SELAT HORMUZ BERBICARA: KETIKA DUNIA MEMILIH JALANNYA SENDIRI

Red JPN

IRAN. JELAJAHPENANEWS. COM – Di ujung Teluk Persia, di mana angin laut membawa aroma minyak dan sejarah,
ada sebuah selat sempit yang menyimpan kekuatan sebesar samudra.

Selat Hormuz.

Bukan sekadar perairan.
Ia adalah nafas dunia , di mana sepertiga pasokan energi bumi melintas setiap harinya. Siapa yang menguasai napas itu, memegang nadi peradaban modern.
Dan hari ini, Iran berbicara , bukan dengan senjata, bukan dengan ancaman ,
melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih tajam:

Kebijaksanaan diplomatik yang mengubah peta dunia.

Spanyol , negara Uni Eropa pertama , kini mendapat izin suci melintas bebas.
Kapal-kapal komersialnya, bahan bakarnya, kehidupan ekonominya
dipersilakan lewat tanpa hambatan.

Ini bukan sekadar keputusan logistik.
Ini adalah pesan keras kepada Brussels dan Washington:
“Dunia tidak berputar hanya pada satu sumbu.”
Sementara China, Rusia, India, Irak, Pakistan, Malaysia, Thailand
mereka sudah lama memahami bahasa ini.
Bahasa kedaulatan, bahasa kepentingan nasional,
bahasa yang tidak perlu meminta restu dari Barat untuk dituturkan.

🇮🇩 LALU, DI MANA INDONESIA…?
Di seberang samudra, sebuah bangsa besar sedang diam.
Indonesia , negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia,
negara kepulauan yang menguasai dua selat strategis dunia sendiri
Malaka dan Sunda
seharusnya bukan penonton di panggung ini.

Hubungan Indonesia dan Iran bukan sesuatu yang lahir kemarin.
Ia dirajut sejak revolusi 1979, diperkuat melalui konferensi-konferensi Non-Blok,
dipererat oleh kesamaan nasib sebagai bangsa yang pernah diinjak kolonialisme,
dan diikat oleh keyakinan bahwa imperialisme dalam bentuk apapun harus dilawan.

Iran tidak lupa siapa Indonesia.
Iran ingat bahwa Indonesia adalah suara lantang Selatan Global.
Iran ingat bahwa Bung Karno pernah berdiri tegak di Bandung,
memimpin bangsa-bangsa yang menolak tunduk.
Tapi apakah Indonesia masih ingat dirinya sendiri?

AMANAT KONSTITUSI YANG TERLUPAKAN
Pembukaan UUD 1945 tidak berbisik , ia berteriak:
“…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Ini bukan slogan kampanye.

Ini adalah sumpah generasi pendiri bangsa
yang mereka tulis dengan tangan gemetar setelah bertahun-tahun berjuang.
Maka ketika dunia sedang dibelah menjadi dua
antara mereka yang memilih KEBERANIAN dan mereka yang memilih KENYAMANAN
Indonesia tidak punya hak untuk berdiri di tepi sambil bertepuk tangan.
Indonesia dipanggil oleh sejarahnya sendiri.

KITA… menyaksikan pergeseran kekuatan global selama bertahun-tahun,
saya tidak meminta Indonesia menjadi pro-Iran secara membabi buta.
Saya meminta sesuatu yang lebih mulia dari itu:

Jadilah Indonesia yang sejati.

Negara yang tidak bisa dibeli dengan dolar sanksi,
tidak bisa diancam dengan embargo opini,
tidak bisa dibungkam dengan tekanan hegemoni.

Jika Spanyol saja bagian dari NATO, bagian dari Uni Eropa
memilih membuka dialog dan mendapat kebebasan melintas,
mengapa Indonesia masih ragu untuk berbicara lebih lantang
demi kepentingan rakyatnya dan ketertiban dunia yang adil?

Selat Hormuz mengalir terus.
Kapal-kapal melintas.
Sejarah mencatat siapa yang berani.
Dan Indonesia ” Insya Allah ” akan segera menemukan suaranya kembali.

Wallahu a’lam bisshawab
@Lantunanhati30 | Suara hati | Untuk keadilan

IranUS #KeadilanDunia #UUD45 #NonBlok #SelisihSuara

SelatHormuz #Iran #Spanyol #Indonesia #GeopolitikGlobal #UUD1945 #KemerdekaanBangsa #IranUS #MojtabaKhamenei #SelisihDunia #Lantunanhati30 #PengamatPerang #NonBlok #KeadilanSosial #BreakingNewsUSA

Bagikan