Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Siapa sangka, seorang anak laki-laki jangkung yang dahulu kerap menghabiskan masa kecilnya menyusuri bantaran Sungai Ciliwung dengan rakit batang pisang dan bermain bola di lapangan Cikini kelak menjadi salah satu diplomat paling disegani di panggung politik internasional. Dialah Ali Alatas, sosok yang akrab disapa “Alex”, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia periode 1988–1999.
Lahir di Jakarta pada 4 November 1932 dari keluarga keturunan Arab Hadhrami dan Sunda, masa kecil Ali Alatas dipenuhi kesederhanaan meski kakeknya merupakan tokoh terpandang. Kesenangannya bergaul dengan teman sebayanya tanpa sekat membentuk kepribadiannya yang hangat, luwes, dan ramah—kualitas personal yang kemudian menjadi modal utamanya dalam meniti karier sebagai perunding dunia.
Setelah menimba ilmu di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, langkah diplomasi Ali Alatas kian melesat. Puncak pencapaiannya yang diakui secara global terjadi saat ia menjadi arsitek perdamaian dalam perang saudara Kamboja-Vietnam. Melalui strategi diplomasi Jakarta Informal Meeting (JIM), Ali Alatas dengan sabar dan cerdik merangkul pihak-pihak yang bertikai hingga berujung pada penandatanganan Perjanjian Perdamaian Kamboja Komprehensif di Paris pada tahun 1991.
Tidak berhenti di situ, kepiawaian Ali Alatas juga teruji saat ia sukses menjadi mediator perundingan antara Pemerintah Filipina dan kelompok pemberontak Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), yang berbuah lahirnya Perjanjian Jakarta 1996. Ia juga memperjuangkan penghapusan utang negara-negara berkembang saat Indonesia memimpin Gerakan Non-Blok (GNB) serta berkontribusi besar merumuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter).
Hingga akhir hayatnya pada 11 Desember 2008, Ali Alatas tetap dikenang bukan hanya karena kepiawaiannya bernegosiasi di meja PBB atau forum dunia, melainkan juga sikap bersahajanya yang tak pernah luntur. Kisah hidupnya membuktikan bahwa berawal dari kepribadian yang membumi, seorang anak Ciliwung mampu membawa nama Indonesia bertengger di jajaran tertinggi diplomasi dunia.
Sumber: Wikipedia








