Jakarta. Jelajahpenanews. Com – Kita patut mengapresiasi sekawan kita dan kaum buruh sudah bersungguh hati menyeret penguasa meresmikan Patung Marsinah sebagai sosok yang di hargai menjadi Pahlawan Nasional. Prabowo sebagai Presiden telah mewujudkan mimpi banyak orang khususnya Kaum Buruh dan Aktivis yang melawan terhadap kesewenang wenangan penguasa kala itu terhadap kaum tertindas, dan hingga hari ini Buruh, Aktivis Dan mahasiswa masih terus berjuang mengawal mimpi atas “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang diperjuangkan sang Pahlawan Marsinah. Al Fatiha untuk beliau.
Narasi Marsinah adalah satu diantara anak bangsa yang menjadi korban dari watak kemunafikan dan kepengecutan “kita” sebagai bangsa.
Ada entitas yang hilang atau mungking kita memang tidak memilikinya secara utuh, yakni “keberanian total” untuk jujur bersikap membela kebenaran.
Sebagai bangsa kita mengalami ratusan tahun hidup terjajah oleh bangsa asing, setelah meraih kemerdekaan itu, sekarang kembali di jajah oleh bangsa sendiri. Akibatnya kita masih melihat sebagian besar rakyat kita hidup tertindas belum merdeka dalam kesejahteraan di tengah loh jinawi kekayaan alam yang maha dahsyat.
Pertanyaannya, mengapa itu bisa demikian? Dis orientasi watak kehidupan sosial yang merambat kepada kehidupan bernegara oleh yang diserahi tanggung jawab mengurus negara, berlangsung secara TSM (Terstruktur, Sistemik dan Massive).
Kemunafikan dan kepengecutan karena hilangnya Keberanian sejati sepertinya sudah menjadi watak dari kultur bangsa seperti yang di ulas sejak lama oleh Muchtar Lubis, yakni Menjamurnya watak “kemunafikan” yang oleh sebagian besar di amini suku bangsa di negeri ini, terlihat kasar sebagai pengecut sejati.
Mati membela harga diri menjadi tidak penting! Maka, Kompromi menjadi alat utama mengakali kehidupan demi bisa sekedar hidup sekalipun menderita terjajah berjamah. Kenapa menjamur watak “kemunafikan” itu? Karena “keberanian untuk “berubah” sudah lama hilang.
Penjajahan sekian ratus tahun di P Jawa telah memperdalam watak “kemunafikan” itu ditambah feodalisme yang sistematis yang telah lama mengakar dlm kultur kehidupan sehari hari. Pamali alias takut kualat dan sopan santun kpd kelas atas sebagai dasar utama feodalisme, menjadi ke-utama-an sekalipun banyak mengabaikan pondasi moral untuk berani berkata benar.
“Keberanian melawan” atas penindasan akhirnya menjadi sumir dan bisa di kompromi kan. Pilihan untuk menjadi munafik demi zona nyaman sesaat menjadi pilihan utama. Ketimbang, Mewujudkan “keberanian” untuk “melawan” demi kebenaran itu sendiri dan kebaikan bersama, tidak menjadi pilihan prioritas orang perorang.
Mungkin itulah yg di kuatirkan Sukarno bahwa bangsa ini secara mayoritas akan tetap terjajah sekalipun sudah merdeka. Dialektika Tan Malaka dalam Madilog nya belum tuntas bersemai. Keritik Muhtar Lubis atas bangsa munafik masih tetap menjadi faktual hingga hari ini. Dan teriakan keras Rocky Gerung soal “bangsa dungu” Tetap menjadi head line.
Tidak heranlah jika sebutan bangsa “tergoblok” oleh hasil survey dua lembaga internasional melekat sebagai predikat bangsa kita. Bahwa Berjamaah merugikan diri sendiri dan orang lain tanpa sadar berlangsung terus sebab hilangnya watak keberanian oleh rasa takut berkata dan berlaku benar.
Keberanian hanya menjelma untuk menyelamatkan diri sendiri sekalipun jangka panjang rugi besar.
Akhirnya Mimpi 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional, jika ingin berubah maka, Melawan-lah! Katakan itu benar sekali-pun itu pahit!
PN Mimpi 20 Mei 2026








