Dari Jerman Pulang Bikin Pesawat, Ini Jejak Hebat B.J. Habibie Saat Menakhodai Badai Reformasi

Red JPN

Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Di panggung sejarah modern Indonesia, Prof. Dr.-Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie) adalah anomali yang membawa berkah. Lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936, ia tercatat sebagai Presiden RI pertama yang berasal dari luar Pulau Jawa dan satu-satunya kepala negara yang berlatar belakang murni teknokrat.

Meskipun memegang rekor masa jabatan terpendek—yaitu hanya 2 bulan sebagai Wakil Presiden ke-7 dan 1 tahun 5 bulan sebagai Presiden ke-3—pria berdarah campuran Bugis, Gorontalo, dan Jawa ini berhasil meletakkan fondasi demokrasi paling kokoh yang hingga kini dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Berikut adalah perjalanan hebat B.J. Habibie, sang jembatan emas yang menakhodai Indonesia melewati badai transisi menuju era Reformasi.

Lompatan Visi Indonesia: Dari Jerman Pulang Bikin Pesawat
Setelah menumpuk prestasi dan karier cemerlang di perusahaan penerbangan Jerman, Messerschmitt-Bölkow-Blohm, Habibie memilih pulang ke tanah air pada akhir tahun 1973. Kepulangannya bukan tanpa alasan; ia memenuhi panggilan langsung dari Presiden Soeharto untuk membangun fondasi teknologi bangsa.

Langkah awalnya mengomandoi Divisi Teknologi Maju Pertamina langsung melesat hingga ia dipercaya menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) selama dua dekade (1978–1998). Di sinilah ia mencetuskan “Visi Indonesia”.

Habibie percaya bahwa negara agraris seperti Indonesia harus melakukan lompatan kuantum langsung menjadi negara industri melalui penguasaan sains dan teknologi. Visi genius ini dibuktikannya kepada dunia lewat industri strategis nasional, terutama PT IPTN, yang berhasil memproduksi pesawat terbang pertama asli buatan anak bangsa, N-250 Gatotkaca, pada tahun 1995.

Menakhodai Badai Transisi dan Penyelamat Bangsa dari Disintegrasi
Puncak ujian kepemimpinan seorang Habibie terjadi pada 21 Mei 1998. Diangkat menjadi Presiden di tengah kondisi negara yang kacau balau, kerusuhan massal, krisis moneter, dan ancaman disintegrasi pasca-mundurnya Presiden Soeharto, Habibie menggunakan pendekatan yang sangat terukur layaknya seorang insinyur konstruksi pesawat terbang. Ia memimpin dengan transparan, dialogis, dan sangat rasional.

Meski masa jabatannya singkat dan diwarnai keputusan berani terkait referendum Timor Timur pada Agustus 1999, langkah-langkah politik Habibie terbukti menyelamatkan Indonesia dari nasib hancur berkeping-keping seperti Uni Soviet atau Yugoslavia. Kebijakan monumental era kepresidenannya meliputi:

Kebebasan Pers dan Multi-Partai: Ia membebaskan tahanan politik (seperti Sri Bintang Pamungkas dan Muchtar Pakpahan), membuka lebar-lebar keran kebebasan pers, dan memberikan hak kebebasan beraspirasi hingga lahir 48 partai politik baru untuk menyukseskan Pemilu 1999 yang demokratis.

Reformasi Regulasi Modern: Melahirkan UU Anti-Monopoli, UU Perlindungan Konsumen, serta UU Otonomi Daerah yang berhasil meredam gejolak perpecahan di berbagai wilayah dengan membagi wewenang ke daerah secara adil.

Penyelamatan Ekonomi Makro: Secara genius, pemerintahan Habibie berhasil merestrukturisasi perbankan dan memotong nilai tukar rupiah yang semula terpuruk di angka belasan ribu per dolar AS, meroket naik hingga menyentuh level Rp6.500 per dolar AS di akhir masa jabatannya.

Akhir Hayat Sang Guru Bangsa dan Calon Pahlawan Nasional
Setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR pada tahun 1999, Habibie dengan jiwa besar mundur dari pencalonan presiden berikutnya. Ia menunjukkan kelasnya sebagai negarawan sejati yang patuh pada sistem demokrasi yang ia bangun sendiri.

Di masa tuanya, ia tetap aktif menjadi kompas moral bangsa melalui The Habibie Center serta terus memikirkan masa depan dirgantara Indonesia melalui rancangan pesawat R-80 bersama putranya, Ilham Habibie.

B.J. Habibie mengembuskan napas terakhirnya pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun di RSPAD Gatot Subroto karena gagal jantung. Ia dimakamkan tepat di sisi belahan jiwanya, Ibu Hasri Ainun Besari, di TMP Kalibata.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas seluruh kontribusi global dan nasionalnya, pemerintah kini secara resmi memproses pengusulan B.J. Habibie sebagai kandidat Pahlawan Nasional resmi dari Gorontalo—tanah leluhur tempat marga “Habibie” berasal. Namanya akan selalu abadi, tidak hanya di langit dirgantara melalui pesawat-pesawat ciptaannya, tetapi juga di setiap helai kebebasan demokrasi yang dinikmati bangsa ini.

Sumber: Wikipedia

BJHabibie #BapakTeknologi #PesawatIndonesia #PresidenRI3 #MasaReformasi #SejarahIndonesia #InspirasiTokoh

Bagikan