Dua Kali Ingin Mundur dari TNI, Soeharto Justru Berakhir di Kursi Presiden Indonesia

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Perjalanan hidup Jenderal Besar Soeharto penuh dengan lika-liku yang jarang diketahui publik. Jauh sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun, karier militernya sempat berada di titik terendah. Bahkan, dalam dua kesempatan berbeda, Soeharto dikabarkan pernah berniat mengundurkan diri dari dinas ketentaraan karena merasa kariernya tidak lagi memiliki masa depan.

Keinginan pertama untuk mundur muncul pada akhir dekade 1950-an ketika Soeharto menjabat sebagai Panglima Kodam IV/Diponegoro di Jawa Tengah dengan pangkat Kolonel. Saat itu, Markas Besar Angkatan Darat di bawah pimpinan Jenderal A.H. Nasution mengirim tim Inspektur Jenderal untuk menyelidiki dugaan penyimpangan yang terjadi di lingkungan Kodam Diponegoro.

Menurut berbagai catatan sejarah dan memoar sejumlah tokoh militer, hasil pemeriksaan tersebut membuat posisi Soeharto berada dalam sorotan. Ia kemudian dicopot dari jabatannya dan dipindahkan menjadi tenaga pengajar di Seskoad Bandung. Bagi seorang perwira yang tengah meniti karier, pemindahan itu dianggap sebagai kemunduran yang cukup berat.

Dalam situasi itulah muncul keinginan Soeharto untuk meninggalkan dunia militer. Namun niat tersebut tidak pernah terwujud. Jenderal A.H. Nasution memilih mempertahankannya di tubuh Angkatan Darat dan memberi kesempatan untuk melanjutkan pengabdian.

Keputusan itu kemudian menjadi titik balik yang mengubah jalan hidup Soeharto. Pada tahun 1962, ia dipercaya memimpin Komando Mandala dalam operasi pembebasan Irian Barat. Keberhasilan operasi tersebut mengangkat kembali reputasinya di lingkungan militer nasional dan membawanya memperoleh kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal.

Meski demikian, perjalanan karier Soeharto belum sepenuhnya mulus. Setelah sukses dalam Operasi Mandala, Presiden Soekarno ternyata masih lebih mempercayai Ahmad Yani untuk menduduki posisi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Padahal dari sisi senioritas, Soeharto dianggap lebih senior dibanding Ahmad Yani yang pernah menjadi bawahannya di lingkungan Kodam Diponegoro.

Kekecewaan itu kembali menguji keteguhan Soeharto. Namun menurut sejumlah catatan, Jenderal Gatot Subroto memberikan nasihat yang menenangkan. Ia meyakinkan bahwa waktu Soeharto akan tiba dan bahkan suatu hari akan mencapai kedudukan yang lebih tinggi.

Ramalan tersebut tampaknya tidak meleset.

Beberapa tahun kemudian, Soeharto kembali mengalami kekecewaan ketika Presiden Soekarno menunjuk Marsekal Omar Dani sebagai Panglima Komando Siaga (Kolaga) dalam rangka Operasi Dwikora. Jabatan strategis itu kembali lepas dari tangannya meskipun ia telah menjabat sebagai Panglima Kostrad.

Kegagalan tersebut membuat Soeharto untuk kedua kalinya mempertimbangkan pengunduran diri dari Angkatan Darat. Menurut sejumlah kesaksian yang kemudian ditulis oleh berbagai penulis sejarah, Soeharto bahkan disebut telah menyiapkan surat pengunduran dirinya pada tahun 1965. Faktor ekonomi keluarga dan rasa kecewa terhadap perkembangan kariernya menjadi alasan utama.

Namun sekali lagi, pengunduran diri itu tidak pernah terjadi. Surat tersebut dikabarkan tidak pernah sampai kepada pimpinan Angkatan Darat.

Takdir kemudian membawa arah yang sama sekali berbeda.

Meletusnya Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan sejumlah jenderal Angkatan Darat mengubah peta politik Indonesia secara drastis. Dalam situasi krisis tersebut, Soeharto tampil sebagai tokoh militer yang berhasil mengendalikan keadaan. Dari titik itulah pengaruh politiknya berkembang dengan sangat cepat.

Melalui proses politik yang panjang, kekuasaan Presiden Soekarno perlahan beralih kepadanya. Pada tahun 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden, lalu setahun kemudian resmi menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ironisnya, sosok yang dua kali hampir meninggalkan dunia militer karena kecewa terhadap kariernya justru akhirnya menjadi pemimpin Indonesia terlama dalam sejarah modern. Dari seorang kolonel yang sempat “diparkir” di Seskoad hingga menjadi Presiden selama lebih dari tiga dekade, perjalanan Soeharto menunjukkan bagaimana arah sejarah kadang berubah secara tak terduga.
Sumber : Riauonline.co.id

Soeharto

SejarahIndonesia

AHNasution

OperasiMandala

PembebasanIrianBarat

OrdeBaru

PresidenSoeharto

Bagikan