HARTONO GRUP PINDAHKAN UANG LEBIH DARI 14.7 TRILIUN RUPIAH KELUAR NEGERI (BLOOMBERG NEWS)

Red JPN

jakarta. Jelajahpenanews. Com – Victor Hartono: “Siapa pun yang berkuasa, kami akan beradaptasi.”.Keluarga Hartono mulai memindahkan/diversifikasi lebih dari US$1 miliar aset ke luar negeri, dengan investasi yang teridentifikasi Bloomberg mencapai setidaknya US$1,4 miliar. Ini menjadi perubahan strategi bagi Hartono yang selama ini sangat berakar di Indonesia.

-Melalui Evergreen Hill Enterprise Pte, mereka membeli perusahaan kertas khusus di AS sekitar US$669 juta (2023) dan produsen kertas rokok di Austria sekitar US$418 juta (2024).

-Bloomberg menemukan sekitar 9 entitas terkait Hartono di Singapura dan London yang berinvestasi di luar negeri.

-Tujuannya bukan sekadar ekspansi, tetapi diversifikasi pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap rupiah.

-Kekayaan Hartono diperkirakan sekitar US$30 miliar, sehingga US$1,4 miliar baru sebagian kecil dari total aset mereka.

-Mayoritas kekayaan tetap di Indonesia, terutama melalui BCA, rokok, properti, dan bisnis lainnya.

-Bloomberg mengaitkan perubahan ini dengan meningkatnya kekhawatiran dunia usaha terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo.

-Investor asing tercatat net sell hampir US$4 miliar saham Indonesia sepanjang 2026, sementara bank asing menarik sekitar US$640 juta modal sejak Prabowo menjabat.

-Ketegangan juga muncul terkait rencana “Patriot Bonds” untuk konglomerat. Saat Danantara mengundang 10 keluarga konglomerat terbesar, Robert Budi Hartono dan Victor Hartono tidak hadir langsung, hanya mengirim perwakilan.

-Setelah itu, Victor Hartono sempat ditahan dalam penyelidikan pajak dan dikenai larangan bepergian sebelum akhirnya dibebaskan.

-Bloomberg juga menyoroti BCA: Hartono dan Farallon membeli kendali BCA sekitar US$537 juta pada 2002, yang kini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$46,2 miliar.

-Saham BCA disebut turun 17% pada 2025 dan 18% pada 2026, ikut mencerminkan kekhawatiran investor.

-Berbeda dengan Salim, Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, dan Low Tuck Kwong yang lebih dulu agresif ke luar negeri, Hartono selama ini relatif Indonesia-sentris.

-Kini strateginya berubah: tetap berbisnis besar di Indonesia, tetapi semakin banyak mendiversifikasi aset dan sumber pendapatan ke luar negeri.

-Intinya: bukan “Hartono kabur dari Indonesia”, tetapi Hartono mulai lebih serius menyebar risiko bisnisnya ke luar negeri.

Sumber : @Hidupsebagai62
Gimana wak menurut kalian?

Bagikan