Kudus, jelajahpenanews . Com – Minggu (26/07/2026) – Semangat membangun kemandirian yayasan melalui Integrated Farming tampak begitu terasa dalam kegiatan Workshop Integrated Farming untuk Penguatan Yayasan yang diselenggarakan di Resto Kirana, Jalan Lingkar Utara Peganjaran, Kudus. Kegiatan ini diikuti lebih dari 30 peserta yang merupakan pengurus LKSA, anggota PPR BG Farm, serta perwakilan petani organik Muria Raya.
Workshop menghadirkan dua narasumber, yaitu Rochmad Taufiq, alumnus BSM Angkatan 37 sekaligus Koordinator PPR BG Farm, bersama Mr. Shireng, alumnus BSM Angkatan 40. Keduanya berbagi pengalaman tentang membangun ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi yayasan melalui sistem pertanian terpadu (Integrated Farming).
Para peserta mengikuti materi dengan penuh antusias. Fokus pembahasan meliputi pengolahan limbah organik menjadi pupuk berkualitas, budidaya sayuran, peternakan, perikanan, hingga pengolahan hasil panen yang mampu memenuhi kebutuhan santri sekaligus memiliki nilai jual untuk meningkatkan pendapatan yayasan.
Dalam sesi berbagi pengalaman, terungkap berbagai capaian inspiratif dari peserta. Bakti Pertiwi Kudus menjadi yayasan dengan kepemilikan ayam terbanyak, yaitu 108 ekor. Sementara YMKI Jepara mengembangkan budidaya ikan hingga 3.000 ekor. Dari wilayah Pati, peserta menunjukkan keberhasilan dalam mengembangkan usaha penjualan pupuk organik dan budidaya kangkung yang memberikan nilai ekonomi bagi lembaga.
Selain pembinaan secara teori dan praktik, PPR BG Farm juga menggulirkan Program Wakaf Nabung Ayam sebagai bentuk nyata penguatan ekonomi yayasan. Program ini diwujudkan dengan penyerahan hibah nabung ayam secara bertahap kepada sejumlah pegiat sosial di wilayah Muria Raya.
Tahap awal, PPR BG Farm menyerahkan paket 5 ekor ayam betina dan 1 ekor ayam jantan kepada Yamisra Blora, YMKI Jepara, dan Bakti Pertiwi Kudus. Selanjutnya program yang sama akan menyusul untuk pegiat sosial di Kabupaten Pati serta Yayasan An Naba Rembang.
“Ayamnya sudah tersedia, tinggal menunggu kandang selesai. Insya Allah pada bulan Agustus seluruh hibah Nabung Ayam akan kami serahkan,” terang Rochmad Taufiq.
Menurutnya, Program Wakaf Nabung Ayam merupakan ikhtiar agar yayasan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan serta kemandirian.
“Tujuan Wakaf Nabung Ayam ini adalah agar biaya operasional yayasan dapat lebih mandiri dan tidak selamanya bergantung kepada donatur. Selain itu, santri-santri binaan juga akan belajar memiliki keterampilan beternak dan bertani sebagai bekal kehidupan mereka,” tambahnya.
Dalam materinya, Rochmad Taufiq juga menegaskan bahwa tantangan global seperti krisis pangan, krisis energi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi harus dijawab dengan membangun yayasan yang mandiri melalui sektor ketahanan pangan.
“Yayasan tidak boleh hanya bergantung pada donatur. Kemandirian harus dibangun melalui silaturahim yang kuat, ilmu yang terus berkembang, dan integrated farming yang produktif serta berkelanjutan.”
Ia menjelaskan bahwa konsep Integrated Farming menghubungkan sektor tanaman, peternakan, perikanan, dan pengolahan limbah dalam satu sistem yang saling mendukung. Limbah ternak menjadi pupuk, limbah pertanian menjadi pakan, kolam menghasilkan ikan, dan lahan menghasilkan pangan. Sistem ini diharapkan menjadi fondasi ketahanan pangan sekaligus penguatan ekonomi yayasan.
Selain itu, peserta juga diajak mengembangkan konsep Silaturahim kepada Middle Up sebagai strategi membangun jaringan, memperluas kolaborasi, membuka peluang pasar, serta memperkuat dakwah melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Program Dokter Tanaman turut menjadi agenda penting yang didorong dalam workshop. Setiap wilayah diharapkan memiliki kader pendamping pertanian organik yang mampu memberikan edukasi, pendampingan, dan solusi bagi para petani.
Workshop ditutup dengan komitmen bersama untuk membangun yayasan yang memiliki tiga kekuatan utama, yaitu:
- Kekuatan ukhuwah melalui silaturahim yang semakin luas.
- Kekuatan ilmu melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas kader.
- Kekuatan ekonomi melalui Integrated Farming, Wakaf Nabung Ayam, dan berbagai usaha produktif yang halal serta bermanfaat.
Tepat pukul 16.15 WIB, usai seluruh rangkaian workshop berakhir, Pembina PPR BG Farm Dr. Carto Nuryanto bersama Dr. Sukresna, S.H., M.Hum. memberikan dukungan dan motivasi kepada seluruh peserta. Suasana penuh keakraban terlihat saat seluruh peserta diajak berfoto bersama sebagai simbol semangat kebersamaan dan komitmen membangun ketahanan pangan.
Dalam pesannya, Dr. Carto Nuryanto mengajak seluruh peserta agar tetap istiqamah menjalankan program-program pemberdayaan yang telah dirintis.
“Tetap semangat. Program Tadabur Alam dan Wakaf Nabung Ayam akan terus kita dukung bersama demi lahirnya yayasan-yayasan yang mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kabar menggembirakan bahwa pembangunan Mushola Baitul Jannah di kawasan Kebun PPR BG Farm sebagai pusat Ngaji Tani akan segera diwujudkan.
“Insya Allah tidak lama lagi Mushola Baitul Jannah di Kebun PPR BG Farm, tempat Ngaji Tani, akan segera berdiri. Semoga menjadi pusat ibadah, pembelajaran, dan lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, serta mencintai pertanian,” tambahnya penuh semangat.
Dengan semangat kolaborasi lintas daerah, para peserta optimistis bahwa gerakan pertanian terpadu yang dipadukan dengan Program Wakaf Nabung Ayam akan menjadi jalan menuju yayasan yang lebih mandiri, tangguh, serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Dari silaturahim lahir sinergi, dari sinergi lahir keberkahan. Dari pertanian terpadu lahir kemandirian, dan dari kemandirian lahir kemaslahatan umat.”
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.








