Jakarta. Jelajahpenanews. COM – Erna Djajadiningrat merupakan salah satu tokoh perempuan yang memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Lahir di Serang, Banten, pada 4 Maret 1911, ia berasal dari keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah Achmad Djajadiningrat, seorang birokrat dan tokoh nasional yang dikenal luas pada masanya.
Meski lahir dalam lingkungan aristokrat, Erna tidak memilih hidup dalam kenyamanan. Sejak muda, ia justru menunjukkan kepedulian yang besar terhadap rakyat kecil. Pendidikan yang ditempuhnya di Europeesche Lagere School (ELS), Hoogere Burger School (HBS), hingga Middelbare Huishoud School membentuk dirinya menjadi perempuan terdidik dengan wawasan luas, nasionalisme yang kuat, serta semangat pengabdian kepada bangsa.
Atas dorongan ayahnya, Erna mengabdikan diri sebagai guru di Van Deventer School di Surakarta. Namun pengabdiannya tidak berhenti di ruang kelas. Di berbagai daerah di Pulau Jawa tempat ia bertugas, Erna aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan masyarakat, serta pelestarian budaya Sunda. Baginya, mencerdaskan rakyat adalah bagian dari perjuangan membangun bangsa.
Ketika Revolusi Kemerdekaan berkobar pada tahun 1945, Erna tampil di garis depan perjuangan sipil. Bersama Maria Ulfah Santoso dan Suwarni Pringgodigdo, ia mendirikan organisasi WANI (Wanita Indonesia) di Jakarta. Nama “WANI” dipilih karena dalam bahasa Sunda dan Jawa berarti “berani”—sebuah cerminan karakter para pendirinya.
Melalui WANI, Erna mengorganisasi dapur umum yang menjadi urat nadi logistik perjuangan. Dari markas sederhana di Jakarta, ribuan paket makanan, pakaian, obat-obatan, rokok, kopi, gula, dan kebutuhan lainnya dikirimkan secara rahasia ke para pejuang yang bertempur di garis depan. Dapur umum tersebut setiap hari melayani ratusan anggota Badan Keamanan Rakyat, polisi, dan pegawai kereta api yang terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Keberanian Erna begitu menonjol hingga tentara Jepang menjulukinya “Si Nona Keras Kepala”. Julukan itu bukan tanpa alasan. Ketika markasnya ditembaki pasukan NICA Belanda, Erna tetap tenang dan melanjutkan pekerjaannya. Saat diperiksa oleh pihak Belanda mengenai aktivitas WANI, ia dengan cerdik menjelaskan bahwa organisasinya hanya membantu rakyat yang membutuhkan makanan, sementara dukungan logistik kepada pejuang tetap berjalan secara diam-diam.
Ketika Belanda akhirnya melarang WANI, Erna tidak menyerah. Ia segera membentuk organisasi baru bernama Panitia Sosial Korban Politik (PSKP). Melalui organisasi inilah bantuan kepada para pejuang terus mengalir. PSKP juga aktif memperjuangkan pembebasan tahanan politik Indonesia yang ditahan Belanda.
Salah satu tokoh yang berhasil dibantu pembebasannya adalah sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Dalam catatannya, Pramoedya menyebut bahwa dirinya dibebaskan oleh Panitia Korban Politik yang dipimpin Erna Djajadiningrat, sebuah pengakuan yang menunjukkan besarnya peran Erna dalam perjuangan kemerdekaan.
Atas jasa-jasanya yang luar biasa, pada 5 Oktober 1949 di Markas Divisi Siliwangi, Bandung, Erna Djajadiningrat dianugerahi Bintang Gerilya. Ia tercatat sebagai perempuan pertama di Indonesia yang menerima penghargaan Bintang Gerilya, sebuah penghormatan tinggi bagi mereka yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada 27 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia berlangsung di Jakarta, Erna menjadi anggota delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Hamengkubuwana IX. Kehadirannya dalam momen bersejarah tersebut menjadi simbol pengakuan atas peran penting perempuan dalam perjuangan bangsa.
Setelah kemerdekaan, Erna tetap mengabdikan hidupnya bagi pendidikan dan pembangunan masyarakat. Ia pernah menjadi anggota DPRDS Jawa Barat, penilik sekolah-sekolah rumah tangga di seluruh Indonesia, serta Kepala Urusan Pendidikan Wanita pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Erna Djajadiningrat wafat di Jakarta pada 8 November 1984 dalam usia 73 tahun. Namun jejak perjuangannya tetap hidup sebagai teladan keberanian, kecerdasan, dan pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa. Ia membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan di medan perang, tetapi juga melalui keteguhan hati seorang perempuan yang berani menantang penjajah demi tegaknya Republik Indonesia.








