Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Sebuah bangsa tidak pernah benar-benar runtuh ketika kehilangan kekayaan alamnya. Sebuah bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika kehilangan ingatan tentang siapa dirinya. Ketika akar nilai, sejarah, dan kebijaksanaan leluhurnya tercerabut, sebuah bangsa mungkin masih memiliki wilayah, pemerintahan, konstitusi, dan bendera, tetapi sesungguhnya telah kehilangan ruhnya sebagai sebuah peradaban. Itulah kegelisahan yang sedang dihadapi Indonesia hari ini. Kita bukan sekadar mengalami krisis ekonomi, politik, atau hukum, melainkan krisis jati diri. Kita semakin fasih berbicara tentang pertumbuhan, investasi, dan globalisasi, tetapi semakin asing terhadap makna kehidupan berbangsa. Kita semakin bangga menjadi bagian dari arus dunia, tetapi semakin lupa bahwa Nusantara pernah melahirkan peradaban yang dihormati karena kebijaksanaan, harmoni, dan kemanusiaannya…
…Karena itu, Indonesia tidak membutuhkan bangsa yang kehilangan jati dirinya demi menjadi tiruan peradaban lain. Indonesia membutuhkan keberanian untuk kembali kepada akar kebangsaannya sendiri, menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila, gotong royong, serta kebijaksanaan Nusantara sebagai fondasi membangun masa depan. Kemerdekaan yang sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan politik, tetapi juga terbebas dari penjajahan cara berpikir. Sebab ketika sebuah bangsa kembali mengenali jati dirinya, ia akan menemukan kembali ruh peradabannya. Dari sanalah Indonesia dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan mampu mewariskan peradaban yang luhur kepada generasi yang akan datang.
Penulis: Budi Prasetyo Hadi








