“Anak saya pulang dari pondok dengan mata kosong”.

Red JPN

Pati. Jelajahpenanews. Com – Saya adalah ibu dari salah satu anak korban Ponpes Ndholo Kusumo, Pati.

Dia yang dulu cerewet, suka ketawa, suka cerita tentang teman-temannya…

Sekarang duduk di sudut kamar, diam. Seharian. Kadang saya panggil namanya, dia noleh, tapi matanya kayak nggak ada di situ.

Saya nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi saya harus cerita ini….

Saya nitipkan anak saya ke Ponpes Ndholo Kusumo karena saya percaya.

Percaya sama lembaganya. Percaya sama “kiainya”. Percaya bahwa di sana anak saya akan belajar Quran, belajar adab, tumbuh jadi anak yang baik.

Saya orang tua biasa. Kerja keras buat bayar pondok. Karena saya pikir itu investasi terbaik untuk masa depan dia.

Ternyata… kepercayaan itu dikhianati dengan cara yang paling kejam. 💔

Waktu pertama kali anak saya cerita, saya nangis di kamar mandi berjam-jam supaya dia nggak dengar.
Saya nggak mau dia lihat saya hancur. Karena waktu itu dia yang butuh dikuatkan. Bukan saya.

Tapi dalam hati saya teriak: “Kok bisa? Di tempat yang harusnya paling suci, paling aman, paling terjaga… kok bisa? “Sampai sekarang pertanyaan itu masih ada. Dan sakitnya nggak hilang.

Yang bikin saya makin sesak — pelakunya kabur.
Setelah ditetapkan tersangka, dia menghilang. Dua kali mangkir dari panggilan polisi. Dua kali.

Sementara anak-anak korbannya… anak-anak yang harusnya masih fokus belajar… harus menanggung trauma ini tiap hari. Tiap malam. Tiap kali mereka sendirian.
Adil? Nggak ada yang adil dari cerita ini.

Tapi hari ini saya mau bilang terima kasih.
Terima kasih Polresta Pati, terima kasih Polda Jawa Tengah — yang akhirnya berhasil menangkap pelaku di Wonogiri. Dia kabur, tapi kalian kejar.

Kalian nggak diam. Kalian nggak biarkan dia hilang begitu saja.

Dari seorang ibu yang hampir kehilangan harapan — terima kasih sudah berjuang untuk anak-anak kami. 🙏🫶

Sekarang anak saya di rumah.

Tapi dia bukan anak yang sama seperti waktu saya antar ke pondok dulu. Yang itu… kayak ikut hilang.

Dia pendiem sekarang. Kalau makan nggak banyak bicara. Kalau malam kadang saya dengar dia nangis pelan di kasurnya. Dan saya nggak tahu harus bilang apa.

Saya pelukin dia. Saya bilang, “Ini bukan salah kamu.” Berkali-kali. Tapi entah masuk atau nggak ke hatinya.

Saya butuh bantuan.
Buat bapak ibu, atau siapapun yang pernah mendampingi anak yang punya pengalaman seperti ini — apa yang kalian lakukan?

Bagaimana cara bantu anak pulih tanpa salah langkah? Apakah harus ke psikolog? Bagaimana caranya agar anak mau buka diri lagi?

Apakah ada komunitas yang bisa support kami?
Saya ibu biasa. Saya nggak tau banyak soal trauma. Tapi saya mau belajar demi anak saya. 🤍

Saya share ini bukan buat cari simpati.

Saya share ini karena mungkin ada orang tua lain di luar sana yang anaknya juga ada di sana. Yang juga bingung, takut, dan nggak tau harus ke mana.

Kita nggak sendirian.
Dan buat semua korban di manapun kalian — kalian nggak salah. Kalian nggak harus malu. Suara kalian berharga. 🕊️

Sumber : sifalestarii3 (threads).

#localcommunity

🔥🔥🔥📢🫣✍️🇮🇩✊😡

Bagikan