Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Rupiah tertekan. IHSG melemah. PHK meluas. Pengangguran naik. Kemiskinan ikut terdorong. Daya beli melemah. Kriminalitas mulai menjadi alarm sosial.
Kenaikan dolar bukan hanya urusan pasar uang. Efeknya masuk ke dapur rakyat. Bahan baku naik, biaya produksi naik, harga barang naik, lalu daya beli jatuh. Saat pembeli berkurang, produksi menurun. Perusahaan memangkas biaya. Ujungnya, PHK.
Masalah ini tidak berdiri sendiri. Ada warisan kebijakan masa lalu, tekanan global, ancaman krisis energi, dan performa kebijakan pemerintah saat ini yang belum cukup kuat menjawab tekanan ekonomi.
Di saat yang sama, kepercayaan publik ikut terkikis oleh isu korupsi di Badan Gizi Nasional, kecurigaan terhadap Koperasi Merah Putih, pemangkasan Transfer ke Daerah, serta pola kekuasaan yang dinilai terlalu kolegial.
Dalam situasi seperti ini, Presiden Prabowo tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi. Ia juga berada dalam kepungan politik.
Ada empat kekuatan besar yang punya kepentingan jika Prabowo tidak maju lagi pada 2029.
Pertama, Jokowi dan jaringan politiknya. Kekuatan ini masih punya basis massa, akses kekuasaan, dan pengaruh di berbagai lapisan elite.
Kedua, Megawati dan PDIP. Sebagai partai besar dengan kursi kuat di DPR, PDIP tetap menjadi pemain utama dalam peta politik nasional.
Ketiga, SBY, AHY, dan Partai Demokrat. Ambisi politik keluarga Cikeas belum selesai. Jalan menuju kontestasi nasional tetap terbuka.
Keempat, Anies Baswedan. Ia telah tumbuh sebagai simbol oposisi paling kuat terhadap Prabowo, dengan dukungan massa yang solid dan militan.
Empat kekuatan ini punya satu irisan kepentingan, yaitu membuka ruang kompetisi pada 2029. Selama Prabowo tetap menjadi pusat kekuasaan, ruang gerak mereka terbatas.
Namun kunci utama tetap ada di tangan Prabowo sendiri. Bukan sekadar manuver politik. Bukan sekadar koalisi gemuk.
Kuncinya ekonomi.
Jika rupiah menguat, IHSG pulih, lapangan kerja terbuka, daya beli rakyat naik, dan pertumbuhan ekonomi membaik, maka dukungan publik kepada Prabowo akan mengeras. Lawan politik akan kehilangan amunisi.
Tetapi jika ekonomi terus memburuk, PHK makin dalam, harga makin mencekik, dan kepercayaan publik terus jatuh, maka tekanan politik bisa berubah menjadi badai besar.
Nasib politik Prabowo akan ditentukan oleh satu hal sederhana, apakah pemerintah mampu membuat rakyat merasa aman secara ekonomi.
Jika gagal, 2029 bisa terlalu jauh untuk dibicarakan.








