Oleh: Firman Syah Ali
Surabaya. Jelajahpenanews. COM – Empat puluh delapan hari menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU mulai menunjukkan arah yang lebih jelas. Dari belasan nama yang selama ini beredar dalam berbagai diskusi para pengamat, pemerhati, maupun influencer NU, kini konfigurasi politik perlahan mengerucut pada lima figur yang dinilai memiliki peluang paling besar.
Berdasarkan informasi yang penulis peroleh, beberapa nama yang sebelumnya sempat disebut sebagai kandidat mulai melakukan konvergensi politik dengan memberikan dukungan kepada kandidat lain. Fenomena seperti ini merupakan hal yang lazim dalam setiap kontestasi politik dan dikenal sebagai bandwagon effect, yakni kecenderungan menguatnya dukungan kepada figur yang dipandang memiliki peluang lebih besar.
Nama pertama adalah KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Sebagai petahana, Gus Yahya telah berkali-kali menegaskan kesiapannya untuk kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Sikap politiknya disampaikan secara terbuka sehingga tidak lagi menyisakan ruang spekulasi. Modal utama yang dimilikinya antara lain posisi sebagai petahana, latar belakang keluarga pesantren yang kuat, serta kapasitas intelektual yang telah dikenal luas.
Figur kedua adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Meskipun belum menyatakan secara terbuka kesediaannya untuk maju, para pendukungnya telah menunjukkan dukungan secara terang-terangan. Selain memiliki reputasi akademik sebagai seorang profesor, beliau juga dikenal sebagai ulama dengan jaringan birokrasi Kementerian Agama yang luas di seluruh Indonesia. Latar belakang aktivisme di PMII, pengalaman kepemimpinan, serta berbagai capaian lainnya menjadi modal politik yang signifikan. Sebagian kalangan juga memandang bahwa kepemimpinan seorang profesor akan semakin memperkuat citra intelektual Nahdlatul Ulama.
Nama berikutnya adalah KH. Zulfa Musthafa. Walaupun belum secara eksplisit mendeklarasikan pencalonannya, berbagai dinamika dan langkah politik yang berkembang menunjukkan bahwa beliau termasuk figur yang diperhitungkan dalam kontestasi ini. Basis keulamaan serta latar belakang keluarga pesantren menjadi kekuatan utama yang dimilikinya.
Figur keempat adalah KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam). Berbeda dengan beberapa nama lain, Gus Salam telah menyatakan secara terbuka kesiapannya untuk maju sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU. Selain dikenal sebagai tokoh muda NU, beliau juga memiliki akar genealogis yang kuat sebagai keturunan KH. Bisyri Syansuri dari Denanyar, Jombang. Modal ketokohan, jaringan pesantren, serta garis keturunan ulama menjadi kekuatan yang menyertainya.
Sementara itu, Figur kelima adalah nama yang mulai banyak diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir adalah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa. Tanpa banyak deklarasi politik, pergerakan beliau dinilai semakin menguat dan mulai masuk ke panggung utama kontestasi. Berbekal latar belakang keluarga pesantren, kapasitas keulamaan, kedalaman tradisi tasawuf, serta prestasi akademik sebagai profesor, beliau memiliki kombinasi modal yang relatif lengkap. Pengalamannya sebagai mantan Ketua Umum PB PMII, mantan Ketua Umum PP ISNU, serta saat ini memimpin organisasi tarekat di lingkungan NU menjadikan sosoknya semakin diperhitungkan dalam dinamika menuju Muktamar.
Apakah konfigurasi politik ini masih akan berubah dalam beberapa pekan ke depan? Sangat mungkin. Politik selalu bergerak dinamis, dan setiap momentum dapat melahirkan perubahan konfigurasi maupun peta dukungan. Karena itu, hingga Muktamar benar-benar berlangsung, seluruh kemungkinan masih tetap terbuka.








