Surabaya. jelajahpenanews.com – Fajar belum benar-benar menyingsing di ufuk timur Bandung pada 23 Januari 1950, ketika deru mesin truk-truk militer memecah keheningan kota pegunungan itu. Di dalamnya, ratusan serdadu bersenjata lengkap dengan baret hijau khas Depot Speciale Troepen (DST) bergerak laksana bayangan maut. Di bawah komando Raymond “Si Tukang Jagal” Westerling, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) datang bukan untuk berunding, melainkan untuk mandi darah.
Namun, di tengah kepungan amuk pasukan pembangkang yang haus darah tersebut, berdiri sesosok perwira muda dengan tatapan sedingin es, Letnan Kolonel Daan Yahya. Inilah fragmen sejarah ketika nyali seorang patriot diuji langsung di depan moncong senapan pengkhianat bangsa.
BANDUNG YANG BERDARAH
Westerling, yang namanya sudah menebar horor sejak pembantaian di Sulawesi Selatan, menginginkan satu hal: meruntuhkan kedaulatan Republik yang baru seumur jagung setelah Pengakuan Kedaulatan. Targetnya adalah Bandung, jantung militer Divisi Siliwangi.
Pasukan APRA menyerbu masuk, membantai setiap prajurit TNI yang mereka temui di jalanan. Markas Staf Kuartir Divisi Siliwangi di Jalan Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Lembong) menjadi saksi bisu kebiadaban itu. Belasan prajurit gugur dalam kondisi tak bersiap. Kota Kembang berubah menjadi ladang perburuan.
KEBERANIAN DI UJUNG BAYONET
Dalam situasi kacau balau tersebut, Daan Yahya, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Militer Jakarta Raya sekaligus perwira tinggi yang memiliki otoritas di wilayah tersebut, tidak memilih untuk mundur atau bersembunyi di balik meja birokrasi. Ia menyadari bahwa membiarkan Westerling menguasai Bandung berarti membiarkan efek domino yang akan meruntuhkan Jakarta.
Daan Yahya segera mengonsolidasikan kekuatan yang tersisa. Dengan keberanian yang nyaris tak masuk akal, ia terjun langsung mengatur pertahanan dan pengepungan kembali terhadap elemen-elemen APRA. Narasi sejarah mencatat bagaimana Daan Yahya dengan tegas menolak intimidasi pihak Belanda yang saat itu masih “bermain dua kaki” dalam mengamankan Westerling.
Ia memimpin koordinasi lintas unit untuk menutup celah-celah pelarian pasukan pemberontak. Baginya, kedaulatan bukan barang tawar-menawar. Tekanan militer dan diplomasi lapangan yang dilakukan Daan Yahya membuat ruang gerak Westerling menyempit dengan cepat.
PENGEJARAN TANPA AMPUN
Meski Westerling akhirnya berhasil melarikan diri ke Singapura dengan bantuan pesawat militer Belanda, aksi cepat Daan Yahya berhasil menyelamatkan Bandung dari pendudukan permanen. Pasukan APRA yang kocar-kacir berhasil dilumpuhkan dalam waktu singkat. Daan Yahya menunjukkan bahwa seragam TNI bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlawanan terhadap siapapun yang mencoba mengusik merah putih.
Keberanian Daan Yahya dalam peristiwa APRA ini bukan hanya soal taktik militer, melainkan soal integritas. Di saat banyak pihak masih gamang pasca-KMB, ia berdiri tegak sebagai benteng terakhir Republik.
Hingga hari ini, nama Daan Yahya harum sebagai legenda yang membuktikan bahwa sebesar apapun teror yang dibawa “Si Tukang Jagal”, ia akan selalu bertekuk lutut di hadapan patriotisme yang tulus.
Sumber Referensi Sejarah:
Sejarah TNI-AD 1945-1973: Penumpasan Pemberontakan APRA.
Biografi Tokoh Militer: Letnan Kolonel Daan Yahya dan Peran dalam Mempertahankan Kedaulatan.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) – Peristiwa APRA di Bandung 1950.
Untuk rujukan lebih lanjut mengenai sejarah militer Indonesia, Anda dapat mengakses Laman Resmi Dinas Sejarah TNI AD.







