Tim gabungan yang dibentuk terdiri dari personel RPKAD yang kini menjadi Komando Pasukan Khusus anggota Kodam XVII/Cenderawasih, serta kru Televisi Republik Indonesia (TVRI). Misi mereka adalah menembus pedalaman Papua yang saat itu masih sangat sulit dijangkau.

Tim ekspedisi dipimpin oleh Kapten Inf Feisal Tanjung, dengan sejumlah nama yang kemudian dikenal dalam sejarah militer Indonesia, seperti Sintong Panjaitan sebagai perwira operasi dan wartawan perang Hendro Subroto dari TVRI.

Perjalanan menembus hutan belantara Papua penuh tantangan berat. Medan yang ekstrem, cuaca tak menentu, hingga ancaman alam liar menjadi bagian dari perjuangan mereka. Namun ekspedisi tersebut akhirnya berhasil menjalin kontak dengan masyarakat pedalaman yang sebelumnya belum mengenal dunia luar.

Sayangnya, keberhasilan besar itu dibayangi musibah. Hasil rekaman dokumenter yang dibuat Gaisseau bersama kru NBC hilang setelah terbawa arus Sungai Meitanyeh. Kehilangan itu membuat Gaisseau kemudian kembali menggelar ekspedisi kedua yang diberi nama Ekspedisi Nusantara Jaya dengan tim berbeda.

Nama Feisal Tanjung sendiri terus bersinar di lingkungan militer. Kariernya dikenal sangat cemerlang sejak lulus dari Akademi Militer Nasional. Berbekal pengalaman dalam berbagai operasi militer, ia berhasil meraih pangkat Brigadir Jenderal di usia 43 tahun dan Mayor Jenderal pada usia 46 tahun prestasi yang tergolong luar biasa di masanya.

Ketika menjabat Panglima Kodam VI/Tanjungpura, Feisal Tanjung memimpin wilayah yang sangat luas setelah reorganisasi TNI AD pada pertengahan 1980-an. Kodam VI/Tanjungpura saat itu membawahi seluruh wilayah Kalimantan hasil penggabungan beberapa kodam sebelumnya.

Nama Feisal kembali menjadi sorotan nasional saat dipercaya memimpin Dewan Kehormatan Militer (DKM) pasca tragedi Santa Cruz di Timor Timur pada tahun 1991. Penunjukan dirinya oleh Presiden Soeharto menarik perhatian publik karena dianggap sebagai langkah penting pemerintah dalam merespons tekanan internasional.

Hasil sidang DKM berujung pada pencopotan sejumlah perwira tinggi, termasuk Sintong Panjaitan dari jabatan Pangdam Udayana. Keputusan tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah militer Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana dinamika politik, keamanan, dan citra internasional saling memengaruhi pada masa itu.

Kisah Feisal Tanjung dan Ekspedisi Lembah X menjadi bagian menarik dalam sejarah Indonesia tentang keberanian menembus wilayah asing, pengabdian militer, serta perjalanan panjang para prajurit yang pernah berada di garis depan sejarah bangsa.

FeisalTanjung #SintongPanjaitan #SarwoEdhie #Kopassus #Papua1969 #SejarahMiliter #EkspedisiLembahX

Bagikan