Cirebon, Jelajahpenanews.cim – 29 Juni 2026
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli bertemu dengan Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Gus Muhaimin Iskandar, di Aston Cirebon pada Minggu malam (28/06/2026).
Pertemuan tersebut membahas dinamika Nahdlatul Ulama (NU) serta upaya penguatan sinergi antara Jam’iyah NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) demi kemaslahatan umat dan Nahdliyin.
KH Imam Jazuli menilai Muhaimin Iskandar sebagai tokoh penting di lingkungan NU yang memiliki tanggung jawab historis, moral, dan ideologis terhadap keberlangsungan organisasi.
Tanggung Jawab dan Dinamika Internal
“Sebagai cicit salah satu muassis Nahdlatul Ulama, Gus Muhaimin memiliki tanggung jawab biologis sekaligus ideologis untuk menjaga arah dan masa depan NU. Karena itu, setiap langkah dan pandangan beliau selalu menjadi perhatian warga Nahdliyin dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di tubuh NU,” ujar Kiai Imjaz, sapaan akrab KH Imam Jazuli.
Dalam diskusi, keduanya sepakat untuk menghentikan “hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi” di lingkungan organisasi. “Kami sepakat bahwa hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi di lingkungan organisasi harus dihentikan. NU memiliki tugas besar dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, dan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan jemaah. Jangan sampai energi organisasi habis untuk persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan internal,” tegasnya.
Sinergi NU dan PKB
KH Imam Jazuli menekankan pentingnya hubungan sehat dan produktif antara NU dan PKB, yang lahir dari akar sejarah dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang sama.
“NU dan PKB lahir dari rahim perjuangan yang sama. Karena itu, hubungan keduanya harus ditata kembali secara dinamis, harmonis, dan sinergis. Yang diperlukan bukan saling menguasai atau mengkooptasi, melainkan saling menguatkan sesuai peran dan fungsi masing-masing,” katanya.
Pembagian peran yang jelas dianggap penting untuk menjaga marwah dan efektivitas perjuangan kedua institusi. “NU harus fokus pada penguatan sosial, pendidikan, dakwah, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara PKB menjalankan peran politik kebangsaan melalui jalur demokrasi dan kebijakan publik. Ketika masing-masing berjalan sesuai khittah dan tugasnya, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” imbuhnya.
Visi dan Apresiasi
KH Imam Jazuli mengaku optimis dengan visi Gus Muhaimin Iskandar untuk membangkitkan kapasitas dan kemandirian warga Nahdliyin.
“Saya melihat Gus Muhaimin memiliki semangat yang sangat besar dan visi yang kuat untuk membangkitkan Nahdliyin agar lebih maju dan berdaya di berbagai bidang. Semangat itu tidak hanya sekadar gagasan, tetapi juga diwujudkan secara konkret dan bertahap melalui berbagai kebijakan, regulasi, program pemberdayaan, dan penguatan aspirasi warga Nahdliyin melalui jalur politik kebangsaan,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi NU dan PKB mengedepankan kepentingan umat.
“Yang terpenting adalah bagaimana seluruh energi yang dimiliki NU dan PKB diarahkan untuk kemaslahatan umat, memperkuat pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kesejahteraan warga Nahdliyin. Di situlah esensi perjuangan yang harus terus dijaga bersama,” pungkasnya. Sementara itu, Muhaimin Iskandar mengapresiasi KH Imam Jazuli sebagai kiai transformatif yang memadukan keilmuan Islam dengan tantangan zaman. “Konsep transformasi pendidikan pesantren inisiasi Kiai Imam Jazuli merupakan contoh nyata bagaimana pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi keislaman yang kuat, dan ini harus jadi percontohan untuk pengembangan pendidikan di PBNU,” ujar Cak Imin.
Menko PM kabinet Prabowo-Gibran ini menambahkan apresiasinya.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kiai Imam Jazuli. Beliau adalah sosok yang memiliki gagasan konsisten dan jauh melampaui zamannya. Ketika banyak lembaga pendidikan di NU masih berfokus pada pola-pola konvensional, beliau sudah memikirkan, merancang dan menggerakkan transformasi pendidikan di pesantren yang mampu menyiapkan generasi masa depan,” lanjutnya.
Simbolis Pertemuan
Pertemuan tersebut diakhiri dengan penyerahan Keris kerajaan Mataram abad ke-16 dan kiswah Ka’bah dari KH Imam Jazuli kepada Muhaimin Iskandar. Keris tersebut memiliki gagang dari batu giok berukir pewayangan Bina Insan Mulia (BIMA) dan disebut sebagai pusaka BIMA yang pernah digunakan raja Mataram, diyakini cocok dipegang oleh orang yang bercita-cita memimpin Nusantara.








